Di satu sisi memang tidak ada satupun hadits shahih yang secara khusus menyatakan kesunnahan puasa Rajab. Namun di sisi lain juga tidak ada larangan secara khusus untuk berpuasa pada bulan Rajab.

Oleh karena itu, dalil-dalil umum mengenai anjuran berpuasa setahun penuh kecuali lima hari yang diharamkan, cukup dijadikan dalil atas dianjurkannya puasa Rajab.
Dalam Shahih Muslim, hadits no. 1960:
ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﺑْﻦُ ﺣَﻜِﻴﻢٍ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِﻱُّ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﺳَﻌِﻴﺪَ ﺑْﻦَ ﺟُﺒَﻴْﺮٍ ﻋَﻦْ ﺻَﻮْﻡِ ﺭَﺟَﺐٍ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻓِﻲ ﺭَﺟَﺐٍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﺑْﻦَ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﺣَﺘَّﻰ ﻧَﻘُﻮﻝَ ﻟَﺎ ﻳُﻔْﻄِﺮُ ﻭَﻳُﻔْﻄِﺮُ ﺣَﺘَّﻰ ﻧَﻘُﻮﻝَ ﻟَﺎ ﻳَﺼُﻮﻡُ

Utsman bin Hakim Al Anshari berkata: Saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab: Saya telah mendengar Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.”

An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengomentari hadits di atas dengan mengatakan: “Zhahirnya, yang dimaksud Sa’id ibn Jubair dengan pengambilan hadits ini sebagai dalil adalah bahwa tidak ada nash yang menyatakan sunnah ataupun melarang secara khusus terkait puasa Rajab. Karenanya, ia masuk dalam hukum puasa pada bulan-bulan yang lain. Tidak ada satupun hadits tsabit terkait puasa Rajab, baik anjuran maupun larangan. Akan tetapi, hukum asal puasa adalah disunnahkan. Dalam Sunan Abu Dawud bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kesunnahan puasa pada bulan-balan haram (al Asyhur al Hurum), dan Rajab adalah salah satunya. Wa Allaahu a’lam.”

Sumber : Kyai Nur Rohmad,S.Ag,M.Pd.i

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here