Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan bahwa shalawat badar dikarang oleh KH. Ali Manshur asal Tuban, ia menciptakan shalawat ini di Banyuwangi pada tahun 1962. Pada tahun 1989,keluarga KH. Ali Manshur mendapatkan penghargaan bintang NU pada acara Muktamar NU di Krapyak.

Habib Muhammad Bagir bin Yahya mengatakan, kiai Ali awalnya bermimpi bertemu dengan orang-orang berbaju putih dan bersorban hijau, dan pada malam itu juga istri beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Kemudian beliau menemui Habib Hadi Al-Haddar di Banyuwangi, dan menceritakan tentang mimpi tersebut. Habib Hadi Al-Haddar mengatakan, bahwa orang berbaju putih dan bersorban hijau tersebut adalah ahlul badar atau para sahabat Rasulullah SAW.

Kiai Ali kemudian mengarang syair shalawat yang dikenal dengan shalawat badar. Sehabis menyelesaikan syair tersebut, para tetangganya keesokan paginya banyak mengantarkan makanan ke rumah beliau, ternyata saat subuh ada orang berjubah putih mengabarkan bahwa di rumah Kiai Ali akan ada acara. Ternyata tidak lama kemudian datanglah rombongan Habib Ali Kwitang.

Habib Ali Kwitang terkenal dengan kewaliannya, beliau meminta syair shalawat yang ditulis oleh Kiai Ali Manshur, kemudian shalawat tersebut dibaca beramai-ramai di acara tersebut.
Habib Ali Kwitang memerintahkan kepada para ulama dan habaib untuk membaca shalawat badar di majelis-majelis.

Shalawat badar dibaca untuk melindungi para ulama dari ancaman PKI pada masa itu. Maka, sangat penting shalawat badar dibaca pada setiap acara, agar terhindar dari bahaya orang-orang yang zalim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here