Kelahiran, Nasab dan Masa Kecil Syekh Abil Hasan Asy Syadzily

Asy Syekh al Imam al Quthub al Ghouts Sayyidina Asy Syarif Abul Hasan Ali asy Syadzily al Hasani bin Abdullah bin Abdul Jabbar, terlahir dari rahim sang ibu di sebuah desa bernama Ghomaroh, tidak jauh dari kota Saptah, negeri Maghrib al Aqsho atau Marokko, Afrika Utara bagian ujung paling barat, pada tahun 593 H / 1197 M. Dia adalah dzurriyat atau keturunan ke dua puluh dua dari junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dengan urut-urutan sebagai berikut, asy Syekh Abil Hasan Ali asy Syadzily adalah putra dari:

1. Abdullah, bin

2. Abdul Jabbar, bin

3. Tamim, bin

4. Hurmuz, bin

5. Khotim, bin

6. Qushoyyi, bin

7. Yusuf, bin

8. Yusa ‘, bin

9. Wardi, bin

10. Abu baththal, bin

11. Ali, bin

12. Ahmad, bin

13. Muhammad, bin

14. ‘Isa, bin

15. Idris al Mutsanna, bin

16. Umar, bin

17. Idris, bin

18. Abdullah, bin

19. Hasan al Mutsanna, bin

20. Sayyidina Hasan, bin

21. Sayyidina Ali bin Abu Thalib wa Sayyidatina Fathimah az Zahro ‘binti

22. Sayyidina wa habibina wa syafi’ina Muhammadin, rosulillaahi shollolloohu’ alaihi wa aalihi sallam.

Sejak kecil Dia biasa dipanggil dengan nama: ‘ALI, sudah dikenal sebagai orang yang memiliki akhlaq atau budi pekerti yang amat mulia. Tutur katanya sangat fasih, halus, indah dan santun, serta mengandung makna pengertian yang dalam. Di samping memiliki cita-cita yang tinggi dan luhur, Beliau juga tergolong orang yang memiliki kegemaran ilmu. Di desa tempat kelahirannya ini, Beliau mendapat tempaan pendidikan akhlaq dan cabang ilmu-ilmu agama lainnya langsung di bawah bimbingan ayah-bunda dia. Dia tinggal di desa tempat kelahirannya ini sampai usia 6 tahun, yang kemudian pada akhirnya hijrah ke kota Tunis (sekarang ibu kota negara Tunisia,

Dia sampai di kota Tunis, sebuah kota pelabuhan yang terletak di tepi pantai Laut Tengah, pada tahun 599 H / 1202 M. Di suatu hari Jumat, Dia pernah ditemui oleh Nabiyyullah Khidlir ‘alaihissalam, yang mengatakan bahwa pada saat itu berada diutus untuk disampaikan putusan Allah SWT atas dirinya yang pada hari itu telah terpilih menjadi kekasih Robbul ‘Alamin dan sekaligus diangkat sebagai Wali Agung akibat Beliau memiliki budi luhur dan akhlaq mulia.

Segera setelah bertemu dengan Nabiyyullah Khidir seperti itu, Beliau segera menghadap Syekh Abi Said al Baji, rokhimahullah, salah seorang ulama besar di Tunis pada waktu itu, dengan maksud untuk mengemukakan segala peristiwa yang Dia alami sepanjang hari itu. Akankah pada saat sudah berada di hadapan Syekh Abi Said, sebelum Dia mengungkapkan apa yang menjadi maksud dan tujuannya menghadapi, ternyata Syekh Abi Said al Baji sudah pasti sebelumnya dengan jelas dan runtut menguraikan tentang semua perjalanan Dia sejak keberangkatannya dari rumah sampai diangkat dan ditetapkan dia sebagai Wali Agung pada hari itu. Sejak saat itu Beliau tinggal bersama Syekh Abi Said sampai beberapa tahun guna menimba berbagai cabang ilmu agama. Dari Syekh Abi Said Dia banyak belajar ilmu-ilmu tentang Al Qur’an, hadits, fiqih, akhlaq, tauhid, bisa dicoba ilmu-ilmu alat. Selain itu, karena kedekatan Dia dengan sang guru, Beliau juga berkesempatan mendampingi Syekh Abi Said menunaikan ibadah haji ke Mekkah al Mukarromah sampai beberapa kali. Namun, setelah sekian tahun ilmu, Beliau merasa memiliki ilmu yang dimilikinya, mulai dari ilmu fiqih, tasawwuf, taukhid, sampai ilmu-ilmu tentang al Qur’an dan hadist, semuanya itu rasakan masih pada tataran syariat atau kulitnya saja. Karena itu Beliau berketetapan hati untuk segera menemukan jalan (thoriqot) itu sekaligus pembimbing (mursyid) -nya dari seorang Wali Quthub yang memiliki wewenang untuk memandu perjalanan ruhaniyah ke arah hadirat Allah SWT? Maka dengan tekad yang kuat Dia memberanikan diri untuk berpamitan sekaligus memohon doa restu kepada sang guru, syekh Abi Said al Baji,
Perangan Mencari Sang Quthub

Tempat pertama yang dituju oleh Dia adalah kota Mekkah yang merupakan pusat peradaban Islam dan tempat berhimpunnya para ulama dan sholihin yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk memperdalam berbagai cabang ilmu-ilmu agama. Namun setelah berbulan-bulan tinggal di Mekkah, Beliau belum juga berhasil menemukan orang yang tujuan. Sampai akhirnya pada suatu tempat duduk Dia memperoleh keterangan dari beberapa ulama di Mekkah yaitu Sang Quthub yang Dia cari itu kemungkinan ada di negeri Irak yang berjarak ratusan kilo meter dari kota Mekkah.

Sesampainya di Irak, dengan tidak diperlukan-buang waktu, segeralah Dia bertanya ke sana-sini tentang seorang Wali Quthub yang Dia cari kepada setiap ulama dan masyayikh yang berhasil Dia temui. Akankah, mereka semua rata-rata menyatakan tidak mengetahui keberadaan seorang Wali Quthub di negeri itu.

Memang sepenuh hati Sulthonil Auliya’il Quthbir Robbani wal Ghoutsish Shomadani Sayyidisy Syekh Abu Muhammad Abdul Qodir al Jilani, rodliyallahu ‘anh, wali Quthub yang menggantikan Syekh Abdul Qodir Jilani oleh Allah disamarkan atau tidak dinampakkan dengan jelas. Pada waktu kedatangan Syekh Abil Hasan ke Baghdad itu, Syekh Abdul Qodir Jailani (470 – 561 H./1077 – 1166 M.) sudah wafat sekitar 50 tahun sebelumnya (selisih waktu antara wafatnya Syekh Abdul Qodir dan lahirnya Syekh Abil Hasan terpaut sekitar 32 tahun ). Di kala hidup, asy Syekh. Abdul Qodir oleh para ulama minash Shiddiqin sebagai seorang yang berkedudukan “Quthbul Ghouts”.

