Adriansyah

Kita tidak perlu mengejar kupu-kupu, cukup tanam bunga maka kupu-kupu akan menghampiri, kita tidak perlu ambisi mengejar uang, tapi cukup dekati Allah yang pemberi rezeki, sehingga rezeki akan datang sendiri. Kita sering stress karena terlalu ambisi mengejar duniawi, karena yang kita pikirkan bagaimana medapatkan rezeki, seharusnya cara mendapatkan rezeki tidak perlu kita pikirkan, tapi yang perlu dipikirkan adalah bagaimana caranya agar Allah melapangkan rezeki kita, karena Allah adalah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki siapapun.
Rezeki kita semua sudah diatur oleh Allah, tidaklah seseorang mati namun sudah disempurnakan rezekinya, jadi tidak ada istilahnya rezeki diambil orang atau dipatok ayam. Rezeki seperti buah di atas pohon, ada yang harus diambil dengan memanjat pohon, dan ada juga yang mendapatkannya saat buah jatuh. Kita tidak boleh mengambil buah yang busuk dan berulat, begitu juga rezeki, hanya orang beriman mengambil bagian yang halal. Kita harus ingat, saat janin di perut ibu awalnya hanya berupa segumpal daging, lalu saat usia kandungan 4 bulan sudah ditetapkan rezekinya. Saat di dalam perut ibu, kita makan dari sari makanan ibu, ketika lahir kita sangat lemah lalu Allah munculkan susu ibu agar kita meminumnya, kita dibesarkan dengan kasih sayang, dan bukankah Semua itu kita dapatkan tanpa harus berikhtiar?
Rezeki tidak ada hubungannya dengan pendidikan atau kerja keras. Kalau rezeki diukur dari pendidikan, kenapa banyak profesor tidak kaya raya, tapi justru banyak lulusan SD bisa punya uang triliunan. Kalau rezeki diukur dari kerja keras, lalu kenapa banyak yang mencangkul di sawah tapi tidak kaya raya, tapi justru banyak pengangguran kaya raya karena dapat warisan. Rezeki tidak akan pernah tertukar, semua sudah ditetapkan, jadi kita tidak perlu takut. Ada orang berdagang di pasar, kalau sudah rezeki pasti dia akan laku, apabila sudah tutup akan diketok oleh pembeli untuk dipaksa buka karena ada yang akan dibeli. Kalau bukan rezeki, sekalipun buka 24 jam tetap saja untungnya sedikit.
Ada seorang ibu yang menjadi pembantu rumah tangga dengan gaji satu juta perbulan, saat anaknya lulus D3 kebidanan lalu bekerja, ternyata mampu memberangkatkan umroh ibunya tersebut, sedangkan majikannya belum berangkat umroh. Seorang kuli bangunan di komplek saya mampu kuliahkan anaknya di UI dan dia mampu berangkat haji. Saat saya bertanya apa amalan pembantu rumah tangga dan kuli bangunan tersebut sampai bisa tanah suci dan punya anak yang sukses, ternyata jawabannya adalah sering berdoa untuk bisa ke tanah suci dan kasih anak makanan yang halal.
1. Perbanyak Ibadah
Kunci pertama membuka kunci kelapangan rezeki adalah bertakwa kepada Allah, tapi anehnya banyak orang memilih sibuk bekerja daripada sibuk beribadah, mereka berpikir bahwa rezeki itu dari atasannya, bukan dari Allah. Bahkan, demi mendapatkan pekerjaan ada yang sampai main sogok. Padahal, rezeki yang didapatkan dari arah yang tidak disangka-sangka terasa lebih nikmat, misalnya silaturahim ke rumah senior, lalu ditraktir makan, dan pulangnya diberikan uang. Kunci kedua adalah memperbanyak istighfar, bahkan Rasulullah beristighfar sehari 100 kali, tapi banyak orang yang merasa suci dengan tidak mau beristighfar. Orang yang beristighfar akan diampuni dosanya oleh Allah, diturunkan hujan yang bermanfaat, ditambahkan harta, dan diperbanyak anak-anaknya. Kunci ketiga adalah memperbanyak berdoa dengan bertawasul untuk mendapatkan rezeki, baik bertawasul dengan asmaul husna, bertawasul dengan Rasulullah, atau bertawasul dengan para wali Allah. Kunci keempat adalah memperbanyak bertasbih kepada Allah.
Kita selama ini dibohongi oleh teori-teori Barat, dimana kita untuk kaya raya harus menabung, sehingga untuk beli barang atau untuk modal menikah kita lebih memilih jalan menabung, padahal kunci kaya raya dalam Islam adalah dengan memperbanyak bersedekah. Bersedekahlah sebanyak-banyaknya, maka kita akan semakin kaya raya. Bagi teori Barat, bersedekah akan mengurangi harta, tapi dalam Islam justru bersedekah melipatgandakan kekayaan. Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Nabi yang kaya raya karena banyak bersedekah. Mulai dari sekarang kita harus bersedekah sebanyak-banyaknya, dengan keyakinan Allah akan melipatgandakan, dan janganlah kita ragu dengan janji Allah.
