Muhammad Rafsanjani
Kandidat Ketua Umum PB PMII No. 9

Tujuan Genealogis PMII
Dalam beberapa kesempatan PKL saya mendahului pembicaraan dengan sebuah pertanyaan yang amat mendasar: “Apa tujuan didirikannya organisasi PMII?”. Tentu secara de jure kita tahu jawaban itu ada di Pasal 4 Bab IV AD/ART PMII. Yang saya maksud lebih mendasar, tujuan spirit fundamental yang menjadi latar sebelum AD/ART dibuat. Secara fundamen-genealogis pendirian PMII bertujuan memastikan terpatrinya aqidah Islam ahlusunnah wal jamaah di hati mahasiswa Indonesia. Mengapa untuk maksud ini sampai perlu mendirikan organisasi di perguruan tinggi?

Perkembangan sejarah pendidikan tinggi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh sejarah
kolonialisme. Perguruan tinggi di Indonesia adalah buah kebijakan Politik Etis. Politik “balas budi” ini judulnya menaikan kelas pribumi yang sebenarnya menaikan kelas dalam mode pembagian kerja. Sehingga sedari desainnya pendidikan tinggi bertujuan menciptakan tenaga-tenaga teknis untuk menopang dan memperlancar kegiatan ekonomi-politik pemerintah kolonial. Elemen masyarakat yang diberikan kesempatan untuk mengenyam
institusi ini hanya mereka yang berasal dari kelas bangsawan pro kolonial.

Setelah kemerdekaan desain perguruan tinggi tidak banyak berubah. Orientasi pembangunan sumberdaya manusianya tetap berorientasi pada penciptaan tenaga-tenaga teknis. Dan iklim pendidikan yang dibangun adalah sekularistik, artinya perguruan tinggi hanya berupaya menempa mahasiswa dengan pengetahuan profan. Yang diurusi kampus hanya bagaimana mencetak tenaga teknis duniawi yang handal, urusan moral atau agama mahasiswa itu urusan pribadi masing-masing.

Pasca kemerdekaan, kesempatan rakyat Indonesia memasuki institusi ini lebih terbuka. Termasuk bagi kalangan “santri”. Sejumlah anak-anak muda berlatarbelakang keluarga yang taat beragama memiliki kesempatan dan berhasil masuk di perguruan tinggi. Dari akumulasi perjalanan ini munucul gagasan mendirikan lembaga pendidikan tinggi yang tidak hanya perhatian pada bidang duniawi tetapi juga agama. Dari dinamika perjalanan dan pergulatan, akhirnya munculah pendirian misalnya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta dan Yogyakarta.

Baik perguruan tinggi sekularistik maupun perguruan tinggi agama di fase-fase awal ini keduanya berreferensi—sehingga akhirnya bercorak—institusi pendidikan barat. Saat itu tradisi pengajaran ala barat merupakan sesuatu yang asing bagi bangsa termasuk bagi kalangan santri. Misalnya kurikulum baku, durasi pendidikan, ujian, wisuda, sertifikat atau ijazah, iklim pendidikan yang dialogis, relasi guru-murid yang relatif setara, dsb. Alam pendidikan jenis ini sesungguhnya sesuatu yang baru bagi kalangan santri. Atribut modernisme begitu kuat. Sehingga perlu belt pengaman untuk menjaga agar santri yang memasuki alam pendidikan baru ini terjaga aqidah dan agamanya. Inilah alasan mengapa meskipun PMII lahir tahun 1960 tapi embrio organisasi mahasiswa NU telah ada sebelum-sebelumnya. Misalnya IMANU di Jakarta atau KMNU di Surakarta sekitar tahun 1950-an. Sama halnya dengan cikal-bakal PMII, IPNU, organisasi yang kini fokus menggelola pelajar ini (bukan mahasiswa) berdiri tahun 1954, namun cikal bakalnya telah ada sebelum 1954. Singkatnya bahwa kelahiran organisasi-orgaisasi mahasiswa NU dilatari oleh misi penjagaan ajaran agama bagi pemuda yang memasuki dunia perkuliahan. Disinilah fungsi dasar PMII bekerja: menjaga dan memastikan aqidah dan ajaran Islam ahlusunnah tersemat di hati, otak dan laku setiap mahasiswa Islam.

