Oleh
Dr. H. Kholilurrohman, MA*

Ketahuilah, tidak boleh dikatakan “Allah ada di setiap tempat”, (atau “ada di mana-mana”), walaupun tujuannya untuk mengungkapkan bahwa Allah mengetahui atau menguasai segala sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya.

al-Imâm al-Mutakallim Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (w 505 H) dalam bantahan atas keyakinan Jahm ibn Shafwan dan para mengikutnya; yaitu kaum Jahmiyyah, menuliskan sebagai berikut:

“ولا ترتبك في مواقع غلطه، فمنه غلط من قال: إنه في كل مكان. وكل من نسبه إلى مكان أو جهة فقد زلّ فضلّ، ورجع غاية نظره إلى التصرف في محسوسات البهائم، ولم يجاوز الأجسام وعلائقها. وأول درجات الإيمان مجاوزتها، فبه يصير الإنسان إنسانًا فضلاً عن أن يصير مؤمنًا”.

“Janganlah engkau ragu dalam banyak kesesatannya (Jahm ibn Shafwan). Di antara kesesatannya; ia mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat. Sesungguhnya orang yang menetapkan adanya tempat atau arah bagi Allah adalah orang yang sesat. Seorang yang bekeyakinan semacam itu maka yang ada di dalam pikirannya tidak lain adalah penyerupaan Allah dengan binatang-binatang yang dapat diindra. Ia dengan keyakian sesatnya tersebut tidak akan terlepas dari memikirkan benda-benda dan sifat-sifat benda belaka. Padahal tingkatan paling pertama dalam keimanan yang benar (kepada Allah) adalah melepaskan dan menjauhkan diri dari keyakinan-keyakinan indarwi. Dengan keyakinan yang benar inilah seorang manusia menjadi benar-benar manusia (yang sehat akalnya), dan tentunya yang utama darinya adalah bahwa ia menjadi seorang mukmin”[1].

Anda perhatikan tulisan al-Imâm al-Ghazali di atas, sangat jelas berisi bantahan terhadap orang berkeyakinan bahwa Allah berada di semua tempat. Dengan demikian pernyataan sebagian orang “sok tahu” yang mengatakan bahwa al-Ghazali berkeyakinan Allah berada di semua tempat adalah dusta besar atasnya. Tentang hal ini al-Imâm al-Hâfizh asy-Syaikh Abdullah al-Harari dalam beberapa tulisannya mengingatkan bahwa klaim semacam itu adalah kebohongan yang disandarkan kepada al-Ghazali, termasuk di antaranya beberapa bait sya’ir yang dianggap berasal darinya. al-Hâfizh al-Harari dalam kitab ad-Dalîl al-Qawîm menuliskan sebagai berikut:

“تنبيه: ليحذر من كلمة في أبيات منسوبة للغزالي وليست له، وهي هذا الشطر :”وهو في كلِّ النّواحي لا يَزُول” فإنها مرادفة لقول المعتزلة الله بكل مكان. قال علي الخوّاص :”لا يجوز القول إنه تعالى بكل مكان”

“Peringatan: Waspadai beberapa bait sya’ir yang dianggap berasal dari al-Ghazali, padahal itu semua bukan berasal dari tulisannya, di antaranya bait sya’ir yang mengatakan: “Wa Huwa Fî Kull an-Nawâhî La Yazûl”, (Artinya; Allah berada di semua tempat dan di semua arah, tidak akan pernah hilang). Ini adalah keyakinan sesat kaum Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat dan semua arah. Al-Imâm Ali al-Khawwash berkata: ”Tidak boleh dikatakan bahwa Allah berada di semua tempat dan semua arah”[2].

Demikian perkataan al-Imâm al-Hâfizh asy-Syaikh Abdullah al-Harari dalam karyanya; ad Dalil al Qawim ‘Ala ash Shirath al Mustaqim, kitab yang sangat bermanfaat berisi penjelasan akidah Ahlussunnah Wal Jam’ah dengan argumen-argumen naqliyyah dan ‘aqliyyah yang sangat kuat. Dengan kitab ini semua faham sesat menjadi terbantahkan, seperti faham para filosof yang mengatakan bahwa alam ini tidak memiliki permulaan (azaly), faham Mu’tazilah, faham Murji’ah, dan faham Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah duduk (bertempat) di arsy, juga mengatakan bahwa Allah memiliki anggota-anggota badan. Allah maha suci dari keyakinan mereka.

[1] al-Arba’în Fî Ushuliddîn, h. 198

[2] ad-Dalîl al-Qawîm, h. 58

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here