Di awal abad ke-20, Bupati Cianjur R.A.A Prawiradiredja turut serta mendirikan media massa pribumi pertama berbahasa Melayu bernama Soenda Berita.

Berdirinya Soenda Berita Pada tahun 1903 ini dilatarbelakangi ketidakpuasan Tirto Adhi Surjo, tokoh pers ketika itu. Tirto merasa tidak puas hanya menjadi penulis di surat kabar yang dimiliki orang Belanda. Ia ingin sekali ada orang pribumi yang memiliki surat kabar. Keinginan dan rencana menerbitkan surat kabar pribumi ini dia ceritakan kepada Prawiradiredja. Gayung bersambut, Prawiradiredja sangat antusias dengan rencana itu. Prawiradiredja menggelontorkan uang untuk merealisasikan penerbitan surat kabar Soenda Berita.

Hadirnya Soenda Berita yang terbit di Cianjur diharapkan sebagai media propaganda yang dapat membangkitkan nasionalisme dan perlawanan rakyat Indonesia kepada penjajah. Disebut sebagai pelopor surat kabar pribumi karena Soenda Berita dimodali, dikelola, dan diisi oleh tenaga pribumi.

Meski menjadi pelecut semangat nasionalisme rakyat Indonesia, namun eksistensi Soenda Berita tidak berlangsung lama. Menurut Profesor Doktor Nina Herlina Lubis, sejarawan Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, dalam satu kesempatan menuturkan, jika usia Sunda berita hanya bertahan 9 bulan, penyebabnya karena banyak pelanggan yang tidak membayar tagihan.

Menurut Nina Herlina Lubis, rubrikasi surat kabar Soenda Berita sangat beragam. Mulai dari soal hukum, sosial politik, hingga kecantikan. Tirto juga kerap menurunkan berita atau tulisan yang membuat gerah pemerintah kolonial. Soenda Berita setiap terbit hingga 5000 eksemplar, jumlah yang sangat besar untuk ukuran surat kabar pribumi waktu itu.

Setelah Soenda Berita tidak terbit, Bupati Prawiradiredja kembali diajak Tirto Adhi Surjo untuk menerbitkan surat kabar pribumi lainnya. Kali ini Tirto memiliki gagasan untuk menerbitkan Medan Prijaji. Berkat keuletan bernegoisasi, Tirto tak hanya sukses menggait Bupati Prawiradiredja, tetapi tokoh lainnya yakni Sultan Bacan Usman Syah juga tertarik menjadi pemodal Medan prijaji. Bupati Prawiradiredja menyumbang f 1.000 dan Sultan bacan menyumbang f 500.

Dengan modal dari Bupati Prawiradiredja dan Sultan Bacan, akhirnya Medan Prijaji pada tahun 1907 sukses terbit. Media tersebut dicetak di percetakan Kong Tjeng Bie Pancoran Betawi dengan format mingguan sederhana berukuran seperti buku atau jurnal mungil 12,5 x 19,5 cm, terbit setiap hari Jumat. Surat kabar ini menjadi media untuk mengkritik pemerintahan kolonial maupun sebagai wadah untuk melapor setiap pribumi yang diperlakukan tidak adil oleh penguasa.

Sumber
Muhammad Syafi’i Antonio, “Al-Ghazali Indonesia dari Indonesia:KH.Abdullah bin Nuh Ulama Sederhana Kelas Dunia.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here