Oleh: Khairi Fuady, Mahasiswa Pascasarjana HI Universitas Paramadina

Rumpun keilmuan HI (Hubungan Internasional) mengenal mazhab pemikiran klasik yang bernama Realisme. Tokohnya ada Thomas Hobbes, Thucydides, dan Niccolo Macchiavelli. Realis memahami bahwa sifat dasar manusia adalah jahat, greedy/rakus, dan tends to conflict/cenderung berkonflik. Mereka mengenal istilah bahwa manusia adalah Homo Homini Lupus, serigala atas manusia lainnya. Realis memandang bahwa aktor utama dalam Hubungan Internasional adalah State/Negara. Dalam kacamata Thomas Hobbes, negara harus menjadi Leviathan, seekor monster laut yang cakar dan taringnya panjang, dan bisa memangsa siapa pun yang tak ikut aturan negara. Singkatnya, baik manusia maupun negara, dalam asumsi realis adalah jahat, dan dunia adalah anarki.

Dalam pembukaan Plenary Annual Meeting IMF-World Bank di Bali beberapa hari yang lalu, asumsi itu semua dipatahkan oleh Presiden Jokowi yang pidatonya menuai banyak pujian dari pemimpin dunia. Dengan cerdas dan unpredictable, Presiden Jokowi menganalogikan situasi dunia laiknya Game of Thrones, dimana Great Houses berupaya untuk memperebutkan The Iron Throne. Persaingan pengaruh antar kekuatan besar inilah yang dielaborasi Presiden Jokowi untuk menggambarkan betapa suramnya dunia yang dibangun atas semangat untuk saling melemahkan. Bahkan “Balance of Power” yang menjadi konsep utama Realis dalam mencipta perdamaian, justru dipandang tengah kehilangan konteks karena dianggap lemah dalam membangun kerjasama dan koordinasi antar negara.

Presiden Jokowi menawarkan New World Order/Tatanan Dunia Baru yang dibangun atas dasar kolaborasi dan kerjasama. Peperangan menurutnya hanya akan menyisakan penderitaan. Baik bagi yang menang maupun kalah, perang hanya akan menghasilkan dunia yang porak poranda. Presiden Jokowi menggambarkan bahwa Negara yang kuat ekonominya di atas negara-negara lain yang jatuh adalah meaningless, tak ada artinya. Tak ada guna maju dan terdepan disaat yang lain tenggelam. Sebuah provokasi positif untuk menjadikan dunia sebagai rumah bersama, yang tak pelak disambut oleh riuh puji dan tepuk tangan peserta Konferensi. Standing Ovassion.

Winter is Coming adalah sebuah mosi yang brillian. Dalam serial Game Of Throne, ia adalah slogan yang diucapkan oleh House Stark, sang kepala wilayah utara, The Warden of The North. Dalam tradisi negara 4 musim, winter adalah ancaman karena sulit diprediksi apa yang akan terjadi. Sebagai penghuni wilayah bagian utara, tentu The House Stark punya informasi lebih dulu kapan kiranya Winter akan datang. Warning inilah yang disampaikan Presiden Jokowi agar Great Houses/Great Powers di dunia tidak terlena dalam situasi yang sejatinya amat tidak berpihak kepada negara-negara periphery.

Sebaliknya, membangun sebuah tatanan dunia baru dengan menggeser paradigma lama yang konfliktual, meniscayakan kompetisi dan rivalitas, menuju tatanan dunia baru dengan semangat kerjasama dan kolaborasi. Tentu ini bukan ide baru dalam paradigma Hubungan Internasional. Tapi kekuatan narasi pidato Presiden Jokowi yang dengan unpredictable menampilkan serial Game of Thrones tadi lah yang pada akhirnya mampu membawanya pada image internasional bahwa Jokowi adalah Presiden Berkelas Dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here