Akhirnya, Beliau mendengar adanya seorang ulama yang merupakan seorang pemimpin dan khalifah thoriqot Rifa’iyah yaitu asy Syekh ash Sholih Abul Fatah al Wasithi, rodliyAllahu ‘anh. Syekh Abul Fatah adalah, yang memiliki pengaruh dan pengikut cukup besar di Irak pada waktu itu. Segeralah Dia sowan kepada Syekh Abul Fatah dan mengemukakan yang sedang mencari seorang Wali Quthub yang akan Dia minta kesediaannya untuk menjadi pembimbing dan penyayang ruhani Dia menuju ke hadirat Allah SWT.

Mendengar penuturannya, asy Syekh Abul Fatah sembari tersenyum kemudian berkata, “Wahai anak muda, minta mencari Quthub jauh jauh sampai ke sini, orang yang suka cari sebenarnya berada di negeri asalmu sendiri. Beliau adalah seorang Quthubuz Zaman nan Agung pada saat ini. Ayo pulanglah ke Maghrib (Maroko) dari pada bersusah payah berkeliling mencari di negeri ini. Dia, pada saat ini sedang berada di tempat khalwatnya, di sebuah gua di puncak gunung. Temuilah yang kita cari di sana! ”
Berguru Kepada Sang Quthub

Beberapa saat setelah mendapat penjelasan dari Syekh Abul Fatah al Wasithi, Beliau segera mohon diri siap minta restu agar dia bisa segera berhasil menyanyikannya sanguh Quthub yang sedang dicarinya. Sesampainya di Maroko, Dia langsung menuju ke desa Ghomaroh, tempat di mana Dia menyala. Tidak berapa lama kemudian, Beliau segera bertanya-tanya kepada penduduk biasa maupun setiap pendatang diwall tinggalnya sang Quthub. Hampir setiap orang yang Dia temui selalu ditanyai tentang lingkungan sanguh Quthub. Akhirnya setelah cukup lama dicari didapat keterangan dari orang yang dimaksud oleh Syekh Abul Fatah tiada lain adalah Sayyidisy Syekh ash Sholih al Quthub al Ghouts asy Syarif Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al Hasani, yang pada saat itu sedang berada di tempat pertapaannya, di sebuah gua yang letaknya di puncak sebuah gunung di padang Barbathoh. Demi ngomong itu, sama seperti yang dijelaskan oleh Syekh Abul Fatah al Wasithi al Iraqi, segera saja menuju ke tempat yang ada itu.

Setelah melakukan perjalanan yang waktu beberapa hari, akhirnya ditemukanlah gunung yang tujuan. Beliau segera melakukan gunung itu menuju ke puncaknya. Dan, memang benar adanya, di puncak gunung itu ada sebuah gua. Sebelum Dia turun perjalanannya untuk naik ke gua itu, Dia berhenti di sebuah mata air yang ada di bawah gua tersebut. Selanjutnya Dia lalu mandi di udara mata itu. Hal hal ini dilakukannya semata-mata demi memberikan penghormatan sekaligus untuk mengagumi sang Quthub, sebagai salah seorang yang memiliki derajat kcmuliaan dan keagungan di sisi Robbul ‘alamin, disamping juga sebagai seorang calon guru Beliau. Setelah selesai mandi, Beliau merasakan segala ilmu dan amal Dia luruh berguguran. Dan seketika itu pula ia merasakan saat ini telah menjadi seorang yang benar-benar faqir dari ilmu dan amal. Kemudian, setelah itu Dia lalu berwudlu dan bangun diri untuk naik menuju ke gua tersebut. Dengan penuh rasa tawadhu ‘dan rendah diri, Dia mulai mengangkat kaki untuk keluar dari mata air itu.

Namun, entah datang dari arah mana, tiba-tiba datang seseorang yang tampak sudah lanjut usia. Orang tersebut terjemah pakaian yang amat sederhana. Bajunya penuh dengan tambalan Disamping kepala, orang sepuh itu isi songkok yang dibuat dari anyaman jerami. Dari sinar uleni itu yang memiliki derajat kesholihan dan ketaqwaan yang amat luhur. Kendati berpenampilan sederhana, tapi orang ini terlihat sangat anggun, arif, dan berwibawa. Kakek tua itu kemudian mendekatinya seraya salam salam, “Assalamu’alaikum”. Dia, dengan agak sedikit terkejut, dan merta salam salam itu itu, “Wa ‘alaikumus salam wa rokhmatullohi wa barokatuh.” Belum pula habis rasa keterkejutan dia, orang yang tadi menyapa dengan mengatakan, “Marhaban! Ya, Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin …. “dan seterusnya nasab Dia kasih dengan runtut dan jelas sampai akhirnya berujung kepada baginda Rosululloh, shollollohu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Mendengar itu semua, Dia menyimaknya dengan penuh rasa takjub. Belum sampai beliau mengeluarkan kata-kata, orang tersebut kemudian di lanjutkan, “Ya Ali, kamu datang kepadaku sebagai seorang faqir, baik dari ilmu maupun amal perbuatanmu, maka akan diambil dari aku kekayaan dunia dan akhirat.” Dengan demikian, maka jadi jelas dan yakinlah Dia kini, sedang orang yang sedang berada di hadapannya itu benar-benar asy Syekh al Quthub al Ghouts Sayyid Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al Hasani, rodhiyAllahu ‘anh, orang yang selama ini dicari-carinya. “Wahai anakku, hanya puji syukur alhamdulillah kita haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita pada hari ini. “Berkata Syekh Abdus Salam lagi,” Ketahuilah, wahai anakku, ada yang benar-benar datang ke sini, Rosululloh SAW telah memberi pujian kepadaku segala hal-ihwal tentang diri ¬mu, dan akan nanti pada hari ini. Selain itu, aku juga mendapat tugas dari Dia agar memberikan pendidikan dan bimbingan untukmu. Oleh karena itu, ketahuilah, memang ke arahku memang sengaja untuk menyambutmu “. aku juga mendapat tugas dari Dia agar memberikan pendidikan dan bimbingan untukmu. Oleh karena itu, ketahuilah, memang ke arahku memang sengaja untuk menyambutmu “. aku juga mendapat tugas dari Dia agar memberikan pendidikan dan bimbingan untukmu. Oleh karena itu, ketahuilah, memang ke arahku memang sengaja untuk menyambutmu “.

Selanjutnya, Dia tinggal bersama dengan sang guru di situ sampai waktunya yang cukup lama. Beliau sangat mereguk ilmu-ilmu tentang hakikat ketuhanan dari Syekh Abdus Salam, yang selama ini belum pernah Dia dapatkan. Tidak sedikit pula wejangan dan nasihat-nasihat yang asyik Syekh ascent kepada beliau.

