Sayyidina Umar bin Khattab adalah sahabat Nabi yang paling berani dan lantang yang menyatakan bahwa dirinya akan hijrah ke Yastrib. Ia mengatakan hal tersebut di depan suku Quraisy sambil membawa pedang ketika thawaf.

Namun mengapa Nabi Muhammad saw tidak melakukan demikian? Karena Nabi Muhammad saw mempunyai strategi untuk memperbaiki sistem terlebih dahulu, dimana adanya langkah-langkah dan aturan-aturan dalam berdakwah.

Sesaat Nabi Muhammad saw akan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Pada saat itu banyak suku di Mekkah tidak suka kepada Nabi Muhammad saw karena ajaran yang dibawanya. Semua suku di Mekkah dikumpulkan untuk membunuh Nabi Muhammad saw agar tidak ada suku yang dapat dituntut. Kemudian dalam perkumpulan itu, dipilih juga pemanah-pemanah terbaik dari suku-suku tersebut. Keputusannya adalah bagi yang berhasil membunuh Rasulullah saw akan diberi ratusan unta.

Namun Allah swt sudah memberitahu kepada Nabi Muhammad saw terkait siasat suku-suku tersebut. Sehingga Sayyidina Ali bin Abi Thalib menggantikan beliau saw di tempat tidurnya. Pada saat itu pula, semua suku-suku tadi sudah menunggu di depan rumah Rasulullah saw. Meskipun mereka sudah mengepung dan menghadang beliau saw di depan rumahnya. Tapi Rasulullah saw tetap dapat bergerak bebas keluar rumah tanpa adanya halangan dan gangguan mereka. Hal ini terjadi karena mata mereka telah ditutup oleh Allah swt. Kejadian ini telah digambarkan di dalam al-Qur’an yakni dalam surat Yasin ayat sembilan yang berbunyi:

”Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat Melihat”

Karena Rasulullah saw sebagai seorang pemimpin, maka beliau saw membiarkan dirinya berhijrah setelah semua sahabatnya dan umatnya terlebih dahulu pergi. Sehingga beliau saw pergi behijrah hanya dengan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dalam perjalanan hijrah tersebut, jarak yang ditempuh adalah sekitar 400 km. Perjalanan hijrah Nabi saw dengan Sayyidina Abu Bakar juga tidak melalui jalan yang biasa ditempuh para musafir. Beliau saw bersama Sayyidina Abu Bakar harus memilih jalan yang jarang bahkan tidak pernah dilalui oleh para musafir. Karena jika mereka biasa menggunakan jalur biasa para musafir. Maka mereka akan dengan mudah diketahui dan dikejar. Sehingga Nabi saw dan Sayyidina Abu Bakar menggunakan jalur yang jarang atau tidak pernah dilalui para musafir. Hal inilah juga yang menyebabkan perjalanan hijrah beliau saw dan Sayyidina Abu Bakar ditempuh dalam waktu yang sangat lama daripada waktu yang dilalui para musafir pada umumnya.

Meskipun sudah menghindari jalur yang dilalui para musafir. Pada mula berhijrah, kaum kafir Quraisy tetap dapat mengejar Rasulullah saw dan Sayyidina Abu Bakar. Bahkan kaum kafir Quraisy mengejar sampai berada di depan mulut Gua Tsur yang terdapat sarang laba-laba dan merpati. Dalam keadaan tersebut, Sayyidina Abu Bakar sempat khawatir. Namun Rasulullah saw menenangkan (hati)
Sayyidina Abu Bakar dan berkata “Janganlah pernah takut terhadap (sesuatu) yang Allah swt menjadi penjaganya”.

Akhirnya kaum kafir Quraisy pergi dari mulut Gua Tsur setelah menilai bahwa menurut mereka, Nabi Muhammad saw dan Sayyidina Abu Bakar tidak mungkin berada di dalam gua tersebut. Karena di pintu gua ini ada sarang laba-laba dan sarang merpati. Maka atas pertolongan Allah swt, selamatlah Rasulullah saw dan Sayyidina Abu Bakar.

Saat berada di dalam di Gua Tsur, Sayyidina Abu bakar menutup semua lubang di gua tersebut. Karena Sayyidina Abu Bakar juga khawatir akan ada ular yang mengganggu Nabi Muhammad saw. Tetapi sayangnya ada satu lubang yang tidak tertutup. Dari lubang tersebut, muncullah seekor ular. Karena Sayyidina Abu Bakar tidak ingin ular tersebut mengganggu Rasulullah saw. Maka ia menutup lubang tempat munculnya ular tersebut dengan tangannya. Menurut para ulama, sebenarnya ular tersebut muncul bukan ingin mengganggu Nabi saw, jutru ular itu muncul karena ingin melihat wajahnya kekasih Allah swt. Namun karena lubang tempat keluarnya sang ular ini ditutup oleh tangannya Sayyidina Abu Bakar. Maka ular itu marah dan menggigitnya.

Akibat gigitan itu, menggigillah Sayyidina Abu Bakar karena racun yang menyebar di dalam tubuhnya. Dalam kondisi terkena racun tersebut, Sayyidina Abu Bakar tidak merubah posisinya yakni duduk dan Rasulullah saw sedang tidur di pangkuannya. Ia tidak ingin merubah posisinya, karena ia tidak ingin Rasulullah saw terbangun. Namun karena perihnya racun ular tadi. Maka ia pun menangis. Tetesan air mata itupun mengenai Rasulullah saw, sehingga beliau saw pun terbangun. Mengetahui Sayyidina Abu Bakar terkena racun dan telah menyebar di dalam tubuhnya. Maka Rasulullah saw pun meludahi bekas gigitan ular yang mengenai Sayyidina Abu Bakar. Setelah itu, penyebaran racun dalam tubuh Sayyidina Abu Bakar langsung berhenti seketika.

Dalam perjalanan hijrah Nabi saw ini, telah sangat ditunggu oleh penduduk Yastrib. Bahkan ada perwakilan yang menunggu di sebuah gunung di depan Yastrib. Ketika Rasulullah saw sampai di depan kota Yastrib atau Madinah. Maka kedatangan Nabi saw dan Sayyidina Abu Bakar ini langsung disambut dengan “Tola’al Badru”. Sambutan ini merupakan bentuk kecintaan hati penduduk Yastrib kepada Rasulullah saw. Sehingga Rasulullah saw juga mencintai penduduk Yastrib.

Ringkasan dalam ceramah Majelis Rasulullah saw di Situ Gintung, Ciputat pada 2 November 2013 dan dikutip dari beberapa sumber

Labib Syarief
Warga Nahdliyyin dan Jamaah Majelis Rasulullah saw

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here