Khalil Abou Fateh

Syekh Nawawi Al-Bantani pernah mengajar di Masjidil Haram, bahkan beliau dijuluki sebagai pemimpin ulama Hijaz. Beliau adalah ulama asal Banten yang mempunyai murid dari mancanegara, salah satu karya yang terkenal adalah Kitab Tafsir Munir.

Dalam kitab tafsirnya, beliau menuliskan bahwa Allah Swt suci dari bertempat dan berarah, sehingga wajib bagi Mukmin untuk meyakininya.

Kita tidak boleh memaknai bahwa Allah Swt bertempat atau bersemayam di arsy. Allah Swt yang menciptakan arsy, maka Allah Swt tidak bertempat pada ciptaan-Nya. Maka, kita wajib meyakini bahwa Allah Swt tidak menyerupai mahluk-Nya, tidak bertempat dan berarah, tidak bisa dibayangkan dengan akal pikiran kita.

DIA bukan benda, Maha Suci dari ukuran besar maupun kecil. Makna kata Allahuakbar bukan mengarah pada bentuk atau ukuran, tapi maknanya adalah derajat yang lebih dari segala apapun.

Syekh Nawawi Al-Bantani mengatakan bahwa iman seseorang rusak jika ia meninggalkan 4 perkataan tentang Allah Swt, adapun diantaranya: Pertama, dimana Dia? Kedua, bagaimana Dia? Ketiga, kapan ada Dia? Keempat, Berapa Dia?

Jadi, Syekh Nawawi memiliki akidah Ahlussunnah Wal Jamaah yang meyakini Allah ada tanpa tempat dan arah. Akidah ini juga meyakini bahwa Dia awal tanpa permulaan dan tidak terbayangkan oleh imajinasi manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here