Pada Sabtu, 23 Mei 2021 di Jakarta, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH., Anggota DPD RI Provinsi DKI Jakarta melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR dalam rangkaian peringatan Hari Tri Suci Waisak Dewan Pengurus Daerah Provinsi DKI Jakarta Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Acara ini diselenggarakan di JIExpo Kemayoran sekaligus virtual zoom meeting serta dibuka oleh Ketua Umum DPP Walubi, Dra. Hartarti Murdaya didampingi oleh Ketua Dewan pengawas Walubi, Murdayako. Acara sosialisasi 4 pilar ini dihadiri oleh Ketua DPD Walubi Provinsi DKI Jakarta, Jandi Mukiyanto, SH, MH., beserta jajarannya, para tokoh agama, cendikiawan, dan Majelis Buddha Indonesia.
Sambutan Ketua Pelaksana sekaligus Wakil Ketua Keluarga Cendikiawan Buddha Indonesia (KCBI), Budi Harto Hasbun mengatakan dalam agama Budha terdapat ajaran Pancasila Buddhis yang menjadi pondasi dan landasan untuk meningkatkan kualitas etika,moral dan spiritual pada Budha Indonesia dan dunia. Budi juga menegaskan bahwa bila semua manusia memiliki hati kebajikan maka bencana dan semua persoalan bangsa akan mudah diatasi.
Ketua Umum DPP Walubi, Dra. Hartati Murdaya juga memaparkan sambutannya bahwa Hari Raya Tri Suci Waisak yang diselenggarakan sekali dalam setahun ini untuk mengenang 3 peristiwa bersejarah yang sangat penting bagi penganut Budha di Indonesia maupun dunia. Mahaguru Agung Sang Budha mengajarkan bagaimana melawan sang ego yang menjadi sumber penderitaan sepanjang masa. Karena sejatinya yang menjadi musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri yakni sikap ego dan hawa nafsu kita yang dapat membuat hidup menjadi tidak tentram.
Acara ini juga diapresiasi oleh perwakilan Kementrian Agama Budha Provinsi DKI Jakarta, Suwanto memaparkan Sosialisasi 4 Pilar kebangsaan ini sangat penting bagi umat Budha dan seluruh masyarakat dalam rangka berkontribusi untuk memperkuat bagaimana pentingnya kita dalam beragama dan mewujudkan kemajuan bangsa dan Negara.
Dalam pidatonya, Prof. Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa 4 pilar ini; pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI harus dipahami sebagai prinsip-prinsip penting untuk dimasyarakatkan ke seluruh Indonesia, karena hal ini tercermin di dalam Undang-Undang Dasar 1945, yakni konsitusi negara kita. “Karena Negara Indonesia merupakan Negara Konstitusional/Negara kesepakatan, maka dari itu masyarakat patut memahami, menghayati dan mewujudkan 4 prinsip tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.” Jimly juga menambahkan, di era zaman modern ini, seluruh umat beragama wajib mempererat kerjasama baik dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang seimbang.
Jimly juga mengajak agama-agama membangun suatu front bersama menghadapi gelombang neo-liberalisme baru agar seluruh umat beragama di Indonesia dapat saling merangkul dan bersama-sama menjaga bangsa ini dalam kondisi berkesimbangan; antara kehidupan materiil dan spirituil. “Kita juga diingatkan bahwa kebebasan yang dibuka oleh demokrasi politik dan ekonomi pasar bebas memiliki 2 sisi negatif, yakni potensi mengancam persatuan solidaritas dan menciptakan kesenjangan serta
ketidakadilan,” lanjut Jimly. Oleh sebab itu, liberty, egality serta fraternity harus seimbang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena berdasarkan konstitusi, agama dan negara tidak dipisahkan dan tidak tepisahkan, pungkas Jimly.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here