Oleh Labib Syarief

Peringatan HUT Jakarta dilakukan setiap tanggal 22 Juni yang merupakan tanggal berdirinya Jakarta. HUT ibukotanya Indonesia ini menarik untuk dipelajari secara mendalam. Jakarta yang sudah berumur 491 tahun pada 22 Juni 2018 sudah pasti memiliki sejarah seperti kota besar lainnya di Indonesia.

Lahirnya Jakarta tidak terlepas dari sejarah penaklukan Portugis ke Malaka pada tahun 1511. Kedatangan Portugis itu bukan tanpa masalah, melalui semangat Gold, Gospel, dan Glory telah banyak menimbulkan kerugian korban jiwa bagi rakyat pribumi. Imprealisme yang dilakukan oleh Portugis ini bermula dari perjanjian Tordesillas oleh Paus Benediktus pada masa itu. Dalam perjanjian ini terdapat pembagian wilayah jajahan, Portugis mendapatkan wilayah Timur dan Spanyol di Barat berdasarkan letak geografis kedua negara ini. Sehingga kedatangan dan penguasaan Portugis atas Malaka merupakan salah bentuk kolonialisasi di wilayah Timur. Tetapi penjajahan Portugis di Malaka telah banyak merugikan warga pribumi di wilayah tersebut. Hal inilah yang mengundang perhatian Kesultanan Demak untuk membebaskan Malaka dari Portugis.

Pasukan Kesultanan Demak dipimpin langsung oleh Pati Unus, yang merupakan seorang pemimpin dari Kesultanan Demak. Pati Unus bisa disebut juga Sultan Demak II yang merupakan anak dari Raden Patah, Sultan pertama Demak.
Sayangnya pembebasan Malaka dari Portugis oleh pasukan Demak mengalami kegagalan. Bahkan Pati Unus wafat terkena tembakan meriam dari Portugis. Kemangkatan Pati Unus ini digantikan oleh Sultan Trenggono. Ia merupakan putra Raden Patah yang lain dan adik Pati Unus.

Setelah Portugis berhasil menguasai Malaka, disusul kembali dengan jatuhnya Samudera Pasai ke Portugis. Kabar jatuhnya dua wilayah penting pada masa itu, tersiar hingga ke seorang tokoh yang bernama Fatahillah (Fadhullah Khan) yang belajar di Mekkah. Ia yang masih merupakan keturunan dari Samudera Pasai memutuskan untuk pulang ke Nusantara, tepatnya di Demak. Ada yang mencatat bahwa di Demak, Fatahillah diangkat menjadi Qadhi dan panglima armada Jawa oleh Sunan Gunung Jati. Fatahillah juga dinikahkan dengan putri Sunan Gunung Jati dan juga merupakan janda dari Pati Unus. Sehingga relasi Fatahillah dengan Sunan Gunung Jati adalah sebagai menantu. Selain itu, ada sejarawan juga yang mengatakan bahwa sebenarnya buyut dari Fatahillah sendiri masih memiliki hubungan dengan buyut dari Wali Songo.

Portugis terus berupaya mengekspansi kekuasaannya. Terdengar kabar bahwa Kerajaan Sunda yang berada di Pakuan membuat perjanjian dengan Portugis untuk membuat benteng di Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1522. Portugis yang berkedudukan di Malaka mengutus Henriquez de Leme ke Pakuan. Upaya Portugis ini merupakan kerjasama diplomasi dalam memperluas pengaruhnya di Nusantara. Sebab pada masa itu, Sunda Kelapa sudah menjadi pelabuhan internasional. Jadi Sunda Kelapa sudah menjadi jalur penting perdagangan.

Khawatir ancaman penguasaan Portugis di Tanah Jawa dan selain untuk melebarkan dakwah Islam, Sunan Gunung Jati yang merupakan pemimpin Kesultanan Cirebon melakukan perluasan ke Banten yang dulunya bagian dari Kerajaan Sunda. Pada tahun 1526 diperkirakan merupakan tahun didirikannya Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin, putra dari Sultan Gunung Jati. Namun pada tahun ini pula, baik Sunan Gunung Jati maupun Sultan Hasanuddin belum berhasil menguasai Pelabuhan Sunda Kelapa.

Pada tahun 1527, Portugis mendatangi Sunda Kelapa untuk merealisasikan perjanjian dengan Kerajaan Pakuan. Namun kedatangan Portugis tersebut dibarengi dengan misi imprealisme fisik yang sudah tentu akan banyak menimbulkan kerugian materi dan korban jiwa masyarakat pribumi. Sehingga tibanya Portugis di Sunda Kelapa sudah diantisipasi oleh Kesultanan Cirebon, Demak dan Banten. Ketiga Kesultanan itu berkerjasama melawan Portugis pada 22 Juni 1527 di bawah kepemimpinan Fatahillah. Terpilihnya Fatihillah sebagai pemimpin pasukan dari ketiga kesultanan tersebut, merupakan atas dukungan Sunan Gunung Jati. Apa yang diharapkan sesuai kenyataan, Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis saat memasuki wilayah ini.

Kemenangan pasukan Fatahillah ini, secara otomatis membuat Sunda Kelapa berada dalam kekuasaan Kesultanan Islam di Jawa dan mengakhiri kekuasaan Kerajaan Sunda di Sunda Kelapa. Kemudian Sunda Kelapa
berubah menjadi Jayakarta dan berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten.

Kemenangan Fatahillah atas Sunda Kelapa dibarengi dengan perubahan nama yang menjadi Jayakarta dan dalam B. Arabnya yaitu Fathan Mubina, yang memiliki arti “Kemenangan yang Paripurna”. Sehingga HUT Jakarta tidak terlepas dari sejarah perjuangan Fatahillah bersama pasukan dari Kesultanan Cirebon, Demak dan Banten untuk menjaga wilayah ini dari Portugis.

Dapat diambil pelajaran bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak terlepas dari nilai-nilai Islam yang ditanamkan dan didorong oleh Wali Songo, yang dalam hal ini adalah Sunan Gunung Jati.

Dikutip dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here