Adriansyah

Tahapan pertama dalam perjalanan spiritual adalah dengan bertaubat dengan segala dosa-dosa dan kesalahan yang ada pada diri kita. Para wali setiap hari melakukan isntropeksi terhadap dirinya, instropeksi apa saja kesalahan yang dilakukan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Melakukan instropeksi pada diri lebih baik daripada berupaya untuk mengungkapkan perkara-perkara yang samar, atau mengetahui aib diri sendiri lebih baik daripada kita berusaha mengetahui aib orang lain.
Kalau kita terkena penyakit atau musibah, itu semua tidak lepas dari penebusan dosa-dosa kita. Berbeda dengan para Nabi Muhammad SAW yang terbebas dari dosa, beliau diberi sakit dan musibah adalah sebagai bentuk ujian. Maka, apabila kita terkena penyakit dan musibah, bertaubatlah kepada Allah, karena bisa jadi itu adalah balasan terhadap dosa yang pernah kita lakukan.
Orang-orang yang bertobat itu mengetahui bahwa hanya Allah satu-satunya yang menerima pertobatan yang ikhlas dan sedekah yang baik. Karunia-Nya dalam menerima tobat sungguh amat luas dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya sangat besar. Mereka mengetahui luasnya rahmat Allah dan meratanya kepemurahan-Nya. Betapa pun besar dosanya, bahkan sangat gembira dengan tobat hamba-hamba-Nya.

Surat At-Taubah Ayat 104
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?

Tidak akan ada yang terhindar dari laknat kecuali mereka yang bertobat, berbuat kebajikan, tidak lagi menyembunyikan kebenaran yang dulu ditutup-tutupinya dan meluruskan kembali ucapan-ucapan mereka yang salah tentang Rasul dan agama Islam. Jika mereka mau melakukan semua itu maka Allah akan benar-benar menerima tobat dan mengampuni dosa-dosa mereka, sebagai perwujudan sifat lemah lembut dan kasih sayang-Nya.
Praktek dalam bertobat adalah dengan memperbanyak istighfar (memohon ampun kepada Allah), adapun bacaanya astaghfirullahaladzim, dibaca berulang kali sebanyak-banyaknya. Menyesali semua dosa yang pernah dilakukan, baik sengaja atau tidak sengaja. Dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi dosa-dosa itu lagi, dan inilah yang disebut dengan tobat sejati.
Surat Al-Baqarah Ayat 160
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya: “Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orangorang yang merugi.” (QS. Al-A’râf 23).
Ayat ini adalah istighfar nabi Adam as setelah diusir dari Surga karena memakan buah khuldi. Dari teks bacaan doa tersebut, terlihat ia tidak menyalahkan Iblis yang menggoda Hawa agar mengambilkan buah khuldi, juga tidak menyalahkan Hawa. Nabi Adam as justru menyalahkan dirinya sendiri dengan mengakui kezalimanya. Bertaubat adalah sebuah jalan yang menunjukkan kerendahan diri dihadapan Allah Swt, bahwa tanpa rahmat dan ampunan Allah Swt maka kita tidak akan menjadi orang beruntungdi dunia dan akhirat.
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ مُصْعَبٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin ‘Ammar] telah menceritakan kepada kami [Al Walid bin Muslim] telah menceritakan kepada kami [Al Hakam bin Mush’ab] dari [Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas] bahwa dia menceritakan kepadanya dari [Abdullah bin ‘Abbas] dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menekuni istighfar, Allah akan menjadikan dari setiap kesedihan kelonggaran, dan dari setiap kesempitan jalan keluar dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Ketika kita mempunyai banyak masalah hidup, kesedihan, kerugian usaha, kebangkrutan, kegagalan, maka istighfar adalah solusinya. Setiap masalah akan diberikan jalan keluar dan rezeki akan dipermudah. Bahkan ada ulama yang mengatakan, istighfar adalah amalan untuk menghindari gagal panen dan ternak mati atau penyakitan. Nabi Muhammad Saw yang dosanya sudah diampuni dan peribadinya juga jauh dari dosa, tapi beliau masih beristghfar. Maka, kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw haruslah beristighfar lebih banyak lagi, karena diri kita penuh dengan dosa.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كَانَ فِي لِسَانِي ذَرَبٌ عَلَى أَهْلِي وَكَانَ لَا يَعْدُوهُمْ إِلَى غَيْرِهِمْ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيْنَ أَنْتَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ تَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً
________________________________________
Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin ‘Ayyasy] dari [Abu Ishaq] dari [Abu Al Mughirah] dari [Hudzaifah] dia berkata; “Dilidahku ada kata-kata kotor terhadap keluargaku, dan itu tidak menularkan mereka pada yang lain, lalu saya melaporkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kemana kamu dari istighfar hai Hudzaifah? Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah tujuh puluh kali dalam sehari.”(Ibnu Majah).

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَعَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ وَعَمَّارٍ وَأَبِي طَلْحَةَ وَأَنَسٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَرُوِي عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَغَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا صَلَاةُ الرَّبِّ الرَّحْمَةُ وَصَلَاةُ الْمَلَائِكَةِ الِاسْتِغْفَارُ
________________________________________
Telah mengabarkan kepada kami [Ali bin Hujr] telah mengabarkan kepada kami [Isma’il bin ja’far] dari [‘Ala’ bin Abdurrahman] dari [ayahnya] dari [Abu Hurairah] dia berkata, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang bershalawat kepadaku, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Amir bin Rabi’ah, Amar, Abu Thalhah, Anas dan Ubay bin Ka’ab. Abu Isa berkata, hadits Abu Hurairah adalah hadits hasan shahih. Telah diriwayatkan dari Sufyan At Tsauri dan yang lainnya dari ahli ilmu, mereka berkata, (maksud dari) shalawatnya Rabb (Allah) adalah rahmat, dan shalawatnya para malaikat adalah istighfar (permohonan ampunan).
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ { كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ } قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
________________________________________
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Ibnu ‘Ajlan] dari [Al Qa’qa’ bin Hakim] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] beliau bersabda: “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang diistilahkan “Ar raan” yang Allah sebutkan: kallaa bal raana ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.(QS. Almuthaffifin 14). Ia berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih (HR. Tirmizi)

Berdasarkan hadis diatas, maka seseorang yang banyak berbuat dosa akan membuat hatinya menjadi kotor. Seseorang yang malas ibadah, pendengki, iri hati, riya, sombong, berprasangka buruk, itu semua karena hatinya kotor. Perbanyak istighfar maka hati akan menjadi bersih dari kotoran, akan mengkilap seperti kaca, dan cahaya Allah akan menembus sampai ke relung hatinya. Hati yang kotor akan menjadi gelap, keras, sehingga hidayah sulit masuk ke relung hatinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here