Oleh Labib Syarief

Di awal September 2018, kita dikejutkan dengan naiknya harga dolar AS tehadap rupiah. Pada Selasa (4/9/2018) harga satu dolar AS sempat menyentuh Rp. 15.000. Tak pelak, kenaikkan harga dolar ini menjadi perbincangan banyak kalangan di Indonesia. Ada yang mengaitkannya dengan ancaman akan terjadinya kembali krisis moneter tahun 1998. Ada yang pula mempolitisasi kenaikan dolar terhadap rupiah ini untuk kepentingan tertentu.

Penulis akan mencoba untuk membahas kenaikkan dolar ini dengan kacamata hubungan internasional (HI) khususnya melalui ekonomi politik internasional, (ekopolin), jadi bukan dari sisi ekonomi murni. Sebab penulis sendiri memiliki latarbelakang pendidikan HI.

Penguatan dolar AS berpengaruh terhadap pelemahan mata uang sejumlah negara di dunia. Bukan hanya Indonesia, penguatan dolar di antaranya juga dialami oleh Turki, Argentina dan yang terparah adalah Venezuela. Di mana di Venezuela pada pertengahan Agustus lalu (8/2018), harga satu dolar AS senilai 6,4 juta Bolivar.

Selain Venezuela, mata uang yang mengalami pelemahan adalah Turki dengan mata uang Lira. Pada bulan Agustus pula, pelemahan mata uang Lira menjadi yang terparah. Secara kacamata HI, pelemahan Turki ini bukan semata-mata disebabkan kebijakan ekonomi Turki baik internal maupun eksternal. Tetapi juga dipicu dengan kebijakan politis. Hal ini dimulai yaitu ketika seorang pendeta berkebangsaan AS di penjara oleh pemerintah Turki akibat tuduhan mendukung gerakan Gulen. Bagi Erdogan, pemimpin Turki, gerakan Gulen adalah salah satu gerakan kudeta, termasuk gagalnya kudeta yang dilakukan oleh militer beberapa bulan yang lalu.

Sehingga bagi Erdogan, penangkapan dan pemenjaraan pendeta dari AS tersebut, merupakan bagian dari peredaman gerakan kudeta. Maka AS pun meminta Turki untuk membebaskan dan mempulangkan warganya tersebut. Namun Turki menolaknya. Sikap Turki ini ternyata dibalas oleh AS dengan menaikkan tarif sejumlah produk dari Turki ke AS. Akibatnya terjadi penguatan dolar AS dan mata uang Lira pun turun drastis. Selain karena penaikkan tarif oleh AS, jatuhnya Lira juga disebabkan banyaknya peminjaman mata uang dolar untuk bank di Turki, sehingga bank di Turki tidak mampu membayar hutang dengan dolar. Namun untungnya Qatar datang untuk memberikan bantuan dolar, sehingga Lira sedikit terselamatkan.

Penguatan dolar AS yang hampir tejadi di seluruh dunia juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah AS itu sendiri. Dolar AS masih menjadi satuan mata uang penting dalam perdagangan internasional. Sehingga segala kebijakan AS terkait dolar akan juga berpengaruh terhadap pergerakan harga dolar di Internasional.

Oleh karenanya, kenaikkan dolar terhadap rupiah juga terjadi karena kebijakan AS terkait dolar. Donald Trump selaku Presiden AS dalam beberapa bulan ini telah melakukan kebijakan perdagangan internasional yaitu dengan menaikkan tarif yang tinggi untuk masuknya barang dari banyak negara, termasuk di antaranya adalah China. Sehingga terjadilah perang dagang antara AS dengan China.

Indonesia juga terkena imbas dari kebijakan AS tersebut. AS merasa kesal karena ekspor Indonesia ke AS lebih besar daripada ekspor AS ke Indonesia. Sehingga AS merasa perlu untuk mengevaluasi Generalized System Preference (GSP). GSP adalah sebuah kebijakan mengurangi tarif untuk negara berkembang atas aturan WTO. Terlebih lagi The Fed (Bank sentral AS) juga menaikkan suku bunga yang berdampak kembalinya peredaran dolar di dunia internasional ke negeri asalnya. Kedua faktor inilah yang setidaknya menjadi dasar penguatan penguatan dolar yang juga dirasakan oleh Indonesia.

Menurut penulis, kebijakan pemerintah AS terkait dolar tersebut memiliki keterkaitan dengan eksistensi dolar AS dan perekonomian AS itu sendiri. Terdapat sebuah jurnal ekopolin yang pernah penulis baca, dijelaskan bahwa jika puluhan tahun yang akan datang, perekonomian AS akan disalip oleh China. Sehingga sejumlah pengamat juga mulai meragukan hegemoni AS di bidang ekonomi di masa depan. Maka penulis yakin penaikkan tarif dan penguatan dolar adalah strategi AS dalam menjaga hegemoni dolar dan ekonomi AS di dunia. Sehingga AS akan mati-matian menjaganya.

Hegemoni dolar AS dalam perdagangan dunia ini sudah tentu selalu berusaha dilawan oleh sejumlah negara, seperti halnya China dan Rusia. Pembentukan BRICS (Brazil, Russia, India, China dan South Africa) di antaranya ditujukan untuk mencari alternatif mata uang dalam perdagangan internasional. Maka wajar dengan naiknya dolar pada bulan Agustus dan September 2018 ini, Turki, Rusia, China dan Iran berinisiasi akan melakukan perdagangan dengan mata uangnya masing-masing. Entah akan terlaksana atau tidak.

Dalam penjelasan di atas, maka dalam kacamata HI, penguatan dolar juga tidak terlepas dari faktor ekopolin.

Selain itu, saat Turki terancam krisis akibat melemahnya mata uang Lira terhadap dolar. Pemerintah Indonesia telah melakukan kebijakan yang sangat tepat supaya penguatan dolar juga tidak terlalu signifikan. Di antara kebijakan pemerintah yaitu menunda sejumlah proyek BUMN dan berusaha menggenjot ekspor, mengimbau masyarakat untuk menukarkan dolar ke rupiah, serta pada Kamis (6/9/2018), pemerintah juga menaikkan tarif dalam perdagangan internasional.

Sejumlah kebijakan tersebut diharapkan akan berdampak pada penguatan rupiah terhadap dolar atau minimal mencegah dolar semakin menguat.

Di antara faktor yang memperkuat ekonomi Indonesia termasuk memperkuat rupiah adalah ekspor. Hal ini dinyatakan oleh Presiden Jokowi pada Rabu (5/9/2018) bahwa menurutnya dua hal penting untuk memperbaiki perekonomian Indonesia adalah ekspor dan investasi.

Pernyataan Presiden Jokowi tersebut memanglah benar. Sebab
dengan naiknya ekspor dan banyaknya investasi. Maka juga akan memicu naiknya devisa dan juga masuknya dolar ke negeri kita, sehingga perekonomian Indonesia akan semakin baik dan rupiah pun juga akan menguat terhadap dolar AS.

Dengan demikian menurut penulis, terkait kebijakan menghadapi penguatan dolar AS, pemerintah Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo telah berusaha maksimal. Namun tetap saja faktor eksternal (ekonomi politik internasional) juga memiliki pengaruh penguatan dolar terhadap rupiah. Oleh karena itu, kita sebagai warga Indonesia, mari kita juga turut membantu pemerintah dalam menguatkan rupiah terhadap dolar yaitu di antaranya dengan menukarkan dolar ke rupiah dan beli produk lokal dalam negeri.

Maju terus Indonesia-ku!!!