Dalam diskusi yang diadakan oleh Dialektik.id dan Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) yang berjudul “Islam di Persimpangan Jalan: Tragedi Yaman dan Uigur. ” Labib Syarief selaku narasumber menjelaskan sebagai berikut:

Saya akan membahas isu saya selama ini ada di Uighur, terutama akhir tahun 2018 itu muncul isu konflik identitas dalam tragedi di Uighur. Dari informasi mahasiswa kita disana, mereka menyatakan tidak demikian. Saya melihat tulisan sejumlah warga Indonesia di sana tentang fakta di Uighur, ternyata tidak terjadi apa-apa.

Ada kelompok yang ingin memisahkan diri (separatis) dari Cina, yang merupakan warga Uigur, inilah yang menjadi awal mula terjadinya konflik di Uigur. Xinjiang itu terdapat 10 suku, dan ada satu suku mayoritas yaitu suku Uighur, dan menurut pemerintah China, jumlah penduduknya sekitar 14 juta dan mayoritas Islam. Dubes China untuk Indonesia menyatakan ada 24,4 ribu masjid di Cina. Cina sendiri memiliki undang-undang Dasar yang membenarkan dan membolehkan semua agama, tidak boleh diganggu praktek ibadah semua agama, boleh menganut agama ataupun tidak beragama, harus normal, maksudnya praktek agama namun tidak melanggar konstitusi.

Selain itu lembaga pendidikan agama Islam untuk etnis Hui sendiri mendapatkan dana dari pemerintah China sekitar 3,7 miliar US Dollar. Bahkan, Cina itu melakukan pemberangkatan haji terhadap warga muslim, juga tidak ada larangan menggunakan hijab, dan larangan berjenggot. Melakukan kajian Islam di masjid dipersilakan.

Ternyata semua tulisan yang saya baca semuanya memiliki benang merah tidak terjadi apa-apa disana. Memang ada kecemburuan salah satu suku di Cina pada Uigur, cemburu terhadap etnis Uighur, karena tidak mendapatkan kebijakan satu anak, tapi tidak sampai konflik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here