Di suatu wilayah, terdapat seorang pemuda miskin. Pemuda ini termasuk dari kalangan keluarga yang tidak berpunya dari wilayah tersebut. Namun ada perilaku yang cukup menarik dari pemuda ini. Perilaku tersebut adalah seringnya membeli pakaian muslim yang baru semacam baju kokoh yang hanya dibeli pada bulan Rabiul Awal, bulan Maulid Nabi saw.

Jadi momen bulan Maulid Nabi saw adalah momen beli pakaian muslim baru tersebut baginya tiap tahun. Perilaku ini ternyata diperhatikan oleh seorang warga di wilayahnya. Warga itu bertanya “Wahai fulan, engkau hidup dalam keadaan miskin, lalu kenapa engkau sering membeli baju muslim baru di bulan Rabiul Awal?”

Sang pemuda itu menjawab “Aku rela mengumpulkan uang hanya untuk membeli baju muslim baru setiap tahun sebagai bentuk penghormatanku terhadap bulan Rabiul Awal sebagai bulan kelahiran Nabi saw. Bagiku bulan Maulid Nabi saw adalah bulan yang spesial, bertambah giatlah aku untuk mengamalkan segala sunnahnya dan menjauhi segala perbuatan maksiat yang intinya sebagai bentuk kecintaanku kepada Nabi saw”. Pahamlah sang warga tersebut dari penjelasan pemuda tadi.

Waktu terus bergulir, setiap tahun pemuda itu terus melakukan perilaku yang sama sebagai bentuk rasa cintanya kepada Nabi saw. Namun di tengah usianya yang masih pemuda tersebut, ternyata ia ditakdirkan oleh Allah swt untuk berpulang kehadirat-Nya. Karena ia merupakan keluarga miskin, banyak masyarakat wilayah tersebut yang tidak datang dalam prosesi pemakamannya. Sehingga hanya beberapa warga yang datang termasuk saudaranya yang memandikan jenazahnya, mensholatkan dan memakamkannya.

Setelah ia dimandikan dan dikafani serta akan disholatkan. Orang tua dari sang pemuda terkaget, ketika sekitar puluhan orang berjubah putih yang tampaknya datang dari jauh datang ke rumahnya yang sangat miskin. Sang ibupun bertanya kepada seseorang dari puluhan orang yang berpakaian jubah putih, “Tampaknya anda datang dari jauh, mengapa anda bertaziyah wafatnya anak kami? Padahal kami adalah keluarga miskin. Sehingga yang datang saja hanya beberapa dari warga sini”

Seorang berjubah putih menjawab bahwa dirinya dan mereka adalah para ulama dari sejumlah daerah yang datang khusus untuk menghormati kewafatan anaknya. Sambil berisak air mata, ia berkata “Tahukah ibu, besarnya cinta anak ibu kepada Nabi saw telah terkenal di kalangan kami sebagai seorang waliyullah”.

Kemudian ia meminta izin kepada ibunya untuk mencium wajah sang anaknya tadi yang sudah menggunakan kain kafan. Ulama tadi berkata sambil mencium wajah pemuda tersebut “Selamat jalan wahai kekasih Nabi saw”.

Dari kisah di atas, dapat diambil hikmah, besarnya kecintaan dan penghormatan pemuda yang miskin tadi kepada bulan lahirnya Rasulullah saw telah membuat dirinya menjadi seorang waliyullah dan bahkan menjadi kekasih Nabi saw, sehingga telah terkenal di kalangan ulama.

Dengan demikian, kita sebagai umat Nabi saw, sudah seharusnya mengaplikasikan cinta kepada Nabi saw utamanya dalam bulan Rabiul Awal sebagai bulan kelahiran Nabi saw. Penerapan cinta Nabi saw dapat berupa sholawat, menghindari perbuatan maksiat, melaksanakan akhlakul karimah, membersihkan hati dari penyakit hati, dan melakukan ibadah sunnah.

Semua itu dilakukan adalah sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi saw. Sebab jalan cinta kepada beliau saw adalah jalan untuk mendapat Ridha Allah swt. Sehingga apabila kita telah mendapatkan cinta Allah swt dan Nabi saw, niscaya kita akan selamat dan berkah dunia dan akhirat.

Sebuah ringkasan yang pernah penulis dengar dalam sebuah ceramah tentang keutamaan mencintai Nabi saw khususnya di bulan kelahirannya.

Labib Syarief
Jamaah Majelis Rasulullah saw dan Warga Nahdliyyin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here