Masyarakat Minangkabau memiliki tradisi merantau, salah satu bekal yang harus dimiliki saat merantau adalah ilmu silat. Selain untuk bekal merantau, silat juga penting untuk pertahanan Nagari dari ancaman luar, karena daerah Sumatra Barat kaya dengan rempah-rempah, sehingga banyak ancaman dari para pendatang. Jadi, silat untuk menjaga diri dan menjaga Nagari.

Silat bukan hanya sebagai bela diri, tapi juga seni randai atau drama Minangkabau. Para tuo silek di Minangkabau mengatakan, “kalau pencak di gelanggang, kalau silat dihadapan musuh.” Jadi, seni pencak dipertunjukkan hanya untuk seni, tanpa ada dipertontonkan jurus saling menyakiti atau menjatuhkan, karena silat bertarung tidak boleh dipertontonkan dihadapan umum.

Ajaran silat diajarkan dari mulut ke mulut, karena bukti tertulis juga tidak ada, sehingga seringkali seorang guru silat Minang tidak tahu siapa guru dari gurunya.

Silek (Silat) Harimau adalah bela diri khas Minang, gerakan jurusnya sering tidak lazim, yaitu menyerang dari bawah dan tengah. Targetnya kemaluan, ulu hati, leher, mata, dan telinga. Jurusnya sangat mematikan dan hanya boleh dilakukan saat terdesak.

Seorang Tuo Silek dari Pauh mengatakan, bahwa dia mendapatkan ilmu silat dari seorang kusir bendi di Limo Kapeh daerah pesisir Sumatra Barat. Seorang Tuo silek dari Sijunjung mengatakan, ia belajar dari daerah Lintau. Angku Baruah seorang Tuo silek mengatakan,ia belajar silat dari Koto Anau Kabupaten Solok.

Daerah Solok Sumatra Barat adalah daerah yang menjaga pertahanan Kerajaan Minangkabau dari serangan musuh dari darat, sedangkan daerah pesisir untuk melindungi Nagari dari serangan musuh lewat jalur laut.

Menurut buku Filsafat dan silsilah aliran silat Minangkabau karya Min Jamal yang ditulis tahun 1986, Datuk Waksuri Dirajo adalah pendiri silat Mingakabau di daerah Priangan Padang Panjang Sumatra Barat tahun 1119 M.

Masyarakat Minang punya falsafah, “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung,” sehingga banyaknya pesilat yang merantau membuat jurus silat mengalami banyak modifikasi karena mengadopsi dari bela diri lain.

Pencak Silat Minang secara falsafah memiliki aspek pertahanan diri, seni, dan kerendahan hati. Pesilat Minang tidak mau menunjukkan jurus melumpuhkan lawan di depan umum, tapi hanya menunjukkan seni pencak di depan umum. Ini adalah bentuk kerendahan hati, dan jurus melumpuhkan lawan hanya untuk pertahanan diri jika terdesak.

Pendekar Pencak Silat sejati adalah yang melindungi yang lemah, bukan menindas yang lemah. Premanisme bukanlah jalan hidup seorang pendekar silat, berbakti pada Nagari itulah jalan hidupnya.

Sumber: Youtube Official Silek Harimau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here