Pada suatu hari dikatakan oleh asy Syekh kepada beliau, “Wahai anakku, agarnya semua senantiasa melanggengkan thoharoh (mensucikan diri) dari syirik. Maka, kapan pun berhadats cepat-cepatlah bersuci dari ‘kenajisan cinta dunia’. Dan setiap kali kamu condong ke syahwat, maka perbaikilah apa yang hampir menodai dan menggelincirkan dirimu. ”

Berkata asy Syekh Ibnu Masyisy kepada beliau, “Pertajam pengelihatan imanmu, niscaya jangan-jangan ya; Dalam segala sesuatu; Pada sisi segala sesuatu; Bersama segala sesuatu; Atas segala sesuatu; Dekat dari segala sesuatu; Meliputi segala sesuatu; Dengan pendekatan yang sifatNya; Dengan tambahan bentuk keadaanNya. ”

Di lain waktu guru beliau, rodhiyallahu ‘anh, itu mengatakan,” Semulia-amal amal adalah empat disusul empat: KECINTAAN demi Allah; RIDHO atas ketentuan Allah; ZUHUD terhadap dunia; dan TAWAKKAL atas Allah.

Kemudian disusul pula dengan empat lagi, yaitu MENEGAKKAN fardhu-fardhu Allah; MENJAUHI larangan-laranganAllah; BERSABAR terhadap apa-apa yang tidak berarti; dan

WARO ‘menjauhi dosa-dosa kecil segala sesuatu yang melalaikan “.

Asy Syeih juga pernah berpesan kepada. dia, “Wahai anakku, janganlah kamu melangkahkan kaki kecuali untuk Allah, sesuatu yang bisa mendatangkan keridhoan Allah, dan jangan pula yang duduk di majelis kecuali yang aman dari murka Allah. Janganlah bersahabat dengan orang yang bisa membantu yang berlaku taat kepada-Nya. Serta jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang bisa menambah keyakinanmu terhadap Allah “.

Asy Syekh Abdus Salam sendiri adalah pribadi yang amat berpegang teguh kepada Kitab Allah dan sebagai Sunnah. Sementara pada Syekh Abil Hasan adalah muridnya, namun Syekh Abdus Salam juga sangat mengagumi ilmu yang akan dimiliki oleh sang murid, terutama tentang Kitabullah dan Sunnah, disamping derajat kesholihan dan kewaliannya, serta kekeramatan Syekh Abul Hasan.

Silsilah thoriqot ini urut-urutannya adalah sebagai berikut:

Beliau, asy Syekh al Imam Abil Hasan Ali asy Syadzily menerima bai’at thoriqot dari:

1. Asy Syekh al Quthub asy Syarif Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy, Beliau menerima talgin dan bai’at dari

2. Al Quthub asy Syarif Abdurrahman al Aththor az Zayyat al Hasani al Madani, dari

3. Quthbil auliya ‘Taqiyyuddin al Fuqoyr ash Shufy, dari

4. Sayyidisy Syekh al Quthub Fakhruddin, dari

5. Sayyidisy Syekh al Quthub NuruddinAbil HasanAli, dari

6. Sayyidisy Syekh Muhammad Tajuddin, dari

7. Sayyidisy Syekh Muhammad Syamsuddin, dari

8. Sayyidisy Syekh al Quthub Zainuddin al Qozwiniy, dari

9. Sayyidisy Syekh al Quthub Abi Ishaq Ibrohim al Bashri, dari

10. Sayyidisy Syekh al Quthub Abil Qosim Ahmad al Marwani, dari

11. Sayyidisy Syekh Abu Muhammad Said, dari

12. Sayyidisy Syekh Sa’ad, dari

13. Sayyidisy Syekh al Quthub Abi Muhammad Fatkhus Su’udi, dari

14. Sayyidisy Syekh al Quthub Muhammad Said al Ghozwaniy, dari

15. Sayyidisy Syekh al Quthub Abi Muhammad Jabir, dari

16. Sayyidinasy Syarif al Hasan bin Ali, dari

17. Sayyidina’Ali bin Abi Tholib, karromallahu wajhah, dari

18. Sayyidina wa Habibina wa Syafi’ina wa Maulana Muhammadin, shollollohu ‘alaihi wa aalihi wasallam, dari

19. Sayyidina Jibril,’ alaihis salam, dari

20. Robbul ‘izzati robbul’ alamin.

Setelah menerima ajaran dan baiat thoriqot ini, dari hari ke hari Beliau merasakan semakin terbungkus mata hati beliau. Beliau banyak menemukan rahasia-rahasia Ilahiyah yang selama ini belum pernah dialaminya. Sejak saat itu pula ia semakin merasakannya dalam samudera hakekat dan ma’rifatulloh. Hal ini, selain berkat dari keagungan ajaran thoriqot itu sendiri, juga tentunya karena kemuliaan barokah yang terpancar dari ketaqwaan sang guru, asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy, rodhiyAllahu ‘anh.

Thoriqot ini pula, di kemudian hari, yaitu pada waktu Dia kelak bermukim di negeri Tunisia dan Mesir, Dia kembangkan dan sebar luaskan ke seluruh dunia melalui murid-muridnya. Oleh karena Dia adalah orang yang pertama kali mendakwahkan dan mengembangkan ajaran thoriqot ini secara luas untuk masyarakat umum, jadi akhirnya masyhur mana-mana, maka Dia pun kemudian dianggap sebagai pendiri thoriqot ini yang pada akhirnya menisbatkan nama thoriqot ini dengan nama besar beliau, dengan sebutan “THORIQOT SYADZILIYAH”. Banyak para ulama dan pembesar-pembesar agama di seluruh dunia, dari saat itu sampai sekarang, yang mengambil berkah dari mengamalkan thoriqot ini. Sebuah thoriqot yang amat sederhana, tidak terlalu membebani bagi khalifah dan para guru mursyidnya sekaligus para pengamalnya.

Setelah cukup lama tinggal bersama asy Syekh, maka tibalah saat perpisahan antara guru dan murid. Pada saat perpisahan itu Syekh Abdus Salam membuat pemetaan kehidupan murid tercinta Dia tentang hari-hari yang akan dilalui oleh Syekh Abil Hasan dengan mengatakan, “Wahai anakku, setelah usai masa berguru, maka tibalah saat ini untuk sekuelnya. Sekarang pergilah dari sini, lalu mengadakan sebuah daerah yang bernama SYADZILAH. Untuk beberapa waktu tinggallah di sana. Maka harusnya kau tahu, di sana pula Allah ‘Azza wa Jalla akan menganugerahi engkau dengan nama yang indah, asy Syadzily. ”

“Setelah itu,” lanjut asy Syekh, “Kemudian mau pindah ke negeri Tunisia. Di sana engkau akan ada suatu musibah dan ujian yang datangnya dari penguasa negeri itu. Sesudah itu, wahai anakku, kamu akan pindah ke arah timur. Di sana pulalah kelak akan akan mendapat warisan al Quthubah dan menj adikan seorang hamba Quthub. ”

Pada saat akan berpisah, Dia naik satu permohonan kepada asy Syekh agar memberi wasiat untuk yang terakhir, dengan mengatakan, “Wahai Tuan Guru yang mulia, berwasiatlah untukku.” Asy Syekh pun kemudian berkata, “Wahai Ali, takutlah kepada Allah dan hati- hatilah terhadap manusia Sucikanlah lisanmu akan menyebut keburukan mereka, dan sucikanlah hatimu dari kecondongan terhadap mereka. Peliharalah anggota badanmu (dari segala yang maksiat, pena.) Dan tunaikanlah setiap yang difardhukan dengan sempurna. Dengan begitu, maka sempurnalah Allah mengasihani dirimu. ”

