Berita

Statement Gubernur se-Kalimantan Soal Karhutla, Gubernur Kaltara Satu-satunya yang Dinilai Waras

8

Dialektik.id,Tanjung Selor – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan acap menjadi ujian berat oleh para kepala daerah. Saat publik kerapkali menyoroti pernyataan para pejabat daerah yang terkesan mengelak atau memberi blunder statement saat dikonfirmasi mengenai kondisi asap dan Karhutla di wilayah masing-masing, sikap Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H., M.Hum., justru paling menjadi magnet perhatian.

Di tengah banyaknya dan aneka hujatan yang dialamatkan ke seluruh kepala daerah se-Kalimantan yang menyoalkan Karhutla, Gubernur Kaltara justru banjir pujian. Berbeda halnya Gubernur di Kalimantan lainnya yang dibanjiri makian.

Tak hanya soal Karhutla yang tak kunjung padam, penanganan Karhutla dan blunder statement oleh sejumlah kepala daerah juga turut menyatu membakar kecewa dan amarah publik. Hujatan ekstrim dari banyak akun media sosial dan komentatornya lebih sulit dipadamkan daripada Karhutla.

Tsunami hujatan tak menenggelamkan, melainkan mengapung dan mengepung kolom-kolom komentar di akun-akun media sosial.

Namun ada yang menarik di tengah nyala Karhutla, statement Gubernur Kaltara lebih menyala, sebab dari semua Gubernur se-Kalimantan, statement Gubernur Kaltara yang paling menyala.

Respons Zainal dinilai publik dan sejumlah pengamat sebagai salah satu tanggapan yang terukur, realistis, dan berfokus pada solusi ketimbang bersilat kata.

Pernyataan Zainal bahwa keterbatasan alat pemadam bukan alasan untuk diam dinilai sebagai suatu kewajaran oleh salah satu akun TikTok, dan bahkan Ia lebih menyalahkan pemerintah pusat. Yang lebih menarik lagi, itu datang dari salah satu netizen yang mengomentari bahwa hanya Gubernur Kaltara yang waras pernyataannya.

Semisal Karhutla Selimau, Gubernur Turun Langsung dibanding memberikan janji manis. Setidaknya Zainal sudah berusaha meminimalkan dampak Karhutla meski dengan segala keterbatasan alat yang ada. Zainal memilih untuk memaparkan apa adanya, tentang kondisi sebenarnya yang dihadapi tim pemadam di lapangan. Ia secara terbuka mengakui rumitnya memadamkan Karhutla di tanah gambut Kaltara, di mana api seringkali terlihat sudah padam di permukaan, tetapi masih membara di dalam tanah.

“Di atas itu dia padam, tetapi di dalam gambutnya kita tidak bisa pantau. Memang ada yang sudah padam, tiba-tiba muncul lagi. Karena itu gambut, susah diprediksi,” ujar Zainal saat membeberkan tantangan teknis tim pemadam.

Zainal juga tidak segan mengakui keterbatasan fasilitas dan anggaran daerah seperti belum tersedianya helikopter water bombing sendiri serta mahalnya biaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, alih-alih menjadikannya alasan untuk berdiam diri, Ia menekankan pentingnya memaksimalkan seluruh potensi yang ada.

“Kalau dibilang peralatan, pasti ada kurang. Tetapi dengan kekurangan itu jangan diam. Kita gunakan alat-alat yang kita miliki saja,” tegasnya.

Sikap tidak berbelit-belit ini dibuktikan dengan instruksi tegas agar setiap laporan titik api langsung direspons cepat tanpa menunda. Zainal sendiri kedapatan beberapakali turun langsung ke titik-titik kebakaran, seperti di kawasan Selimau dan KM 12 Desa Gunung Sari, Bulungan, untuk memantau pemadaman bersama personel gabungan TNI, Polri, dan BPBD.

Ia menegaskan bahwa keselamatan para petugas di lapangan tetap menjadi prioritas utama sembari memupuk kerja sama antar-instansi dan keterlibatan masyarakat.

Di tengah tingginya ekspektasi publik terhadap penanganan bencana di Pulau Kalimantan, pola komunikasi yang jujur dan apa adanya dari kepala daerah amat dinantikan. Karakter respons Zainal Arifin Paliwang yang berorientasi pada fakta lapangan dan penanganan konkret ketimbang narasi politis dinilai memberi arah yang lebih jelas bagi mitigasi Karhutla di Kaltara.