Oleh Faruq Arjuna Hendroy

Judul di atas mungkin menurut sebagian orang cukup tendensius. Betapa tidak. Arab Saudi yang merupakan representasi utama negara Arab sudah mulai melunak menghadapi Israel. Padahal, sejarah mencatat bahwa konflik Israel-Arab sudah berlangsung sangat lama. Okupasi Israel terhadap Palestina yang mulai terang-terangan dilakukan sejak diproklamirkannya negara Yahudi pada 1948 itu telah melukai hati masyarakat Arab, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sejak saat itu, Arab Saudi menentang eksistensi Israel di Timur Tengah. Sebagai bentuk solidaritasnya kepada rakyat Palestina, saudara sebangsa, Arab Saudi menegaskan bahwa tidak akan ada hubungan diplomatik antara Arab Saudi dengan Israel sampai hak-hak Palestina diberikan sebagaimana mestinya.

Namun akhir-akhir ini, Arab Saudi sudah mulai membuka suatu lembaran hubungan yang baru dengan Israel. Memang secara resmi, hubungan diplomatik belum disahkan sampai saat ini. Namun, sikap pejabat Arab Saudi sudah mulai menunjukkan keberpihakannya kepada Israel. Jonathan Marcus, seorang wartawan sekaligus analis pertahanan dan diplomasi, menulis di situs BBC bahwa salah satu mantan pejabat Arab Saudi bernama Muhammad bin Abdul Karim Issa “mengecam” aksi terorisme yang dilancarkan oleh kelompok Islam radikal kepada warga Israel. Ini adalah “kecaman” yang tidak biasa terjadi. Lalu, seorang mantan tokoh militer Israel mengaku berbicara kepada pangeran senior Arab Saudi beberapa waktu lalu. Alangkah terkejutnya ia ketika dua pengeran senior Arab Saudi tersebut berkata; “Anda (Israel) bukan musuh kami lagi.”

Tidak hanya sampai disitu, Pemerintah Arab Saudi saat ini juga sudah mulai menelurkan sebuah kebijakan yang berpihak kepada Israel. Arab Saudi mengizinkan pesawat komersial untuk menggunakan wilayah udaranya guna melintas ke Israel. Menteri Transportasi Israel, Yisrael Katz, senang bukan kepalang menyambut kebijakan tersebut seraya berucap; “Ini adalah pertama kalinya ada hubungan resmi antara negara Israel dan Arab Saudi. Ini adalah momen bersejarah”. Ya. Ini memang momen pertama kali. Sebelumnya, pelarangan penerbangan maskapai komersial ke Israel telah berlaku berpuluh-puluh tahun.

Itu adalah segelintir dari “hubungan di balik layar” antara Arab Saudi dan Israel. Di luar mungkin kedua negara tampak masih saling berkonfrontasi. Akan tetapi upaya rekonsiliasi sudah mulai dibangun secara bertahap, dan tentunya secara rahasia. Setelah melihat kondisi ini, kita pastinya bertanya-tanya. Apa sebenarnya penyebab manuver sikap Arab Saudi tersebut. Mengapa Arab Saudi yang dulu sangat vokal menolak Israel mulai menunjukkan indikasi “siap bersahabat”?.

Penyebabnya adalah semakin menguatnya ancaman dari Iran, negara Mullah Persia. Bagi Arab Saudi, Iran adalah “rival abadi.” Keduanya bersaing untuk mendapatkan pengaruh dan kontrol atas Timur Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara terlibat dalam perang dingin kawasan. Artinya, mereka tidak berperang secara langsung. Peperangan mereka diwakili oleh kroni-kroni yang mereka support dengan kucuran dana dan perlengkapan militer. Ini lah yang dinamakan dengan perang proxy. Setidaknya Amerika Serikat dan Uni Soviet pernah mengaplikasikan jenis perang ini juga beberapa dekade yang lalu.

Kita bisa melihat sebagian konflik perang saudara yang saat ini terjadi di kawasan, pasti ada campur tangan dari kedua negara tersebut. Contohnya pada perang Suriah, Iran berperan sebagai pendukung pihak pemerintah, sedangkan Arab Saudi mendukung pihak pemberontak. Kebalikan dari perang Suriah, pada perang Yaman, Iran malah mendukung pemberontak, sedangkan Arab Saudi mendukung pemerintah. Tidak peduli siapakah yang mereka dukung. Selama yang didukung bisa mengukuhkan pengaruh mereka sebagai negara induk, maka mereka tidak akan ragu memberikan dukungan.

Sampai saat ini, Iran terus memperkuat aliansinya. Semakin banyak aliansi, tentu akan semakin menguatkan posisi dan pengaruhnya. Iran telah mejadikan Irak sebagai teman terdekatnya. Dengan terlibat dalam beberapa konflik dan memiliki kroni seperti di Suriah, Yaman, hingga Libanon, Iran terus berupaya mengimbangi dominasi pengaruh Arab Saudi terutama di daerah-daerah konflik tersebut. Arab Saudi tentu akan melakukan hal yang sama. Untuk “mengimbangi balik” pengaruh Iran yang sudah mulai mengancam, Arab Saudi juga mencari aliansi tambahan. Israel lah aliansi yang tepat untuk itu.

Israel sendiri memang sudah lama menjadi musuh Iran. Ketegangan antar keduanya masih bertahan hingga sekarang. Iran beberapa kali memberikan ancaman serius kepada Israel. Seperti biasa, ancaman tersebut diberikan melalui kroni-kroni Iran. Iran secara aktif mendukung Hizbullah Libanon yang beberapa kali berperang melawan Israel. Iran juga lah yang aktif mempersenjatai kelompok Hamas yang sangat merepotkan Israel itu. Pejabat Iran juga sering melontarkan retorika kebencian terhadap negara Zionist tersebut. Maka dari itu, sudah sewajarnya jika Israel menganggap Iran sebagai musuh yang mengancam keamanannya.

Isu yang paling mengejutkan bagi Arab Saudi dan Israel adalah kesepakatan pengembangan nuklir Iran. Meskipun sudah ditekankan berkali-kali, bahwa pengembangan nuklir ini diperuntukkan untuk tujun damai, akan tetapi baik Arab Saudi dan Israel tetap menaruh curiga pada Iran. Dengan dilegalkannya pengembangan nuklir, tidak menutup kemungkinan Iran akan secara diam-diam mengolahnya menjadi senjata.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Arab Saudi dan Israel memiliki satu kekhawatiran yang sama yang mendorong mereka untuk memulai rekonsiliasi hubungan. Menarik untuk kita saksikan ke depannya, apakah upaya rekonsiliasi keduanya akan berlangsung mulus atau tidak. Lalu, kemungkinan terbentuknya hubungan diplomatik resmi juga masih akan menjadi misteri. Tidak ada yang pasti dalam ilmu sosial. Sifatnya dinamis. Musuh hari ini bisa saja menjadi teman di esok hari, begitu pun sebaliknya. Terakhir, ada satu qoute yang pas untuk melukiskan fenomena kedekatan Arab Saudi – Israel ini; “Musuh dari musuhku adalah temanku. Israel, anda bukan musuh kami lagi.” Ya, setidaknya untuk saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here