Lanjut asy Syekh lagi, “Jangan kamu ketemu mereka, tapi utamakanlah kewajiban yang menjadi hak Allah atas dirimu, maka dengan cara yang akan menjadi sempurnalah waro’mu.” “Dan berdoalah wahai anakku, ‘Ya Allah, rahmatilahlah diriku dari ingatan kepada mereka dan dari segala hal yang datang dari mereka, dan selamatkanlah daku dari kejahatan mereka, dan cukupkanlah daku dengan kebaikan-kebaikanMu dan bukan dari mereka, dan kasihilah diriku dengan beberapa kelebihan dari antara mereka. Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah atas segala sesuatu Dzat Yang Maha Berkuasa. ”

Selanjutnya, setelah perpisahan itu, asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy yang sedang di kota Fes, Maroko, tetap tinggal di negeri kelahirannya sampai akhir hayat dia. Sang Quthub nan agung ini meninggal dunia pada tahun 622 H./1225 M. Makam Dia sampai saat ini ramai diziarahi kaum muslimin yang datang dari seluruh dunia.
Di Syadzilah

Seusai berpisah dengan asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy, Dia mulai menapaki perjalanan yang pertama sebagai apa yang telah dipetakan oleh sang guru, yaitu mencari sebuah desa bernama Syadzilah. Setelah dicari-cari, akhirnya sampailah Dia di sebuah desa bernama Syadzilah yang terletak di wilayah negeri Tunisia. Pada saat Dia tiba di desa itu, yang mengherankan, Dia sudah penuh dan dielu-elukan oleh segenap penduduk Sya¬dzilah, sedang Dia sendiri tidak tahu siapa sebenarnya yang memberitakan akan kedatangan beliau. Tapi, itu sebuah kenya ¬ taan mereka dalam memberikan kesan kepada mereka yang terlihat dari terlihat raut wajah mereka yang kegembiraan yang amat dalam, seolah mereka bisa bertemu dengan orang yang sudah lama dinanti-nantikan.

Dia tinggal di tengah-tengah desa Syadzilah hanya beberapa hari saja. Karena, sejak tiba di kota itu, Beliau telah memutuskan untuk tidak berlama-lama berada di tengah keramaian masyarakat. Dia ingin bermukim di tempat yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuknya orang-orang. Memang, tujuan Dia datang ke kota itu, sesuai dengan petunjuk sang guru, semata-mata untuk lebih meningkatkan dan menjalankan ibadah Dia dengan cara menjauh dari masyarakat.

Akhirnya, Dia memilih tempat di luar kota Syadzilah, yaitu di bukit yang disebut Zaghwan. Maka, berangkatlah Dia ke bukit itu dengan diiringi oleh sahabat Nabi Abu Muhammad Abdullah bin Salamah al Habibie. Dia adalah seorang pemuda penduduk asli Syadzilah yang memiliki ketaqwaan dan telah terbuka mata hatinya (mukasyafah).

Di bukit itu, Beliau melakukan laiihan-latihan ruhani dengan menerapkan disiplin diri yang tinggi. Setiap jengkal waktu, Dia digunakan untuk menempa ruhani dengan melakukan riyadhoh, mujahadah dan menjalankan wirid-wirid yang telah diajarkan oleh guru beliau, asy Syekh Abdus Salam. Di bukit itu, Beliau melakukan uzlah dan suluk dengan cara menggladi nafsu dengan benar-benar menjadi pribadi yang cemerlang dan istiqomah yang diliputi dengan rasa khidmah dan mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Untuk kehidupannya, Dia bersama sahabat setianya, al Habibie, hanya mengambil tumbuhan yang ada di sekitar bukit Zaghwan itu saja. Tapi, sejak Dia bermukim di bukit itu, Allah SWT telah mengaruniakan sebuah mata air untuk meme¬nuhi keperluan beliau.

Pernah, pada suatu hari, Dia menyaksikan gusi al Habibie terluka sampai mengeluarkan darah lantaran terkena ranting dari dedaunan yang dimakannya. Melihat hal itu, Leliau menjadi terharu karena sahabat yang setia mengiringinya harus kesakitan. Segera saja, setelah itu, Ia mengajak al Habibie turun ke desa Syadzilah untuk mencari makanan yang lunak. Dan sekiranya sudah tercukupi, maka sama sekali sama kembali naik ke bukit zaghwan untuk perjalanan “perjalanan”. Memang, semenjak beruzlah di bukit itu, kadang-kadang-kadang Dia kembali ke desa Syadzilah untuk berbagai keperluan.

Berkaitan dengan pengalaman keruhanian, diceritakan oleh al Habibie, pada suatu saat dia pernah melihat dalam pandangan mata batinnya, nampak segerombolan malaikat, ‘alaihimus sholatu adalah salam, mengerumuni asy syekh. Bahkan, lanjut al Habibie, “sebagian dari malaikat itu ada yang berjalan beriringan bersamaku dan ada pula yang bercakap-cakap dengan aku.” Tidak jarang pula dilihat oleh al Habibie arwah para waliyulloh yang secara berkelompok maupun sendiri-sendiri, mendatangi dan mengerubuti asy Syekh . Para wali-wali itu, rohimahumulloh, didengar oleh al Habibie, merasakan hasil berkah lantaran kedekatan dan kebersamaan mereka dengan asy syekh.

Sehubungan dengan nama desa Syadzilah, yang akhirnya bertautan dengan nama beliau, diceritakan oleh beliau, apakah Dia pada suatu saat dalam fana’nya, pernah mengemukakan sebuah pertanyaan kepada Allah SWT, “Ya Robb, mengapa nama Syadzilah Engkau kaitkan dengan namaku?” Maka, kata kepadaku, “Ya Ali, aku tidak menamakan dengan nama asy Syadzily, tapi asy Syaadz-ly (istilah kata pada” dz “) yang berarti jarang (langka), karena karena kegunaannya dalam menyatu untuk berkhidmat demi untuk uiKu dan demi cinta ke-Ku. ”

Dia tinggal di bukit Zaghwan itu sampai tahun-tahun, sampai pada suatu hari, perintah dari Allah SWT agar turun dari bukit khalwatnya untuk segera mendatangi masyarakat.

