Adriansyah

Sekarang situasi kompleks terjadi dalam lingkup internal gerakan Islam yang dihadapkan pada isu konflik Palestine dengan Israel. Publik tahu bahwa di kalangan umat Islam tidak terdapat kesamaan strategi dalam menyikapi isu konflik tersebut, sehingga terjadi polarisasi yang sangat tajam sesama ormas Islam. Ada dua kecenderungan yang terlihat dan ujungnya adalah memunculkan pertentangan. Pertama, kelompok yang menampilkan Islam secara ekslusif, mereka seringkali mengumandangkan jalan perang dengan Israel untuk merebut kemerdekaan Palestine. Mereka menginginkan Islam sebagai solusi, paradigmanya adalah Islam menyelesaikan masalah dunia. Kedua, kelompok yang lebih bersifat inklusif, kelompok ini tidak terlalu menampilkan penampilan Islamnya, tapi menampilkan sikap yang berasal dari substansi ajaran Islam untuk mewjudkan perdamaian dunia.

Kecenderungan yang pertama adalah dari kelompok Islam fundamentalis, yaitu kelompok yang ingin mengekspresikan keberagamaannya dalam lingkup Negara, mereka menginginkan menampilkan wajah Islam secara lahiriah, tapi parahnya tidak menampilkan substansi apapun, kerjanya cuma marah-marah sambil bawa-bawa nama Islam. Kecenderungan kedua adalah diwakili oleh NU dan sebagian Muhammadiyah, kelompok ini selalu memikirkan masalah Internasional, namun dengan tenang dan tanpa marah-marah untuk menyelesaikannya. Mereka lebih memilih menampilkan citra Islam yang elegan, mengutamakan dialog di forum Internasional untuk kemerdekaan Palestina. Kalau perlu Yahudi Israel diajak dialog, seperti yang pernah dilakukan tokoh mereka seperti Gus Dur, Din Syamsudin, dan Yahya Cholil Staquf.

Perpecahan ini sepertinya bisa menjadi hikmah tersendiri, karena faktanya posisi Islam menjadi sangat kuat di dunia Internasional. Gerakan Islam di Indonesia terbagi secara merata, sehingga sering menjadi sorotan dan objek penelitian. Ada gerakan Islam yang sering kritik hutang Negara, pembangunan infrastruktur, korupsi, hingga masalah program jualan racun kalajengking. Ada juga yang memilih dekat dengan penguasa, makan bersama di istana, atau audiensi untuk mengundang Presiden di acara Kongres sambil foto-foto untuk dibagikan di grup whatsapp. Walaupun terpecah, tapi mereka sama-sama mengupayakan keadilan dunia terhadap Palestine, tujuannya sama-sama ingin Palestine menjadi Negara yang berdaulat dan merdeka.

Menurut saya, perpecahan ini harus diselesaikan dengan saling memahami satu sama lain, karena kalau mencoba diseragamkan akan mustahil. Bahkan saat Mentri Agama mencoba memunculkan favoritisme dalam rekomendasi mubaligh justru memunculkan penolakan dari kedua kelompok ini. Kalau sudah bisa saling memahami antarsesama kelompok Islam, maka kekuatan Islam akan semakin besar, dan punya bergaining position di dunia Internasional. Intinya, saling memahamami kalau cara kami begini dan cara kamu begitu, tidak perlu saling bermusuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here