Masyarakat pribumi muslim didikan Pesantren terutama pesantren yang didirikan oleh para pengikut Pangeran Diponegoro, secara umum oleh orang-orang Belanda disebut sebagai masyarakat Islam sinkretis, yaitu komunitas pribumi muslim yang dinilai hidup tidak sesuai dengan tuntunan formal agama Islam yang oleh golongan muslim modern disebut sebagai Muslim tradisional, yang hidupnya ditandai adat dan tradisi keagamaan berciri lokal penuh dengan Amaliah bid’ah dan tahayul.

Perlawanan bersenjata terhadap kolonial Belanda, sebagai resistensi terhadap pengaruh asing di satu pihak dan sebagai usaha mempertahankan eksistensi sosio-kultural religius di pihak yang lain, harus dipahami sebagai keniscayaan fundamental yang menandai perjalanan sejarah pribumi muslim didikan pesantren yang pada gilirannya melahirkan nasionalisme nusantara. Dalam konteks inilah perlawanan panjang pribumi Muslim terhadap kolonialisme Eropa harus dilihat secara holistik.

Usaha penjinakan pribumi muslim dengan tradisi perlawanannya yang secara sistematis dilakukan pemerintah kolonial Belanda, salah satunya melalui kebijakan Islam yang menerapkan teori sosiologi, termasuk dari Christian Snouck Hurgronje.Teori asosiasi kebudayaan yaitu usaha sistematis untuk menyingkirkan pengaruh Islam dari kehidupan penduduk pribumi, lewat pendidikan barat yang akan membawa pemeluk agama Islam kedalam Kebudayaan Barat, dimana dalam bersaing melawan Islam, Snouck Hurgronje meyakini bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenang.

Teori asosiasi kebudayaan yang digagas Christian Snouck Hurgronje mendapat dukungan golongan etis yang dipelopori Van DenDem, Van kol, Van Deventer, anggota parlemen Belanda Pieter brooshooft.Menjadi kewajiban moral bagi pemerintah kolonial untuk memperlihatkan nasib pribumi yang menderita saat itu, agar sederajat dengan Belanda.

Melalui program Trias Van Deventer, terutama program pendidikan penduduk pribumi muslim, diharapkan akan mengalami perubahan mendasar dalam pandangan-pandangan, gagasan-gagasan ide-ide, konsep-konsep, dan nilai-nilai yang bersifat Eropa modern. Menggantikan pandangan-pandangan, gagasan-gagasan, ide-ide, konsep konsep, dan nilai-nilai lama yang terpengaruh Islam dan tradisi pesantren.

Sejarah pun mencatat, seiring dikembangkannya pendidikan barat berupa sistem persekolahan yang disediakan bagi anak-anak pribumi muslim, maka tertanam lah semenjak dini ide-ide, gagasan-gagasan, pandangan-pandangan, konsep-konsep, dan nilai-nilai Barat kedalam jiwa dan pikiran anak-anak pribumi muslim yang bersekolah. Sehingga jiwa dan pikiran anak-anak pribumi muslim tumbuh dan berkembang dengan nilai-nilai modernitas Barat.

Dalam tempo 1 sampai 2 dekade, semenjak politik etis dijalankan di Hindia Belanda, terjadi perubahan-perubahan mendasar pada pandangan gagasan-gagasan, ide-ide, konsep-konsep, dan nilai-nilai kehidupan pribumi muslim lulusan sekolah. Secara frontal bertentangan tajam dengan anak-anak pribumi muslim yang dididik di pesantren.

Fakta sejarah menunjukkan, bagaimana anak-anak pribumi muslim yang dididik di sekolah sebagian besar muncul sebagai pegawai Administrasi rendahan dalam pemerintah kolonial, polisi militer, dan buruh perusahaan dan perkebunan asing yang sangat bangga diri, karena mereka dianggap sederajat dengan orang Belanda dan kemudian mengabdikan seluruh hidupnya kepada pemerintah Belanda. Melalui pendidikan sekolah, paham sekularisasi dikembangkan oleh anak-anak pribumi muslim yang terdidik di sekolah, yang salah satu diantara dampak sampingnya adalah tumbuh pesatnya organisasi yang menganut paham sekuler materialistik.

Golongan anak-anak pribumi muslim didikan Pesantren menganggap anak-anak pribumi muslim yang dididik di sekolah sebagai orang-orang modern yang jalan pikirannya dalam memahami agama sangat tidak lazim menurut paradigma, dogma, dan doktrin paham bermazhab, sehingga pada dasawarsa 1930-an, orang-orang didikan sekolah yang menyebut diri muslim modern itu dianggap sebagai golongan ahli Bid’ah, yang dalam memahami dan mengamalkan agama tidak memiliki dasar mazhab yang jelas.

Sumber: Agus Sunyoto, “Fatwa dan Resolusi Jihad.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here