Malamatiyah pertama kali ditulis oleh Abu Abdurahman al-Sulami pada abad ke-11. Ulama ini adalah salah satu pengikut Tarekat Malamatiyah dan sebagai salah pembelanya. Tarekat Malamatiyah berkembang pada abad ke 3 H dan juga dikenal dengan nama Tarekat Qusyariyah. Nama tersebut dinisbatkan kepada Syekh Hamdun bin Ahmad bin Amarah al-Qashar. Lewat beliau tarekat Malamatiyah ini kemudian menyebar di berbagai belahan dunia. Namun dari garis sanadnya ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Tarekat Malamatiyah disandarkan kepada Abu Hafs al-Haddad al-Malamati.

Menurut riwayat sanad Syekh Abu Hafs al-Haddad al-Malamati bersambung kepada Syaikh Syaqiq al-Balkhi dan kemudian kepada Ibrahim ibn Adhan bin Mansur bin Zaid bin Jabir bin Tsa’labah bin Ajali. Setalah itu terus bersambung kepada Hasan Basri hingga Saiyidina ‘Ali sampai Nabi Muhammad SAW.

Banyak tarekat yang ada di dunia saat ini. Salah satunya adalah Tarekat Malamatiyah. Tarekat ini berkembang pertama kali di Naisabur, Khurasan. Di Indonesia Tarekat Malamatiyah memang kurang dikenal jika dibandingkan dengan Tarekat Qodiriyah, Naqsyabahdiyah, Syadziliyah dan lain lain.

Malamatiyah pertama kali ditulis oleh Abu Abdurahman al-Sulami pada abad ke-11. Ulama ini adalah salah satu pengikut Tarekat Malamatiyah dan sebagai salah pembelanya. Tarekat Malamatiyah berkembang pada abad ke 3 H dan juga dikenal dengan nama Tarekat Qusyariyah. Nama tersebut dinisbatkan kepada Syekh Hamdun bin Ahmad bin Amarah al-Qashar. Lewat beliau tarekat Malamatiyah ini kemudian menyebar di berbagai belahan dunia. Namun dari garis sanadnya ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Tarekat Malamatiyah disandarkan kepada Abu Hafs al-Haddad al-Malamati.

Menurut riwayat sanad Syekh Abu Hafs al-Haddad al-Malamati bersambung kepada Syaikh Syaqiq al-Balkhi dan kemudian kepada Ibrahim ibn Adhan bin Mansur bin Zaid bin Jabir bin Tsa’labah bin Ajali. Setalah itu terus bersambung kepada Hasan Basri hingga Saiyidina ‘Ali sampai Nabi Muhammad SAW.

Adapun dasar-dasar tarekat Malâmatiyah Syekh Abu Hafs al-Haddad al-Malamati adalah bagai berikut:

Kaum yang mengisi waktu dengan beribadah kepada Allah SWT yang Haq;
Selalu menjaga sirrinya;
Mereka mencela diri sendiri ketika macam-macam ibadah yang dilakukan diketahui orang lain; Mereka menampakkan perbuatan-perbuatan yang jelek dan menyimpan rapat-rapat kebaikannya sehingga orang lain mencelanya karena yang mereka lihat adalah perbuatan lahir semata.

Menurut Al Hujwiri, pengikut tarekat ini akan mencela diri sendiri jika orang lain mengetahui sisi batinnya. Hal ini ada benarnya sebagaimana pendapat Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar al-Suhrawardi yang mengatakan bahwa Malamatiyah bisa diartikan dengan orang-orang yang mengharapkan hinaan dan cacian terhadap diri sendiri.

Maksudnya adalah meyakini bahwa diri tidak memiliki bagian apapun di dunia ini secara mutlak, mereka merasa tenang dan bahagia ketika dicela karena mereka berkeyakinan bahwa dirinya sangat jelek, hal ini dilakukan untuk melawan tabiat nafsu yaitu suka pamer atau riya’, cinta dunia, jabatan.

Nama tarekat ini tidak disandarkan kepada pendiri atau pengembang tarekat ini tetapi diambil dari ciri khusus penganut Malâmatiyah yaitu suka mencela diri sendiri (لوم الملامتى نفسه). Kata Malâmatiyah berasal dari kata Laum (لوم), لام-يلوْم-لوماً-و مَلاماً-و مَلامةً yang berarti mencela, mengecam dengan keras (Warson Munawir, al-Munawir: 1392). Maksudnya adalah pengikut tarekat Malâmatiyah meyakini bahwa diri tidak memiliki bagian apapun di dunia ini secara mutlaq, mereka merasa tenang dan bahagia ketika dicela karena mereka berkeyakinan bahwa dirinya sangat jelek, hal ini dilakukan untuk melawan tabiat nafsu (مخالفة النفس) yaitu suka pamer (Riya’), cinta dunia, jabatan, (al-Hujwiri, Kasyf al-Mahjûb, halaman: 259).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٥٤﴾

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui, (Qs. al-Maidah: 54).

Sifat pada `ujub muncul didorong oleh 2 hal, yaitu:

Mencari kedudukan dan pujian di hadapan manusia. Contoh; seseorang melakukan amal kebaikan untuk mendapatkan simpati manusia, lalu dia memuji diri sendiri dan melihatnya sebagai orang yang penuh kebaikan.

Suatu perbuatan seseorang untuk memperoleh simpati manusia lain lalu mereka memujinya dan orang tersebut merasa `ujub (merasa lebih baik dari yang lain).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here