Pada akhir tahun 1960 an, seorang tamu Amerika Serikat di Departmen Perdagangan kagum mendengar Mentri Sumitro Djojohadikusumo (1917-2001) berbicara. Ia bertanya, “Bahasa Inggris anda sempurna. Anda pernah belajar di Amerika?” Dengan santai Sumitro menjawab,”Saya belum pernah belajar di Amerika.Saya pernah hanya mengajar disana.”

Sumitro adalah orang Indonesia pertama yang mendapatkan gelar Ph.D di bidang ekonomi dari Netherlands School of Economics. Pascakemerdekaan Indonesia, pendidikan tinggi bidang ekonomi sangatlah terbatas, hanya 10 orang yang memenuhi syarat sebagai seorang ekonom.

Sumitro adalah anak seorang pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Ia seorang mentri, pelobby, akademikus, kosmopolit, dan pemberontak. Pada tahun 1952, ia berdebat dengan Sjafrudin Prawiranegara, Gubernur Bank Indonesia pertama dan advokat pembangunan pertanian. Sumitro mengatakan, hanya pertumbuhan industri yang dapat memperkuat posisi tawar Indonesia di antara negara berkembang.

Sumitro menjabat sebagai dekan FEUI sekaligus mentri keuangan. FEUI memiliki memiliki ruang belajar memadai, sebelumnya kuliahnya di gedung kesenian, gedung PTIK, dan kadang kuliahnya di bawah pohon kampus UI.

Sumitro pada awal 1950-an mengatakan, aliran pemikiran Belanda tidak sesuai lagi dengan Indonesia. Sumitro memunculkan pendekatan baru, yaitu ekonomi pembangunan. Kata Emil Salim, Sumitro yang memperkenalkan ekonomi makro di Indonesia.

Saat hampir semua professor Belanda kembali ke negara mereka. Sumitro membangun kerjasama dengan University of California, Berkeley, untuk mendatangkan para Profesor dari Amerika Serikat. Sebagai gantinya, dikirimlah mahasiswa FEUI ke Berkeley MIT, Stanford, New York University, dan Cornell. Dari sinilah pembangunan ilmu ekonomi Indonesia.

Sumitro kemudian menjadi salah satu pimpinan pemberontak PRRI. Stigma ini menjadi sulit hilang. Dia menjadi penghubung dengan dinas rahasia Amerika Serikat, CIA, dan pengembang pemikiran ekonomi liberal.

Analisis Sumitro yang sering dikutip adalah bahwa buruknya kebijakan publik Indonesia karena Presiden Suharto mengutamakan kepentingan bisnis keluarganya di atas kepentingan umum.

Sumber: Buku Menyambut Indonesia: 50 Tahun Ford Foundation

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here