Beberapa tahun yang lalu, Presiden AS, Donald Trump telah memerintahkan kepada militer AS untuk meluncurkan sebuah serangan misil terhadap pemerintah Suriah. Pada saat itu, tindakan Trump tersebut didasari karena penggunaan senjata kimia oleh Assad terhadap rakyat Suriah.

Trump melakukan kebijakan yang sama pada Jumat (13/4/2018), dan diikuti oleh sekutunya yaitu Perancis dan Inggris. Kebijakan ini merupakan reaksi untuk tindakan pencegahan penggunaan senjata kimia oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Pada Sabtu (14/4), Trump menyatakan bahwa “Misi Berhasil”. Sebuah ungkapan yang sangat erat kaitannya dengan Presiden George W Bush. Dimana sebelumnya Bush telah menggunakan kalimat itu sejak tahun 2003 hingga selama perang Irak dan hingga akhir kepresidenannya.

Terkait kebijakan Trump, gelombang suara muncul dari sejumlah kekuatan politik AS yang mengekspresikan dukungan atas kebijakan serangan Trump ke Suriah yang terbaru. Tetapi sayangnya hanya terdapat sedikit kritik atas sejumlah strategi AS ke Suriah yang sebenarnya dapat berhenti hanya selama 7 tahun dengan atau tanpa Assad.

Para komentator bertanya pesan dari maksud serangan Trump yang terbaru, apakah hal ini menandakan bahwa sekutu Barat tidak akan membiarkan serangan senjata kimia tanpa hukuman, tetapi pengecualian soal penggunaan bom lain yang dijatuhkan oleh pemerintah Assad yang dapat membunuh banyak rakyat Suriah.

Sementara itu kritik muncul dari Senator Republik, John McCain berkomentar soal serangan Trump yang terbaru bahwa “Untuk sukses dalam jangka panjang, kita membutuhkan strategi komprehensif untuk Suriah dan seluruh kawasan”.

“Serangan udara memutuskan hubungan dari strategi yang lebih luas dan lebih penting, sehingga mereka sendiri (pemerintah AS) tidak akan mencapai tujuan AS di Timur Tengah” kata McCain, dimana McCain tahun lalu mengajak untuk aksi yang lebih agresif yang akan melumpuhkan militer Assad.

Sebelumnya Trump telah membuat sikap yang jelas atas yang apa ia inginkan yaitu seperti menarik secara perlahan sekitar 2000 tentara AS di Suriah yang terlibat dalam kampanye anti ISIS. Dalam kebijakannya pula Trump telah menangguhkan dukungan terhadap pemberontak Suriah, terbukti dari keinginannya untuk melepaskan Suriah.

Tetapi Trump tampil kembali dalam konflik Suriah baru-baru ini, sehingga telah membawa pesan, sesuai dengan pernyataannya Sabtu (14/4), bahwa Aliansi Barat telah mempersiapkan untuk selalu ‘menjaga keberlangsungan respons’, jika Assad tidak berhenti menggunakan senjata kimia yang terlarang.

Kontradiksi yang Sulit

Seorang pejabat resmi AS mengatakan bahwa penasehat tertinggi Trump seperti Menteri Pertahanan Jim Mattis, telah membujuk Trump untuk menjauhi aksi yang lebih keras yang berasal dari keinginan Presiden itu sendiri. Hal ini karena dikhawatirkan akan menimbulkan peningkatan resiko dengan Assad dan aliansinya Rusia, sedangkan pemerintahan Trump, keahliannya belum mendekati untuk strategi yang komprehensif dalam perang di Suriah.

Pejabat resmi AS yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan bahwa Trump ingin melakukan kerusakan lebih berat untuk alat perang Assad dan memutuskan untuk melakukan penurunan kapabilitas senjata kimia di Suriah. Tetapi Trump juga diingatkan oleh sejumlah kalangan politik domesik yang bersebrangan dengan kebijakan Trump yang telah terlibat lebih mendalam di Suriah

“Itu menjadi kontradiksi yang sulit baginya untuk diatur” kata pejabat resmi AS tersebut.

Sementara itu, serangan senjata kimia telah menempatkan Suriah secara penuh masuk dalam radar Trump. Para pakar menyatakan bahwa serangan itu seperti mengajak untuk tetap fokus dalam suriah, selain mengalahkan ISIS.

Beberapa pejabat AS lainnya yang juga tidak ingin disebutkan namanya, menyatakan bahwa kebijakan Trump yang terbaru tidak memprioritaskan kepentingan utama pemerintahan AS yaitu untuk mendorong keluar Assad yang telah bertahan karena bantuan masif dari Iran dan Rusia

“Belum ada jawaban untuk masalah Assad” kata Firas Maksad, Direktur dari Washington yang bearfiliasi dari sebuah lembaga Arabia. “Assad telah sukses, setidaknya dapat dipastikan untuk masa depan dan dia dapat mempertahankan kekuasaannya itu”

Selain itu, “Proses Genewa” yang digadang-gadang akan menjadikan jalan untuk memimpin transisi politik di Suriah, beberapa pejabat resmi senior AS yang tidak ingin disebutkan namanya, menyatakan bahwa “Proses Genewa” itu telah gagal dan sudah waktunya untuk berpikir kembali.

“Proses Genewa tidak bekerja, dan sudah waktunya mencari sesuatu yang baru atau merubahnya” ucap salah satu pejabat AS.

Dennis Ross yang sempat menjadi penasehat utama Timur Tengah pada masa Presiden Barack Obama dalam periode pertama, menyatakan serangan misil (Trump) hanya akan memberikan sedikit efek dari keseluruhan situasi di Suriah.

Pendekatan Trump, menurutnya, “Bukan soal keseimbangan kekuatan di Suriah, ini soal ISIS dan mencegah Assad dalam menggunakan senjata kimia”.

“Serangan yang mungkin saja dapat meyakinkan Putin untuk berhenti lebih jauh menggunakan senjata kimia oleh Assad telah menunjukkan bahwa kita (AS) harus menarik diri untuk keluar dari Suriah, karena serangan (Trump) tidak merubah realitas” kata Ross.

Rusia telah menyatakan kemenangan tiga kali di Suriah dan menghalangi upaya internasional untuk transisi politik dan mengagalkan (pemberontak) mengambil kuasa atas Assad” kata Maksad.

“Putin memiliki keinginan politik dan daya tahan yang kuat untuk tetap fokus di Suriah dan ia telah menunjukkannya selama hampir 3 tahun” tambah Maksad.

Sumber: Reuters

Diterjemahkan Labib Syarief

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here