Dalam rangka merealisasikan tahapan menuju Research University, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktia) Kementerian Agama Republik Indonesia berinisiatif menggelar program Tadarus Litapdimas ke-23 dengan mengangkat tema ‘Sinergisitas Pustakawan dan Dosen/ Peneliti Menuju Research University’, pada Selasa, 6 Oktober 2020. Webinar online yang dimoderatori oleh Kasi Penelitian dan Pengelolaan HKI, Dr. Mahrus, M.Ag, ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Ketua Forum WR-1 PTKIN, UIN Mataram NTB, Prof. Dr. Tuan Guru H. Masnun Thahir, M.A., Alumni Program 5000 Doktor, University of Western Australia, UIN Raden Fatah Palembang, Amalia Hasanah, Ed.D. dan Ketua APPTIS Jawa Timur dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Mufid, S.Ag., S.S., M.Hum.

Dalam pengantar diskusi, Dr. Suwendi, M.Ag selaku Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat mengatakan pustakawan di lingkungan perguruan tinggi ,memiliki posisi yang sangat strategis, terutama dalam menyiapkan dan menginventarisasi hasil riset yang dihasilkan para dosen.

“Hasil riset perlu dijadikan hak cipta, dan buku-buku hasil rsiet tersebut perlu dijadikan bahan koleksi dan referensi di perpustakaan. Kita akan mencoba secara konkrit, pola sinergisitas antara pustakawan, dosen dan para peneliti terutama guna menuju research university itu,” ujar Suwendi dalam sambutannya.

Selain itu, ia juga mengungkapkan pihaknya saat ini sedang menyusun pola-pola yang memungkinkan diberikan kepada para dosen dalam hal penyediaan sarana terutama segi pendanaan, yang nantinya akan dialokasikan untuk menyelenggarakan berbagai riset.

“Kalau ini terjadi, maka tidak hanya sekadar dana, tetapi dibutuhkan aspek keseriusan, dan kapasitas dosen-dosen kita di bidang metodologi riset, kemampuannya dalam mempublikasikan hasil risetnya,” pungkas Suwendi.

Sementara itu, Direktur PTKI Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag mengimbau para peserta webinar untuk mulai memikirkan profil dan masa depan alumni PTKI. Menurutnya, untuk mencapai Research University, maka dibutuhkan formulasi baru dan mendesain ulang kurikulum agar ke depan PTKI mencetak dosen sekaligus peneliti sebagai syarat untuk mencapai tujuan tersebut.

“Masa depan alumni harus dipikirkan oleh kampus. Mari kita mulai pikirkan profil alumni seperti apa yang akan dirumuskan, apakah baru secara konseptual ataukah sudah implementatif. Jadi ada reformulasi atau redesain kurikulum agar mereka menjadi peneliti. Kalau kita ingin menuju research university, ya alumninya sudah dirancang paling tidak menjadi peneliti pemula. Itu tergantung profile alumni dan desain kurikulumnya,” papar Suyitno.

Lebih lanjut Suyitno setuju jika ada sinergisitas antara pustakawan dan dosen atau peneliti, sebab dalam sebuah kegiatan penelitian, perpustakaan harus menjadi sarana terbaik untuk menunjang kegiatan para dosen, terutama peneliti dalam mencari sumber referensi saat melakukan riset.

“Jika dikaitkan dengan pustakawan, perpustakaan adalah tempat paling tepat bagi para peneliti kampus untuk mencari referensi sumber-sumber riset. Momentumnya sangat tepat dilakukan, selain mempublikasikan hasil riset para peneliti ini, perpustakaan juga harus bisa diakses serta tidak kalah penting yakni sumber yang dicari peneliti harus ada di perpustakaan. Jadi perpustakaan ini harus difungsikan sebagai sumber pencarian data,” terang Suyitno.

