Oleh: Labib Syarief

Bagaimana pendapatmu, jika ada seseorang yang ingin melakukan tindakan destruktif rumahnya sendiri, merusak hubungan sosial dalam rumahnya, dan merubah sesukanya tanpa ada kesepakatan orang rumah tersebut, bahkan ia mencerca rumahnya sendiri.

Sungguh sangat aneh bukan? Rumah yang sudah susah puyah dikumpulkan melalui cicilan atau beli secara tunai atau didapatkan dari warisan orang tuanya, lalu tiba-tiba dia ingin merusaknya, bahkan menghinanya.

Sebagaimana diketahui rumah bagi milenial zaman now sangat mahal. Bahkan dalam melakukan cicilan rumah, dibutuhkan waktu yang cukup lama agar lunas. Tapi ada orang yang ingin merusak rumahnya sendiri. Sungguh sangat aneh.

Pun demikian dengan rumah kebangsaan kita Indonesia memiliki ideologi yang sudah disepakati oleh para pahlawan kita. Ideologi tersebut yaitu Pancasila yang dijadikan sebagai perekat dan pemersatu keberagaman. Maka sungguh aneh jika ada yang ingin merubah kesepakatan tersebut.

Negara sebagaimana rumah sangatlah mahal, bahkan lebih mahal dari berlian. Kenapa demikian? Kita lihat saudara kita yang berada di sejumlah negara, seperti Suriah, Irak, Afghanistan, Yaman dan Libya. Mereka tidak dapat lagi berpergian dengan nyaman setiap hari di negara mereka sendiri. Baik itu pergi ke pasar, ke sekolah, melakukan silaturahmi seperti sekadar mengobrol di kafe atau taman, maupun saat beribadah.

Karena setiap hari mereka harus menghadapi ketidakamanan akibat terjadinya konfilk, seperti dentuman bom dan tembakan senjata yang bisa datang kapan saja yang mengancam jiwa mereka. Itulah mahalnya sebuah negara.

Konflik di beberapa negara tersebut, bermula dari oknum pemecah belah bangsa seperti karena ujaran kebencian, hoax, radikalisme, dan terorisme. Oknum-oknum tersebut mengumbar narasi kebencian terhadap negara, tidak mengutamakan persatuan alias besifat ekslusif, dan puncaknya pihak asing turut terlibat, sehingga menyulit terjadinya konflik. Jika sudah terjadi konflik, mereka (yang tinggal di negara yang sedang berkonflik) sudah merasa tidak nyaman lagi berada di negaranya. Begitulah rasanya jika sudah kehilangan perdamaian di dalam negaranya, akan terasa mahalnya sebuah tanah air dan negara.

Maka Habib Luthfi bin Yahya, Rois Aam Thoriqoh Mu’tabarah An-Nahdliyyah, mengatakan, jika kehilangan permata bisa dicari, jika kehilangan tanah air, tidak bisa dicari.

Dengan demikian, menjaga persatuan melalui Pancasila yang sudah final sebagai konsensus bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah kewajiban.

Jika dalam perjalanan bangsa terdapat penyimpangan, semisal korupsi, ketimpangan sosial dan permasalahan lainnya. Maka yang salah bukan negaranya, tetapi oknumnya. Karena praktik atau realisasi lebih sulit daripada teori.

Untuk itu, pembenahan dan perubahan bangsa ini dapat terjadi saat kita ikut serta terlibat dalam perubahan tersebut. Jika kita memang mempraktikan Pancasila dengan sebaik-baiknya, niscaya permasalahan bangsa akan teratasi, setidaknya dalam sekup kecil, misalkan kesejahteraan desa dapat terlaksana dengan melakukan pelatihan soft skill.

Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban kita, apalagi bagi para pemuda, menjaga persatuan bangsa ini, membangun jiwanya dan raganya untuk kesejahteraan dan keadilan bangsa kita.

Hal ini dapat kita lakukan melalui apa yang kita mampu untuk kita berikan kepada bangsa ini.

Mari semangat untuk memberikan terbaik untuk bangsa ini sebagaimana para pahlawan yang telah totalitas berkorban tanpa pamrih memberikan jiwa dan raganya untuk bangsa ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here