Oleh Labib Syarief

Sebenarnya saya lebih memilih menjadi orang yang beraliran post positivisme. Mengingat paradigma ini lebih menawarkan pandangan anti mainstream.

Namun bukan demikian saya anti terhadap positivisme. Biar bagaimanapun positivisme sangat berkontribusi terhadap standar-standar ilmu pengetahuan, seperti empirisme. Hampir semua ilmu pengetahuan sosial saat ini, merupakan bagian dari paradigma positivisme. Sehingga validitasnya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan obyektif.

Hal ini terkait hasil dari Quick Count pada pemilu 2019. Sebagaimana standar paradigma positivisme, metode yang digunakan dalam Quick Count yang merupakan bagian ilmu dari Statistika, yakni seperti Random Sampling, dapat dipastikan metodenya sangat ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan tingkat keobyektifannya.

Statistika berusaha menjawab sebuah data kuantitatif yang sangat banyak dan rumit dengan mengambil sampel. Namun mendapatkan hasil yang sesuai dengan keseluruhan. Meski ada kemungkinan kesalahan dalam hasilnya, tapi marginnyapun tidak akan besar.

Untuk itu, saya sangat yakin bahwa hasil QC akan mendekati hasil penghitungan riil KPU. Namun sayangnya era sekarang sepertinya telah masuk ke era post truth. Kamus Oxford menjelaskan bahwa kata ini untuk mendefinisikan situasi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang obyektif (dw.com, 2018)

Maka merujuk istilah post truth, tidaklah kaget, jika ada sebagian orang tidak percaya terhadap metode ilmiah QC dan lebih mempercayai perasaan pribadi daripada logika yang berdasarkan fakta obyektif.

Semoga kita tetap selalu menghargai metode-metode ilmiah dalam ilmu pengetahuan sosial yang memiliki standar yang ketat berdasarkan positivisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here