Dalam diskusi ini, Ketua APPTIS Jawa Timur dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Mufid, S.Ag., S.S., M.Hum mengatakan di masa pandemi Covid-19, peran pustakawan seolah tenggelam. Dalam temuannya, ia mengungkapkan banyak perpustakaan yang kosong tidak berjalan sesuai fungsinya. Padahal, dalam lingkungan universitas riset, perpustakaan memiliki posisi strategis dalam memfasilitasi dan mendukung tercapainya tujuan univesitas.

Menurutnya, reformasi perpustakaan dibutuhkan dengan syarat harus diiringi dengan kompetensi para pustakawan. Ia juga mengungkapkan, saat ini asosiasi perpustakaan dan pustakawan sudah mulai mengeksplorasi peran baru pustakawan riset agar menjadi bagian integral dari riset, kemudian membuat peta jalan baru tentang bagaimana menghadapi lingkungan kerja antara pustakawan dan peneliti, lalu mengembangkan strategi dan layanan penunjang riset, membuat rancangan standar perpustakaan perguruan tinggi yang mencerminkan perubahan peran perpustakaan, lalu membuat standar kompetensi perpustakaan pergruan tinggi hingga memberikan masukan kepada BAN-PT untuk memasukkan indikator mutu khususnya peran perpustakaan dalam standar mutu akreditasi institusi/ prodi.

Amalia Hasanah, Ed.D turut membenarkan bahwa perpustakaan menjadi tempat penting bagi para dosen atau peneliti, karena dosen-dosen ini dituntut harus menulis dan melakukan riset. Alumni Program 5000 Doktor, University of Western Australia, UIN Raden Fatah Palembang, ini pun menceritakan pengalamannya ketika menempuh studi di University of Western Australia.

Di UWA, Amalia mengungkapkan fasilitas jam kunjung perpustakaan cukup eksklusif bagi para mahasiswa pemegang ID card kampus tersebut. Pada hari Senin hingga Jumat, mahasiswa dapat mengunjungi perpustakaan hingga pukul 12 malam. Namun ada juga aturan tertentu pada jam kunjungan akses perpustakaan apabila ada ujian.

Hal lain yang ditemukan Amalia, yakni fasilitas memadai bagi perpustakaan kampusnya. Misalnya, keberadaan kantin, dan pengunjung diperbolehkan makan minum di dalam ruangan. Ada perangkat fasilitas komputer yang terhubung dengan kantor masing-masing. Lalu alat printer, scanner, fotocopy yang bisa dimanfaatkan mahasiswa secara gratis. Selain fasilitas fisik, ada fasilitas non fisik lainnya misalnya perangkat software untuk menunjang kegiatan sitasi mahasiswa dan para dosen.

“Ada software yang bisa diinstall secara online. Ada juga pelatihan end-note yang terjadwal tiap bulannya untuk sitasi dan pengerjaan tesisnya/ disertasi,” kata Amalia.

Menariknya, kata Amalia, mahasiswa juga boleh mengembalikan buku-buku perpustakaan yang dipinjamnya di tempat manapun, tanpa harus datang dan mengembalikan ke perpustakaan utama sumber buku tersebut didapat.

Selanjutnya, Ketua Forum WR-1 PTKIN, UIN Mataram NTB, Prof. Dr. Tuan Guru H. Masnun Thahir, M.A., memberikan input bagi keberadaan perpustakaan terutama di lingkungan PTKI, supaya perpustakaan tersebut bisa memfasilitasi para mahasiswa serta memberikan pengayaan terhadap kebutuhan data risetnya atau tugas akademik mahasiswa, dosen ataupun peneliti kampus.

Ia juga menekankan, bahwa pustakawan akademik sekarang tidak hanya menunggu atau menerima supply buku saja, akan tetapi harus memiliki inovasi dan kreativitas dalam mengakses sumber-sumber pengetahuan.

“Itu semua di era sekarang ini, di satu sisi, kita dihadapkan bagaimana menuju university research, dll. Ada pola lama, strategi lama, ditambah pengayaan dengan inovasi-inovasi baru. Blended librarian, ini mengkombinasikan pola lama dengan pola baru. Kesadaran ini diharapkan terjadi pada semua, bukan hanya pustakawan, tapi juga mahasiswa dan dosen,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here