Oleh Labib Syarief

Saya terkejut saat melihat foto pertemuan salah satu tokoh NU, yakni KH. Yahya Cholil Tsaquf atau Gus Yahya dengan pejabat AS yang tidak tanggung-tanggung diwakili oleh Wakil Presiden AS, Mike Pence. Pertemuan ini juga langsung diadakan di ring 1 nya AS dan kediaman kerjanya pemerintahan Trump yaitu Gedung Putih.

Saya yang notabene lulusan HI, melihat sesuatu yang luar biasa dari pertemuan gus Yahya tersebut. Sebab dalam ilmu HI, NU dilihat sebagai non-state actor atau aktor bukan negara, sedangkan AS sendiri merupakan state actor atau aktor negara. Sepengetahuan saya, aktor non negara yang sangat sering mendapatkan kesempatan bertemu pejabat aktor negara VVIP sekelas kepala negara adalah pemilik atau ceo dari multinational corporation (MNC). Pertemuan ceo MNC dengan kepala negara biasanya dilakukan dalam rangka investasi yang merupakan tindakan simboisis mutualisme. Dimana aktor non negara atau MNC tersebut mendapatkan profit dari investasinya yang biasanya dilakukan di negara berkembang, dan negara berkembang juga mendapatkan perluasan lapangan kerja serta pajak dari investasi pemilik MNC.

Namun pemandangan pertemuan Gus Yahya dengan Mike Pence, bukan merupakan pertemuan MNC dengan aktor negara, melainkan aktor non negara yang berbasis organisasi Islam moderat terbesar di dunia, yaitu NU, dengan aktor negara adikuasa, yaitu AS. Sehingga pertemuan NU dengan AS, terbilang pertemuan yang luar biasa. Oleh karena itu timbul pertanyaan, apa sebab AS bertemu dengan NU?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, akan dijelaskan kronologi pertemuan Gus Yahya dengan Mike Pence. Seperti dikutip dalam NU Online, Gus Yahya menjelaskan bahwa undangan ke Gedung Putih terhadapnya terlaksana berkat Reverrand Johnie Moore, seorang pendeta Kristen Evangelis, dan Andrew Welther, seorang aktivis Katholik. Terutama setelah keduanya bertemu dengan Wapres Pence sebelumnya dan menceritakan kalau Gus Yahya sedang berada di AS. 

“Pertemuan itu diminta oleh Wapres Mike Pence. Saya sendiri tidak menyangka bahwa saat tiba di Washington DC Rabu malam, saya mendapat pesan dari staf Gedung Putih bahwa Wapres ingin bertemu saya,” ceritanya.

Dari kronologi pertemuan di atas, terlihat undangan gedung putih ke Gus Yahya terbilang mendadak. Sehingga apa sebab AS berkeinginan kuat mengundang NU, meskipun undangan tersebut tidak dilakukan jauh-jauh hari? Bahkan undangan tersebut langsung ditemui sekelas Wapres AS.

Jawaban ini sebenarnya secara tidak langsung sudah dijelaskan oleh sebuah postingan di media sosial yang ditulis oleh Gus Rizki Adi Priatno yang dishare oleh Gus Syarony Assamfury. Menurut Gus Rizki, pertemuan NU dengan AS merupakan cara elegan NU melawan AS, dimana sebenarnya AS sendiri yang merupakan dalang dari boneka terorisme yang mereka buat. Ia juga menekankan bahwa posisi NU sangat diperhitungkan oleh AS, sebab dengan adanya NU, AS dan sekutunya susah membuat Indonesia menjadi Timur Tengah.

Apa yang dijelaskan oleh Gus Rizki di atas, bagi saya pemerhati HI, benar adanya. Sebab dalam sebuah video, mantan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, mengatakan bahwa ISIS sendiri merupakan buatan AS. Kemudian Al-qaeda merupakan organisasi terorisme yang dibentuk oleh AS yang awalnya dibuat dalam rangka melawan Uni Soviet. Namun karena Uni Soviet runtuh, akhirnya mereka berbalik ke negara masing-masing, sejak saat itulah tindakan terorisme terglobalisasi. Sehingga dapat dikatakan aktor utama pembentuk radikalisme secara global sebenarnya dibentuk oleh AS sendiri. Oleh karena itu, pertemuan NU dengan AS menjadi salah satu cara elegan dan berkelasnya NU dalam melawan AS, yaitu dengan cara pendekatan diplomatik. Dengan demikian dalam pertemuan diplomatik itu, NU punya daya tawar yang kuat dalam menghadapi AS secara vis a vis. Sehingga NU dapat memperlihatkan dan menyampaikan tindakan diplomasinya dihadapan langsung AS. Tindakan diplomasi NU, sebagaimana yang dicatat dalam sejarah perjuangan Indonesia melawan penjajah, adalah diplomasi yang selalu mengutamakan kepentingan bangsa Indonesia termasuk mengedepankan soal kemanusiaan.

Kemudian, NU yang merupakan organisasi wasotiyyah, moderat dan warganya terbanyak di Indonesia, selalu menjadi pengkounter dan penghalang bagi tindakan radikalisme, sehingga radikalisme selalu gagal menyebarkan ideologinya dan aksinya di Indonesia.

NU yang menjadi salah satu benteng utama keamanan dan persatuan Indonesia keberadaannya sangatlah penting. Dimana terorisme sendiri acapkali menjadi alat perang proxi oleh AS di sejumlah belahan dunia, seperti halnya ISIS di Suriah yang dibentuk oleh AS dalam rangka menjatuhkan Assad. Maka wajar AS dan sekutu selalu susah membuat Indonesia seperti Timteng, sebab adanya NU.

Oleh karenanya, posisi NU sebagai aktor non negara yakni organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia sangat diperhitungkan oleh AS. Maka wajar hingga AS mengundang salah satu tokoh NU ke gedung putih yang terbilang mendadak. Apalagi sepengetahuan saya, baru sekelas kepala negara dan Menlu dari Indonesia yang masuk ke gedung putih. Kemudian NU mendapatkan kesempatan itu, jadi wajar jika NU sangat diperhitungkan dalam diplomasi AS.

Apa yang dilakukan AS dalam undangannya terhadap NU di gedung putih, tidak lain menjadi retorika diplomatik AS dalam menyiratkan kepentingan AS di Indonesia. Tetapi kita tentu sangat meyakini, bahwa tindakan diplomatik NU sendiri akan sangat cerdas dan cerdik pula menghadapi aksi diplomatik AS tersebut. Dimana dalam aksi diplomatik ke AS itu, seperti yang dijelaskan sebelumnya, NU akan selalu mengedepankan kepentingan bangsa Indonesia dan termasuk kemanusiaan. Hal ini sudah terbukti dalam perjuangan arek-arek Suroboyo pada 10 November 1945 melawan pasukan sekutu. Dimana perjuangan itu dimulai dan didasari dengan Resolusi Jihad KH. Hasyim As’ari yang dalam rangka menjaga tanah air dan menjaga martabat bangsa dari penjajahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here