Diceritakan oleh beliau, begini, “Pada waktu itu sudah disebutkan kepadaku, ‘Hai Ali, turun dan datangilah manusia-manusia, agar mereka mendapatkan manfaat dari padamu!’ Lalu, akupun mengatakan, ‘Ya Allah, selamatkanlah diriku dari manusia banyak, karena aku tidak berkemampuan untuk bergaul dengan mereka’. Lalu bilang kepadaku, ‘Turunlah, wahai Ali! Aku akan mendampingimu dengan keselamatan dan akan aku singkirkan engkau dari marabahaya ‘. Aku mengatakan pula, ‘Ya Allah, Engkau serahkan diriku kepada manusia-manusia, termasuk apa yang aku makan dan harta yang aku pakai?’ Maka, kata kepadaku, ‘Hendaklah engkau menafkahkan dan aku-lah yang mengisi, pilihlah dari jurusan tunai ataukah jurusan ghaib.’ ‘

Setelah selesai seperti apa yang telah dipetakan oleh asy Syekh Abdus Salam dan setelah mendapat perintah untuk keluar dari tempat uzlahnya guna mendatangi masyarakat, maka Dia segera turunkan perjalanannya sesuai dengan pemetaan berikutnya, yaitu menuju ke kota Tunis.
Di Tunis

Bagi dia, kota Tunis tentu sudah tidak asing lagi. Karena sejak usia anak-anak sampai remaja Dia bemukim di kota ini sampai tahun-tahun. Namun, seperti apa yang Dia saksikan pada saat kedatangan Dia kali ini, ternyata negeri ini tidak banyak mengalami perubahan dan kemajuan. Masih tetap seperti dulu. Penduduk negeri ini tetap miskin dan sering dilanda kelaparan. Namun demikian, sejak kedatangannya, Dia juga masih tetap berusaha untuk meringankan penderitaan warga dalam kelangsungan kelaparan. Alkisah, dalam usaha Beliau memberikan pertolongan kepada mereka, Dia sering didatangi nabiyulloh Khidlir, ‘alaihissalam, guna membantu Dia sekaligus untuk menyelamatkan Dia dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Hal ini terjadi karena berkat kebesaran jiwa dan kesantunan dia.

Pada saat itu, negeri Tunisia berada di bawah kuasa pemerintahan seorang sultan atau raja yang bernama Sultan Abu Zakariyya al Hafsi. Dalam pemerintahan Sultan Abu Zakariyya, di antara jajaran para menterinya ada seorang kadi (hakim agama) yang disebut Ibnul Baro ‘. Dia adalah seorang faqih, namun di sisi lain dia juga memiliki hati yang buruk. Keserakahan untuk memiliki reputasi, pengaruh, dan kekuatan yang nafsu iri dengkinya tumbuh subur di dalam hati Ibnuul Baro ‘. Dendam kesumat dan keinginan jatuh orang lain pun semakin membara dalam dadanya. Pikiran dan hatinya siang malam hanya tertuju bagaimana cara mempertahankan dan menguatkan dan jabatannya.

Asy Syekh Abil Hasan datang ke Tunis selain untuk menapaki seperti apa yang telah dipetakan oleh guru beliau, juga karena memang mendapat perintah untuk berdakwah. Setelah beberapa bulan melakukan melakukan dakwah di kota Tunis itu, maka semakin banyak orang-orang berkerumun mendatangi dia. Selain masyarakat yang hadir dalam majelis-majelis pengajiannya, juga tidak sedikit orang-orang alim, sholih dan ahli karomah yang turut serta mendengarkan dan menyimak nasehat-nasehat beliau. Di antara mereka tampak, antara lain: asy Syekh Abul Hasan Ali bin Makhluf asy Syadzily, Abu Abdullah ash Shobuni, Abu Muhammad Abdul Aziz az Zaituni, Abu Abdullah al Bajja’i al Khayyath, dan Abu Abdullah al Jarihi. Mereka semua merasakan kesejukan siraman rohani yang luar biasa yang keluar dari kecemerlangan hati dan lisan nan suci asy syekh.

Fenomena tersebut ditangkap oleh Ibnul Baro ‘sebagai sebuah pemandangan yang amat tidak mengenakkan perasaannya. Keberadaan asy Syekh di kota Tunis ini dianggap sebagai kerikil yang mengganggu bagi dirinya. Setiap berita yang berhubungan dengan asy Syekh ditangkap oleh telinga Ibnuul Baro ‘lalu menyusup masuk ke relung hati yang telah terbakar kebencian dan rasa iri dengki yang mendalam.

Demi melihat tubuh manusia semakin condong dan berebut mengerumuni asy Syekh, seketika itu pula pudarlah khayalan-khayalan Ibnul Baro ‘. Timbul prasangka buruk dari Syekh Abil Hasan telah merampas haknya, bahkan besar kemungkinan kalau pada akhirnya nanti akan menumbangkannya juga mengambil alih posisi yang amat dicintainya itu. Oleh karena itu, dengan menepuk dada disertai sikap angkuhnya Ibnul Baro ‘mengumumkan pernyataan secara terang-terangan, dia telah memaklumkan “perang” melawan Syekh Abil Hasan Ali asy Syadzily, rodhiyallahu’ anh.

Namun demikian, meski demikian, tak ada yang bisa diandalkan. Beliau adalah seorang kekasih Allah yang memiliki derajat kemuliaan yang tinggi. Dan jadilah seorang kekasih-Nya yang dianiaya oleh orang lain, maka Allah sendirilah yang akan membalasnya. Itulah yang terjadi, jadi akhirnya seluruh negeri mencari kemulian asy Syekh Abil Hasan Syadzily, rodhiyallahu ‘anh.

Setelah itu, terbetik dalam hati asy Syekh untuk kembali menunaikan ibadah haji. Dia lalu menyerukan kepada para murid dan pengikutnya agar mereka, untuk sementara waktu, hijrah atau berpindah ke negeri sebelah timur, sambil menunggu datangnya musim haji yang pada waktu itu masih kurang beberapa bulan lagi. Maka, segera bersiaplah dengan para pengikutnya untuk melakukan perjumpaan jauh menuju ke negeri Mesir.

Dalam perjalan ke Mesir ini masih belum lepas dari rekayasa fitnah Ibnuul Baro ‘agar Sultan mempermasalahkannya. Dia di negeri Mesir. Tapi Allah tetap memberikan perintah-Nya, menujukkan asy Syekh itu kekasihnya dan dengan kebesaran hati dan kehalusan budi pekerti beliaulah, akhirnya dia mau memaafkan dan mendoakan Sultan sampai mereka semua menganggap pertemuan mereka dengan as Syekh adalah anugerah Tuhan yang tiada terkira bagi mereka.

Namun, penyampaian yang telah direncanakan, asy Syekh tinggal di Mesir hanya untuk beberapa bulan saja, sampai datangnya waktu musim haji. Setelah tiba pada saatnya. Syekh pun mohon diri kepada Sultan untuk dapat melanjutkan perjalanan menuju ke tanah suci Mekkah. Ringkas cerita, di sana ibadah ibadah haji sampai secukupnya, lalu naik ke tanah suci Madinah guna untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW. Setelah semuanya itu selesai, maka kembalilah kesehatan dicoba rombongan ke negeri Tunisia.

Sewaktu asy Syekh kembali dari tanah suci, Sultan Abu Zakariyya al Hafsi dicadangkan warga Tunis tampak bersukacita menyambut kedatangan beliau. Rasa gembira sulit mereka sembunyikan, karena asy Syekh yang mereka cintai dan mereka hormati kini sudah kembali berkumpul bersama mereka lagi. Namun, suasana gembira ini tidak berlaku bagi Ibnul Baro ‘. Bagi dia, kembalinya asy Syekh berarti sebuah “malapetaka” dan pertanda dimulainya lagi sebuah “pertempuran”. Tetap seperti dulu. Dengan berbagai cara dia selalu berusaha agar asif Syekh, yang merupakan musuh bebuyutannya itu, secepatnya lenyap dari muka bumi ini. Namun, alhamdulillah, semua upaya jahat itu selalu menimbulkan kegagalan.

