Dalam diskusi rutin yang diadakan oleh Dialektik.id dan Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) yang berjudul “Islam di Persimpangan Jalan: Tragedi Yaman dan Uigur.” Sarah Hajar mengatakan bahwa tragedi Yaman lebih penting dibahas daripada kasus Uigur yang saat ramai dibahas di media sosial. Berikut penjelasannya:

Krisis Yaman adalah krisis paling parah di abad ini, sampai lebih dari 2/3 penduduk Yaman menderita, merasa kesulitan mendapatkan makanan, susah pendidikan dan kesehatan. Menjadi ganjalan ketika respon masyarakat dunia terhadap Yaman tidak sebesar terhadap konflik Uigur.

Kita dalam berbicara tentang Timur Tengah, selalu berkaitan dengan Arab spring, dimana revolusi besar yang terjadi di Timur Tengah untuk menjatuhkan rezim yang terlalu lama berkuasa, dididukung oleh ketidakstabilan ekonomi dan politik didalamnya, termasuk salah satunya mengalami hal tersebut adalah Yaman.

Negara yang paling berkuasa di Timur Tengah adalah Iran dan Saudi Arabia, dimana Saudi mengangkat ideologi Wahabi nya dan Iran mengangkat mengangkat ideologi Syiah, pada akhirnya mereka saling berebut kekuasaan, mereka saling berebut pengaruh, dan terjadilah sejenis proxy War di Yaman.

Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman dan Iran mendukung oposisi, keduanya saling memperlihatkan kekuatan militernya, didalam konflik tersebut, apalagi ditambah munculnya negara-negara produsen senjata terbesar di dunia untuk menyuplai senjata-senjata didalam konflik tersebut. Sebutkanlah Amerika Serikat dan Uni Eropa, dan data yang pernah saya baca juga disebutkan bahwa suatu perdagangan senjata Amerika terbesar itu yang terjadi dalam perang Yaman, dananya itu sekitar 60 juta US Dollar, paling besar dalam sejarah perdagangan senjata Amerika.

Dua kubu yang saling berlawanan dan sama-sama ingin berkuasa itu Saudi Arabia dan Iran, negara yang berada di belakangnya itu adalah Amerika Serikat dan Rusia. Amerika Serikat dan Rusia ingin menanamkan pengaruhnya disana, kemudian faktor ekonomi dimana negara Timur Tengah yang ada di selatan berbatasan dengan Terusan Suez, dan itu adalah jalur perdagangan minyak Arab Saudi. Amerika dan Arab Saudi ketakutan akan terjadi Revolusi yang masuk ke Arab Saudi.

Narasumber: Sarah Hajar Mahmudah (AMAN Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here