Adriansyah

Wiro Sableng adalah cerita silat karya tulis Bastian Tito. Cerita ini adalah cerita silat terpanjang di Indonesia, ada 185 judul dan beredar selama 39 tahun. Pengembaraan Wiro Sableng dari pulau Jawa, Madura, Bali, Cina, sampai Jepang. Cerita berseri ini menunjukkan kalau Wiro Sableng disukai banyak orang.

Wiro Sableng bukan hanya menampilkan action silat, tapi juga mengajarkan tentang falsafah kehidupan. Akhirnya Wiro Sableng bukan hanya buku cerita, tapi juga jadi film dan sinetron yang terkenal di era 80 an dan 90 an.

Bastian Tito wafat pada tahun 2006. Saat proses pemakaman, publik jadi tahu kalau Bastian Tito adalah ayah dari aktor Vino G. Bastian yang terkenal lewat film berjudul Catatan Akhir Sekolah, dan tahun 2018 ini Vino perankan tokoh Wiro Sableng karya ayahnya sendiri.

Penulis melihat banyak pelajaran hidup dalam cerita Wiro Sableng 212 yang diperankan oleh Vino G. Bastian. Pertama, filosofi 212 adalah kedua orang tua dan Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, Sinto Gendeng yang merupakan guru dari Wiro Sableng menyuruh Wiro untuk membawa kembali muridnya yang menjadi penjahat, muridnya tersebut bernama Mahesa Birawa (Diperankan Yayan Ruhiyan). Sinto Gendeng memberikan pelajaran bahwa sejahat apapun murid tapi tetap seorang guru ingin muridnya kembali baik. Wiro Sableng kemudian berangkat mencari Mahesa Birawa untuk diajak pulang ke Sinto Gendeng. Ternyata Mahesa Birawa adalah pembunuh ayah ibunya Wiro, kemudian niatnya berubah menjadi balas dendam, dan Wiro Sableng justru kalah dengan Mahesa Birawa karena kapak geni 212 tidak bisa keluar. Sinto Gendeng mengatakan, bahwa kau tidak akan bisa manunggal selama di hatimu masih ada dendam.

Ketiga, Putri Rara Murni mengajak keponakannya yang merupakan Pangeran putra mahkota Raja Kamandaka untuk blusukan. Rara Murni mengatakan, seorang calon pemimpin harus tahu bagaimana kondisi nyata rakyatnya, bukan hanya duduk di Istana.

Keempat, Raja Kamandaka dikhianati oleh adiknya sendiri yaitu Werku Alit dan Panglima Kalas Renggi. Mereka bekerja sama dengan Mahesa Birawa untuk memberontak pada Raja Kamandaka dan merebut kekuasaan. Mereka melakukan konspirasi untuk mengganti Raja dan ganti sistem dengan cara inkonstitusional. Ini menunjukkan perang saudara bisa terjadi karena ambisi harta dan tahta.

Kelima, persahabatan antara Wiro Sableng, Anggini, dan Bujang Gila Tapak Sakti terjadi karena memiliki misi yang sama untuk melawan angkara murka yang dipimpin oleh Mahesa Birawa. Ini menjukkan bahwa persaudaraan sejati terlihat ketika perang, siapa yang berada disebelah kita saat perang itulah saudara kita, walaupun baru kenal. Sekalipun saudara kandung atau seperguruan, namun apabila berpihak pada angkara murka, maka ia adalah musuh kita. Begitu juga dalam politik, menuntut kita kemana untuk berpihak,apakah berpihak pada budi luhur atau angkara murka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here