Kemudian, setelah beberapa hari sejak dari tanah suci, asy Syekh lalu turun tugasnya untuk mengajar dan berdakwah. Zawiyah atau pondok pesulukan, sebagai bengkel rohani yang Dia dirikan juga kian diminati para ‘pejalan’. Dalam catatan sejarah, zawiyah pertama yang asy Syekh dirikan di Tunisia adalah pads tahun 625 H./1228 M., saat Ia berusia sekitar 32 tahun. Di hari-hari berikutnya semakin banyak orang-orang yang hadiri dia, baik penduduk asli maupun orang-orang yang datang dari luar negeri Tunisia.

Di antara murid-murid asy Syekh yang datang dari luar negeri Tunisia; ada seorang pemuda yang berasal dari daerah Marsiyah, negeri Marokko, tidak jauh dari daerah tempat kelahiran asy Syekh sendiri, yang bernama Abul Abbas al Marsi. Pertemuan asy Syekh dengan pemuda ini tampak benar-benar merupakan suatu pertemuan yang amat istimewa, sampai-sampai pada suatu hari asy Syekh mengatakan, “Aku tentu tidak akan ditakdirkan kembali ke negeri Tunisia, kecuali karena pemuda ini. Dialah yang akan menjadi pendampingku dan dia pulalah yang kelak akan menjadi khalifah penggantiku. “Menurut sebuah catatan, pemuda al Marsi (al Mursi) ini masih berada di Maroko, pernah pula, meski tidak terlalu lama, berguru langsung kepada asy Syekh Abdus Salam sampai meninggalnya Dia tahun 622 H. / 1225 M.

Kembalinya asak Syekh ke Tunis dari perjalanan hajinya kali ini semata-mata untuk mendapatkan tugas mengajar dan berdakwah, seperti yang telah di ingat pada saat Dia di gunung Barbathoh dan di bukit Zaghwan. Semuanya itu Dia jalani sambil menanti datangnya “perintah” selanjutnya untuk menapaki seperti apa yang telah dipetakan oleh asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy. Pada saat pemetaan, guruNYA itu mengatakannya setelah bermukim di negeri Tunisia ini, yaitu setelah “dihajar” oleh penguasa negeri itu, maka Dia kemudian harus melanjutkan perjalanannya menuju ke arah timur.

Dalam hari-hari penantiannya itu, pada suatu malam asy Syekh bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Waktu itu, Rasulullah bersabda, “Ya Ali, sudah saatnya kemari negeri ini. Sekarang pergilah ke negeri Mesir. “Kemudian Rosululloh lanjutkan,” Dan ketahuilah, wahai Ali, selama dalam perjalananmu menuju ke Mesir, Allah akan menganugerahkan barang tujuh puluh macam karomah. Selain itu, di sana pula kelak akan akan mendidik empat puluh orang dari golongan shiddiqin. ”

Jadi, arus dicermati, saat turunnya asy Syekh dari puncak gunung di padang Barbathoh, Maroko, yang merupakan ‘langkah pertama’, adalah karena atas perintah guru beliau, asy Syekh Abdus Salam. Kemudian, pada waktu turunnya Dia dari bukit Zaghwan di Syadzilah, sebagai ‘langkah ke dua’, adalah karena perintah Allah SWT. Sementara, pada kali ini, keluarnya asy Syekh dari Tunisia menuju Mesir, sebagai ‘langkah ke tiga’ atau langkah yang terakhir, adalah perintah Rasulullah SAW.
Bermukim di Mesir

Beberapa hari asy Syekh dan rombongan melakukan perjalanan, tibalah asy Syekh di negeri Mesir. Dia langsung menuju ke kota Iskandaria, kota indah yang selalu dia singgahi setiap perjalanan haji dia. Alkisah, pads saat asy Syekh menginjakkan kaki di negeri Mesir, saat itu bertepatan tanggal 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban). Dan, karena takdir Allah jualah, hari itu bersamaan dengan wafatnya asy Syekh Abul Hajjaj al Aqshory, rodhiyAllahu ‘anh, yang dikenal sebagai Quthubuz Zaman pada waktu itu. Begitu, di kemudian hari, oleh para ulama minash shiddiqin Mesir, asy Syekh Abul Hasan asy Syadzily sejak hari itu juga telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai Wali Quthub seperti Syekh Abul Hajjaj al Agshory.

Kedatangan Dia di kota Iskandaria ini mendapat sambutan hangat dari Sultan Mesir atau penduduk yang sudah banyak mengenal dan meneruskan nama beliau. Tidak hanya orang-orang dari kalangan biasa, tapi juga segenap ulama, para sholihin dan shiddiqin, para ahli hadits, ahli fiqih, dan manusia-manusia yang sudah mencapai tingkat kemuliaan lainnya. Mereka semua, dengan senyum kebahagiaan membuka tangan seraya mengucapkan, “Marhaban, ahlan wa sahlan! “Pertemuan mereka dengan asy Syekh tampak begitu akrab dan hangatnya, seakan-akan perjumpaan sebuah keluarga yang sudah lama terpisah. Negeri Irak, negeri Mesir juga merupakan gudangnya para ulama besar minash sholihin di wilayah itu.

Oleh Sultan Mesir, Beliau diberi hadiah sebuah tempat tinggal yang cukup luas bernama Buruj as Sur. Tempat itu berada di kota Iskandaria, sebuah kota yang terletak di pesisir Laut Tengah. Kota Iskandaria (Alexandria) terkenal sebagai kota yang amat indah, menyenangkan, dan penuh keberkahan. Di komplek pemukimanNYA itu ada tempat penyimpanan udara dan kandang-kandang hewan. Di tengah-tengah komplek ada sebuah masjid besar, dan di sebelahnya ada petak-petak sebagai zawiyah (tempat tinggal para murid thoriqot untuk uzlah atau suluk).

Di tempat itu pula asia Syekh melakukan pernikahan dan membangun bahtera rumah tangga beliau. Dari pernikahan asy Syekh, lahirlah beberapa putra dan keturunan beliau, dierah: asy Syekh Syahabuddin Ahmad, Abul Hasan Ali, Abu Abdullah Muhammad Syarafuddin, Zainab, dan ‘Arifatul Khair. Sebagian putra-putri nya setelah menikah kemudian menetap di kota Damanhur, tidak jauh dari Iskandaria. Sementara lagi tinggal di Iskandaria menemani asy Syekh bersama ibunda mereka.

