Dialektik.id, TANJUNG SELOR – Kedatangan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Bapak Prof. Dr. Ir. Dadan Hindayana, ke Kalimantan Utara (Kaltara) memantik reaksi keras dari aktivis mahasiswa. Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kaltara, Muh. Nur Arisan, mengingatkan dengan tegas agar kunjungan dalam rangka peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Nunukan, Sebatik, dan Tanjung Karang pada 22 Januari 2026 ini tidak hanya terjebak dalam agenda seremonial belaka.
Sorotan utama yang dibawa PMII Kaltara adalah mengenai jaminan keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Belajar dari beberapa kasus keracunan makanan yang terjadi baru-baru ini di berbagai wilayah, Nur Arisan menekankan bahwa Dadan Hindayana beserta jajarannya harus memberikan atensi ekstra pada aspek higienitas dan standarisasi dapur umum di wilayah Kaltara.
”Selamat datang Pak Dadan Hindayana di Kaltara. Namun kami tegaskan, kehadiran Anda jangan sampai hanya sekadar seremonial potong pita atau foto bersama. Ada masalah nyata yang harus diantisipasi. Jangan sampai program yang diklaim sebagai ‘Makan Bergizi’ justru berakhir menjadi ‘Makanan Beracun’ bagi adik-adik kami di sekolah,” ujar Muh. Nur Arisan dalam keterangannya, Rabu (21/01).
Menurut Arisan, kasus keracunan yang muncul belakangan ini telah menciptakan kekhawatiran di tengah masyarakat. Ia mendesak Kepala BGN untuk melakukan pengawasan ketat terhadap vendor penyedia makanan dan memastikan rantai distribusi di Kaltara aman dari risiko kontaminasi, mengingat tantangan geografis daerah yang cukup berat.
”Kami tidak ingin program ini menjadi polemik baru di masyarakat Kaltara. Jika sistem pengawasan di bawah komando Pak Dadan lemah, maka kesehatan anak-anak kita yang menjadi taruhannya. BGN harus punya SOP yang jelas dan berani menindak tegas pihak manapun yang lalai dalam menjaga standar gizi dan keamanan pangan,” tambahnya.
PKC PMII Kaltara menyatakan komitmennya untuk menjadi garda terdepan dalam mengawal program ini. Nur Arisan berharap kedatangan Dadan Hindayana membawa kebijakan konkret yang aplikatif untuk daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), bukan sekadar janji manis di atas meja.
”Jangan biarkan polemik keracunan makanan ini menghantui masyarakat. Pastikan makanan yang diberikan benar-benar sehat, bersih, dan bergizi. Kami akan kawal kebijakan BGN ini sampai ke tingkat bawah,” tutup Arisan. (Red/dial/odn)
