By : Nadhine Blackwhite

Tanggal 16 November ditetapkan sebagai Hari Toleransi Internasional (International Day for Tolerance). Hari Toleransi Sedunia ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1996, dengan harapan untuk memperkuat toleransi dengan meningkatkan rasa saling pengertian antar budaya dan bangsa. Maka pada hari ini lah peringatan hari internasional berkesempatan untuk mengedukasi publik tentang masalah-masalah yang menjadi perhatian juga dalam rangka memperkuat pencapaian kemanusiaan.
Nah, terkait toleransi di Indonesia, kebebasan berekspresi dan berkumpul menjadi salah satu topik problematik yang menghantui situasi demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia. Namun Isu ini merupakan isu fundamental yang rentan mendapatkan tantangan untuk ditegakkan. Dalam arti, pemerintah harus memiliki trik khusus untuk menjamin berjalannya kualitas demokrasi dengan perlindungan hak-hak fundamental yang memberikan corak atas karakter demokrasi itu sendiri, salah satunya melalui perlindungan kebebasan berkumpul. Seperti yang dikatakan oleh Hans Kelsen ketika manusia berada dalam konstruksi kemasyarakatan, maka ide “kebebasan” tidak bisa lagi dinilai secara sederhana, tidak lagi semata-mata bebas dari ikatan, namun ide “kebebasan” dianalogikan menjadi prinsip penentuan kehendak sendiri.
Adapun kecenderungan untuk hidup bermasyarakat tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pokok, akan tetapi juga menghasilkan kelengkapan hidup yang akan memberikan kepada manusia kebahagiaan, tidak saja secara material, namun juga spiritual. Salah satu kelengkapan hidup adalah timbulnya bermacam pemikiran atau ide. Ini bisa diartikan bahwa ide kebebasan dalam versi Farabi merupakan sebuah kecenderungan alami, dengan tujuan kebahagiaan hidup.
Namun sayang nya sejak hadir wabah Covid-19 di Indonesia, kebebasan berkumpul tersebut terhalang, meski bersifat sementara demi meminimalisir adanya penularan, tapi tetap saja hal tersebut berpengaruh buruk terhadap rasa toleransi antar agama, budaya dan bangsa.
Berbagai isu ekstrim mengenai toleransi dimasa pandemi ini pun dapat kita temukan, seperti hal nya kasus yang terjadi di perancis saat Presiden Perancis Emmanuel Macron melayangkan komentar pribadi terkait adanya pemenggalan seorang guru sejarah lantaran menampilkan karikatur Nabi Muhammad SAW kepada para muridnya, lalu persoalan kembali nya Habib Riziq Syihab ke Indonesia dengan segala tindakan kontroversial nya, dll.
Dalam hal ini saya rasa cukup dengan menggunakan pendekatan sosiologi dan antropologi, yang mana pendekatan sosiologis itu adalah sebuah pendekatan yang lebih mengarah pada objek, melihat orang-orang yang bersangkutan dengan objek tersebut, misalnya melihat agama Islam dengan cara melihat orang-orang sekitar, karena yang diutamakan dalam pendekatan ini adalah masalah sosial yang tengah berkembamg di masyarakat sehingga tidak hanya tahu tentang kesimpulannya saja tetapi juga tahu bagaimana memberi solusi yang tepat terhadap masalah tersebut.
Sementara yang di maksud dengan pendekatan antropologi yaitu memahami agama dengan wujud ibadah praktiknya yang berkembang di masyarakat sehingga kita bisa memahami betul bahwa ritual ibadah dan budaya di setiap daerah itu berbeda sehingga di harapkan dengan mengetahui perbedaan itu mampu menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi.
Nah, dengan adanya kedua teori tersebut, diharapkan pula dapat menjadi kolaborasi yang baik untuk menciptakan tatanan masyarakat yang bisa menerima perbedaan tanpa mempermasalahkan perbedaan tersebut, Namun di tengah pandemi seperti sekarang ini seharusnya konteks itu lebih ditekankan pada rasa toleransi terhadap sesama manusia. Fokus pada persoalan banyak masyarakat yang kesulitan dalam hal ekonomi maka diharapkan masyarakat yang lain mampu meringankan beban tersebut dengan membantu kebutuhan mereka atau Hal lain yang dapat dilakukan untuk terus memberikan edukasi tentang toleransi kepada masyarakat agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.
Seperti halnya Mempertontonkan keegoisan seseorang, serta ketidakadilan pemerintah terhadap masyarakat yang baru terjadi di Indonesia Kasus antara Ustad Maher, Habib Riziq dengan Nikita Mirzani yang sebenarnya dapat dinilai dengan orang yang awam sekalipun soal agama bahwasanya persoalan itu tak perlu diributkan dibesar-besar kan, sebab Nikita Mirzani menyebut bahwa Habib itu Tukang Obat, lalu sang ustad dan habib malah membalas ucapan nya dengan perkataan yang lebih hina, apabila Habib tersebut dapat berpikir positif, bijak, dan berakhlak mulia, maka seorang Habib seharusnya mampu membantu meredam emosi pengikut nya tersebut (Ustad Maher), bukan malah memperkeruh suasana, bicara pada publik dengan bahasa yang tak sepantas nya terucap dari seorang tokoh agama. Sebab Rasulullah pun bersabda ketika beliau mendapati hinaan dari orang-orang yahudi, “Ampunilah kaumku ya Allah! Sesungguhnya mereka (menghina/menyakitiku) karena tidak tahu.”
Bahkan seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an :
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Arab-Latin: Ud’u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau’iẓatil-ḥasanati wa jādil-hum billatī hiya aḥsan, inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bil-muhtadīn Terjemah
Arti: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Nah, dengan kedua pendekatan ini diharapkan mampu membantu mengeratkan rasa toleransi terhadap sesama manusia, juga diharapkan dapat menjawab persoalan di masyarakat tentang hal yang saat ini tengah hangat di perbincangkkan melalui pendekatan baik secara melihat objek atau ikut serta dalam praktik nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here