Seperti apa yang telah dilakukan di Tunisia, di “negeri para ulama” ini pun syekh juga tetap berdakwah dan mengajar. Asy Syekh membuat kota Iskandaria yang penuh keberkahan ini sebagai pusat dakwah dan pembangunan thoriqot Dia pada tahun 642 H. / 1244 M. Dia kemudian membangun sebuah masjid dengan menara-menara besar yang menjulang tinggi ke angkasa. Di salah satu menara itu asy Syekh menjalankan tugas sebagai seorang guru mursyid, yaitu sebagai tempat untuk membai’at murid-muridnya. Sementara di bagian menara yang lain, Dia pergunakan sebagai tempat untuk “menyalurkan hobby” Dia selama ini, yaitu khalwat. Selain di Iskandaria, di kota Kairo pun, sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Mesir, Beliau juga memiliki kegiatan rutin mengajar.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, majelis-majelis pengajian Dia dibanjiriihat, baik dari kalangan masyarakat awam, keluarga dan petinggi kerajaan, maupun para ulama besar dan terkemuka. Para orang-orang alim dan sholeh yang bertemu dan sedang penguraian dan pengajian-pengajiannya, yang datang dari barat maupun timur, mereka semua merasa kagum dengan apa yang disampaikan oleh asy syekh. Bahkan, tidak sampai berhenti di situ saja. Mereka pun juga berbai’at kepada asy Syekh sekaligus menyatakan diri sebagai muridnya.

Dari deretan para ulama itu, ada nama-nama agung, seperti: Sulthonul ‘Ulama Sayyid asy Syekh’ Izzuddin bin Abdus Salam, asy Syaikhul Islami bi Mishral Makhrusah, asy Syekh al Muhadditsiin al Hafidh Taqiyyuddin bin Daqiiqil ‘memimpin, asy Syekh al Muhadditsiin al Hafidh Abdul ‘Adhim al Mundziri, asy Syekh Ibnush Sholah, asy Syekh Ibnul Haajib, asy Syekh Jamaluddin Ushfur, asy Syekh Nabihuddin bin’Auf, asy Syekh Muhyiddin bin Suroqoh, dan al Alam Ibnu Yasin (salah satu murid terkemuka al Imamul Akbar Sayyidisy Syekh Muhyiddin Ibnul Arabi, rodhiyAllahu ‘anh, wafat tahun 638 H./1240 M.), dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka semua hadir juga dengan tekun dan seksama majelis pengajian yang sudah ditentukan secara berkala oleh asy Syekh, baik di Iskandaria maupun Kairo. Di Kairo,

Selain dakwah dan syiar Dia melalui majelis-majelis pengajian, khususnya dalam bidang ilmu tasawuf, semakin berkembang dan berkembang pesat, thoriqot yang Dia dakwahkan pun semakin berkibar. Orang-orang yang datang untuk berbaiat dan mengambil barokah thoriqot Dia datang dari segala penjuru dan memiliki latar belakang beraneka warna. Mulai dari masyarakat umum hingga para ulama, para pejabat sampai rakyat jelata. Zawiyah (pondok pesulukan), sebagai wadah penempaan ruhani, yang Dia dirikan pun kian hari semakin dipadati oleh santri santri.

Thoriqot yang asy Syekh terima dari guru beliau, asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy, Dia dakwahkan secara terbuka dan terbuka. Sebuah thoriqot yang memiliki karakter tasawuf ala Maghribiy, yaitu lebih memiliki kecenderungan dan warna syukur, sehingga bagi para pengikutnya dalam pengamalannya tidak terlalu memberatkan. Dalam pandangan thoriqot ini, segala yang terhampar di permukaan bumi ini, baik itu yang terlihat, terdengar, terasa, menyenangkan, dan tidak menyenangkan, semuanya itu media yang bisa digunakan untuk “lari” kepadaAllah SWT.

Selain itu, thoriqot yang Dia populerkan ini juga dikenal sebagai thoriqot yang termudah dalam hal ilmu dan amal, ihwal dan maqam, ilham dan maqal, serta dengan cepat bisa menghantarkan para pengamalnya sampai ke hadirat Allah SWT. Di samping itu, thoriqot ini juga terkenal dengan keluasan, keindahan, dan kehalusan doa dan hizib-hizibnya.

Di samping kiprah Dia dalam syiar dan dakwah serta pembinaan ruhani bagi para murid-muridnya, asy Syekh juga turut terlibat langsung di dalam peperangan. Saat itu, raja Perancis Louis IX yang sedang diperselisihkan kaum muslimin dari muka bumi sekaligus menumbangkan Islam dan menaklukkan seluruh jazirah Arab. Asy Syekh, yang kala itu sudah berusia 60 tahun lebih dan dalam keadaan sudah hilang pengelihatan, rumah dan keluarga berangkat ke kota Al Manshurah. Dia bersama para pengikutnya bergabung bersama para mujahidin dan para pelaku. Sementara pada saat itu pasukan musuh sudah berhasil menampung kota pelabuhan Dimyat (Demyaat) dan akan dilanjutkan dengan penyerbuan mereka ke kota Al Manshurah.

Selain syekh Abul Hasan, tidak sedikit para ulama Mesir yang turut berjuang dalam acara itu, antara lain: al Imam syekh Izzuddin bin Abdus Salam, syekh Majduddin bin Taqiyyuddin Ali bin Wahhab al Qusyairi, syekh Muhyiddin bin Suroqoh, dan syekh Majduddin al Ikhmimi. Para shalihin dan ulama minash shiddiqin itu, di waktu siang hari berpeluh bahkan berdarah-medan di medan perang bersama para pejuang lainnya demi tetap tegaknya panji-panji islam. Sementara, saat ini sudah tiba, mereka semua berkumpul di dalam kemah untuk bertawajjuh, menghadapkan diri kepada Allah SWT, dengan melakukan sholat dan menengadahkan tangan untuk berdoa dan bermunajat kepada “Sang Penguasa” agar kaum muslimin menghasilkan kemenangan. Setelahh selesai mereka beristighotsah, di tengah kepekatan malam, mereka pun mengkaji dan mendaras kitab-kitab, yang sedang ada dengan situasi pada saat itu. Kitab-kitab itu antara lain: Ihya Ulumuddin, Qutul Qulub, dan ar Risalah.

Dan, alhamdulillah, karena anugerah Allah jualah akhirnya peperangan itu dimenangkan oleh kaum muslimin. Raja Louis IX dicoba untuk para panglima dan bala tentaranya berhasil ditangkap dan ditawan. Perlu diketahui, sebelum berakhirnya peperangan itu, pada suatu malam asy Syekh, dalam mimpi beliau, bertemu dengan Rasulullah SAW. Pada waktu itu, Rasulullah SAW berpesan kepada Dia agar sesuai Sultan agar tidak diangkat pejabat-pejabat yang lalim dan korup. Dan Rasulullah menyatakan bahwa pertempuran akan segera berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslimin. Maka, pada pagi hari begus Syekh pun mengabarkan kabar gembira itu kepada teman-teman seperjuangan beliau. Dan lolos, setelah pejabat-pejabat itu diganti, maka kemenangan pun datang menjelang.
Wafatnya Asy Syekh Abil Hasan Asy Syadzily

Asy Syekh menjalankan dakwah dan mensyiarkan thoriqotnya di negeri Mesir itu sampai pada bulan Syawal 656 H./1258 M. Pada awal bulan Dzul Qa’dah tahun itu juga, terbetik di hati asy Syekh untuk kembali menjalankan ibadah haji ke Baitullah Keinginan itu sangat kuat mendorong hati beliau. Maka, kemudian diserukanlah kepada seluruh keluarga Dia dan sebagian murid asif Syekh untuk turut ikutai dia. Saat itu asy Syekh juga agar agar rombongan bawa pula seperangkat alat untuk barang. Perintah yang dirasa agak aneh bagi para pengikut beliau. Pada saat ada seseorang yang mencoba tentang hal itu, asy Syekh pun menj awab, “Ya, siapa tahu di antara kita ada yang di tempatkan nanti nanti.”