Muncul juga pertanyaan, manakah yang lebih penting, usaha atau doa? Nabi Musa as saat dikejar Fir’aun beserta pasukannya, ia berdoa minta pertolongan dari Allah, kemudian datang petunjuk untuk memukul air laut dengan tongkatnya, akhirnya laut terbelah. Nabi Ibrahim as ingin dibakar, lalu ia berdoa kepada Allah, akhirnya beliau selamat dari api. Kita sering meyakini bahwa hamil harus berhubungan intim, ternyata Siti Maryam bisa hamil tanpa hubungan intim. Ada juga yang sudah divonis mati ternyata mampu bertahan hidup. Ada yang divonis mandul oleh dokter, ternyata bisa hamil. Jadi, dahulukan berdoa sebelum berusaha, maka semua urusan akan lebih mudah, jangan jadikan usaha sebagai indikator keberhasilan, tapi harus meyakini Allah adalah penentu keberhasilan. Kalau usaha menjadi indikator keberhasilan, lalu bagaimana dengan orang yang memiliki keterbatasan dalam berusaha, seperti orang yang kekurangan secara fisik, pasti mereka akan sering gagal, tapi justru banyak orang kekurangan secara fisik tapi bisa lebih sukses dari yang punya fisik normal dan kemampuan berusaha lebih besar.
Orang beriman diperintahkan Allah untuk mencari rezeki baik yang telah disediakan oleh Allah. Rezeki yang berkah walaupun sedikit akan terasa banyak, misalnya uang di dompet cuma 600 ribu, lalu diberikan hadiah umroh oleh kerabat, maka uang 600 ribu terasa 30 juta. Sedangkan rezeki yang banyak tapi tidak berkah akan terasa sedikit, ada yang punya uang 300 juta, tapi sering memakai narkoba, akhirnya uang 300 juta habis dalam tiga hari. Harta banyak tapi anak memakai narkoba, istri selingkuh, teman berkhianat, kena tipu, dan lain sebagainya. Hidup sederhana tapi berkah, anaknya jadi ulama, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi dokter, istrinya setia, cucunya lucu. Jabatan yang berkah bukan berarti mendapatkan posisi tertinggi, tapi jabatan yang tidak menyebabkan lalai dari ibadah dan terkena kasus korupsi.
Kaya raya tidak harus diperoleh dengan cara ambisius, tapi bisa didapatkan hanya dengan cara santai, intinya menjadikan Allah sebagai tempat bergantung. Sikap ambisius untuk meraih kekayaan akan menyebabkan kita terjatuh pada sikap tamak, sombong, dan takabur. Saya akan memberikan cara mendapatkan kekayaan tanpa perlu ambisius, usaha yang tidak menggebu-gebu namun hasilnya besar, hanya cukup mengalir seperti air. Ingat, harta kekayaan tidak akan dibawa mati, justru yang dibawa mati adalah pertanyaan darimana harta itu berasal dan untuk apa saja harta tersebut digunakan. Adapun caranyanya adalah dengan memiliki hati yang dermawan.
Niatkan setiap kali menginginkan suatu kekayaan tujuannya untuk beribadah. Misalnya apabila jadi kaya raya niatkan agar bisa berangkatkan orang tua haji dan membelikan rumah. Niatkan kalau saya kaya raya akan membeli mobil untuk ajak keluarga dan teman untuk ziarah ke makam wali, dan jika punya rumah akan dijadikan tempat untuk pengajian dan majelis zikir. Jika punya uang milyaran akan bangun masjid, bantu anak-anak yang putus sekolah, memberikan beasiswa. Sebaik-baik permintaan adalah untuk taat kepada Allah, sebaik-baik harta adalah yang digunakan di jalan yang Allah ridhoi.
Dunia secara hakikat itu mempermainkan, merusak, menghinakan, dan menertawakan orang-orang yang merangkak meraih dunia. Seseorang yang menuntut dunia tanpa izin dari Allah maka ia akan menertawakan dia dan menghina orang tersebut. Sebaliknya, seseorang yang menghinakan dunia dan berpaling menuju pintu Allah maka dunia akan menjerit meminta tolong untuk dimanfaatkan. Dunia akan keluar untuk menghampiri orang yang berpaling darinya dengan menuju Allah.
Ketika dunia menghadap kepada para wali Allah, maka dunia akan ditolak, dan dunia akan menangis untuk diambil oleh wali Allah tersebut. Para wali sudah mengenal siapa dunia, maka ia akan menyuruh dunia pergi sambil berkata “carilah selain aku.” Perhiasan bagi para wali hanya penampilan lahir saja tanpa batin, hanya bisa dilihat, namun tidak ada kepastian di akhirat. Andaikan semua orang dibukakan penglihatannya tentang wujud dunia yang sebenarnya, maka mereka akan merasa jijik lalu melarikan diri. Seseorang yang sudah makrifat akan dibuka penglihatannya (kasyaf) oleh Allah, maka ia bisa melihat wajah asli semua manusia, ada yang berwujud monyet, berwujud ular, atau monster.
Dunia tidak akan pernah baik, kecuali kalau sudah dihinakan. Orang yang menghinakan dunia akan mengamalkan Al-Quran dan sunnah, menjadi orang terhormat, menjadi pengikut Nabi Muhammad Saw, tidak akan berubah kepribadian baiknya, harum namanya di masyarakat sehingga disukai orang banyak, hatinya bersih, dan pintu kedekatan pada Allah akan terbuka.
Ketika seseorang rajin mencari uang akan merasakan lelah, dikejar lari, diduga tidak tepat, orang yang diharapkan akhirnya menipu. Saat dunia dihinakan, semuanya disedekahkan, maka ia minta tolong dan memaksa untuk masuk kantong. Orang tamak akan dibenci orang, sedangkan orang yang tidak pernah mengharapkan apapun dari orang lain akan dicintai, dulu kehadiranmu tidak diharapkan saat kamu datang lalu kini kamu dirindukan. Uang selalu merasa nyaman jika berada di kantong para kekasih Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here