Pada hari yang sudah ditentukan, berangkatlah rombongan dalam jumlah besar itu saja ke negeri makassar al mukarromah. Pada saat perjalanan sampai di gurun ‘Idzaab, sebuah daerah di tepi pantai Laut Merah, tepatnya di desa Khumaitsaroh, yaitu antara Gana dan Quseir, asy Syekh memberi aba-aba agar rombongan jalan-jalan untuk beristirahat. Setelah mereka semua berhenti, lalu didirikanlah tenda-tenda untuk tempat peristirahatan. Kemudian, setelah mereka sejenak keluar penatnya, lalu asy syekh minta agar semua berkumpul di tenda asy syekh.

Setelah para keluarga dan murid Dia berkumpul, lalu asy Syekh memberi beberapa wejangan dan wasiat-wasiat Dia kepada mereka. Di antara wasiat yang Dia sampaikan, asy Syekh mengatakan, “Wahai anak-anakku, per perintah kepada putra-putramu agar mereka menghafalkan HIZIB BAHRI. Karena, ketahuilah di dalam hizib itu terkandung Ismullahil a’dhom, yaitu nama-nama Allah Yang Maha Agung. ”

Kemudian, setelah asy Syekh pesan-pesan itu itu, lalu asy Syekh bersama dengan murid terkemuka, asy Syekh Abul Abbas al Marsi, lepaskan mereka ke tempat yang tidak jauh dari tenda-tenda itu. Tapi dalam waktu yang tidak terlalu lama, send insan mulia itu sudah kembali masuk ke tenda semula, di mana pada waktu itu seluruh keluarga dan para murid Dia masih menunggunya. Setelah asy Syekh kembali duduk bersama mereka lagi, lalu Dia berkata, “Wahai putera-puteraku dan sahabat-sahabatku, buang waktu-waktu aku nanti, maka semoga kamu memilih abul Abbas al Marsi sebagai penggantiku. Karena, ketahuilah dengan kehendak dan ridho Allah SWT, sudah aku tetapkan dia untuk menjadi khalifah yang aku aku setelah aku tiada nanti.

Pada saat antara maghrib dan ‘isya, Beliau tiba-tiba berkehendak untuk mengerjakan wudhu. Kemudian Dia memanggil asy Syekh Abu Abdullah Muhammad Syarafuddin, rodliyAllahu ‘anh, salah satu putera dia, “Hai Muhammad, tempat itu (asy syekh menunjuk ke timah timah) agar ada isi dengan air sumur itu.” Di luar tenda memang ada sebuah sumur yang biasa diambil airnya oleh para kafilah yang melintas di daerah itu. Air sumur itu rasanya asin karena tempatnya me ¬mang tidak boleh terlalu jauh dari.

Mengetahui air sumur itu asin, maka putraya itu pun memberanikan diri untuk matang dengan mengatakan, “Wahai guru, air sumur itu asin, sementara yang hamba bawa ini air tawar.” Syekh Syarafuddin menawarkan kepada Dia air tawar yang sudah disiapkan dan memang sengaja diantar sebagai bekal di perjalanan Kemudian asy Syekh berkata, “Iya, aku mengerti. Tapi, ambilkan air sumur itu. Apa yang aku inginkan tidak seperti yang ada dalam pikiran kalian. “Selanjutnya oleh putera Dia itu lalu diambilkan air sumur pembangun yang asy Syekh kehen ¬daki. Setelah selesai berwudhu, maka asy Syekh berkumur dengan air sumur yang asin itu lalu menumpahkan ke dalam timba kembali. Setelah itu diminta agar udara bekas kumuran tersebut dituangkan kembali ke dalam sumur. Sejak saat itu, dengan idzin Allah Yang Maha Agung, air sumur itu seketika berubah menjadi tawar dan sumbernya pun membesar. Sumur itu sampai sekarang masih terpelihara dengan baik.

Setelah itu kemudian asy Syekh mengerjakan sholat ‘isya lalu diteruskan dengan sholat-sholat sunnat. Tidak berapa lama kemudian asy Syekh lalu kura-kura dan kura-kura ngapainin kepada Allah SWT (tawajjuh) seraya berdzikir jadi, kadang-kadang, mengeluarkan suara yang nyaring, sampai-sampai oleh para murid dan sahabat-sahabat dia. Pada malam itu tiada henti-hentinya asy Syekh memanggil-manggil Tuhannya dengan ucapan, “Ilaahiy, ilaahiy,” (wahai tuhanku, wahai tuhanku, ……… ..). Dan kadang-kadang pula ada yang lanjutkan dengan ucapan, “Allahumma mataa yakuunul liqo ‘?” (“Ya Allah, kapan kiranya hamba bisa bertemu?”). Sepanjang malam itu, keluarga dan murid asy Syekh dengan penuh rasa tawadhu ‘, saling bergantian menunggui, merawat, dan mendampingi dia.

Saat waktu sudah sampai di penghujung malam, yaitu menjelang terbitnya fajar, setelah asy syekh sudah beberapa saat terdiam dan tidak mengeluarkan suara, maka mereka punings asy syekh sudah nyenyak tertidur pulas. Asy Syekh Syarafuddin secara perlahan-lahan dekat beliau. Kemudian, dengan cara yang amat halus, putera Dia itu lalu menggerak-gerakkan tubuh asy Syekh. Sedikit kaget dan tertegun syekh Syarafuddin mendapatinya, karena asy Syekh al Imam al Quthub, rodhiyallahu ‘anh, ternyata sudah berpulang ke rohmatullah. Inna lillahi wa inna ilaihi roji ‘un. Saat itu Dia berusia 63 tahun, sama dengan usia Rasulullah SAW.

Setelah sholat subuh pada pagi hari itu, jasad asy Syekh nan suci pun segera dimandikan dan dikafani oleh keluarga dan para muridnya. Sementara saat matahari mulai tinggi, semakin banyak pula para ulama, shiddiqin, dan auliya’ulloh agung berduyun-duyun berdatangan untuk berta’ziyah dan turut mensholati jenazah beliau, termasuk diusahakan kadinya para kadi negeri Mesir, asy Syekh al Waly Badruddin bin Jamaah. Hadir pula di antara mereka para pangeran dan pejabat kerajaan. Kehadiran para insan mulia dan pembesar di tempat itu, selain untuk memberikan penghormatan kepada sang Imam Agung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here