Dalam konteks kekinian PMII harus menjadi penjaga generasi muda NU terutama mahasiswa dari gempuran modernitas yang tidak hanya membawa muatan positif. Sebaliknya malah terdapat efek-efek daripadanya (termasuk maksud-maksud, langsung maupun tidak langsung) yang akan/ditujukan menggerus eksistensi nilai pada jamaah NU maupun efek/maksud yang ditujukan menumpulkan ketajaman jamiyyah NU.

Membangun Relasi PMII-NU dan Pembangunan Bangsa Substantif: 3 Fondasi PMII

Ternyata memastikan doktrin teologis saja belum tuntas. Organisasi memiliki tugas lebih yaitu mengembangkan kader dan anggotanya. Alasan ini karena dua hal. Pertama, mahasiswa Islam ahlussunnah harus mencapai level aktualisasi diri—melampaui pos-pos material kapitalistik.

Kedua, memang agama Islam sendiri mengajarkan agar umat membina dirinya hingga individu-individu itu secara pribadi maupun kolektif dapat memancarkan kebaikan bagi lingkungan dan seluruh elemen alam semesta. Dan misi menjaga doktrin serta pengembangan kader ini wajib memiliki proyeksi ke masa depan. Hari ini terdapat dua konteks yang sangat relevan dipikirkan oleh aktivis generasi muda NU. Pertama, Abad Kedua NU, selanjutnya Indonesia Emas 2045.

Ide teknis yang dapat dipersiapkan saya sebagai kandidat Ketua Umum PB PMII perlu mengingat jangkauan dan durasi kepengurusan PB PMII yang 2—3 tahun. Meskipun tentu saja, perjuangan menempa dan mewujudkan ide ini harus melampaui batasan-batasan organisasi termasuk durasinya. Apa yang harus diselesaikan dalam 2 tahun? Pertama, mempererat dan memperdalam hubungan antara PMII dengan sepuh-sepuh pesantren dan mursyid-mursyid thoriqoh. Hubungan yang dibangun bukan relasi “jamuan makan siang” atau sowan semata. Lebih dari itu PMII harus menjadi pewujudan nilai-nilai
pesantren dan thoriqoh. Indikatornya (yang terukur/kasat mata) adalah doktrin pesantren dan nilai-nilai spiritual menjadi simbol kader dan anggota PMII. Simbol yang timbul dari kesadaran bukan simbol kamuflase. Semakin erat hubungan PMII dengan pesantren dan thoriqoh, maka semakin kokoh karakter yang terbangun. Kader maupun organisasi PMII kelak akan teguh pada pewujudan cita-cita para pendiri, fokus melakukan realisasi di hal-hal teknis tanpa kehirangan ruh dan arah, tidak mudah terjebak mental politik individualistik maupun tidak mudah tergiring arus zaman.

Kedua, membangun wadah berpikir yang di dalamnya kader-alumni, lintas sektor, praktisi atas maupun akar-rumput merumuskan jalan pendek dan panjang yang akan dipilih serta ditempuh organisasi. Ruang bertukar spirit dan gagasan ini masih merupakan sesuatu yang langka di antara kita, kalangan aktivis nahdliyin. Padahal di negara atau di mode
pembangunan modern saja tidak ada pembangunan tanpa think tank.

Dengan adanya wadah ini, semacam Baitul Hikmah, relasi senior-junior tidak hanya berkutat ihwal bantuan namun mentoring pengetahuan dan keahlian. PMII juga akan semakin mudah menemukan arah dan cara mencapainya secara efektif. Wadah seperti ini jangan kita lupakan, Baghdad dan Roma dibangun dengan arsitek.

Ketiga, mempersiapkan sumberdaya manusia (kader inti) yang dibutuhkan NU saat ini maupun proyeksi di masa depan. PMII harus menempatkan dirinya sebagai tempat inkubasi SDM NU. Sumber daya yang diperukan NU ini berdasarkan kebutuhan internal, penataan organisasi maupun SDM yang akan diperlukan untuk menjawab tantangan-tantangan di masa
depan. SDM yang urgent dipersiapkan adalah SDM yang mampu mamacu kemandirian organisasi misalnya. Penyiapan SDM NU secara langsung maupun tidak langsung akan berkorelasi positif pada pembangunan SDM Bangsa Indonesia, sehingga PMII menjadi bagian
dalam perwujudan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.

PMII mampu tidak hanya sebagai pihak yang mengambil bagian bahkan bisa menjadi penentu dalam realisasi wacana Indonesia Emas 2045 segmen generasi muda. Hal ini bukan sesuatu yang muluk, mengingat di antara organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan PMII adalah organisasi dengan jumlah kader-anggota dan jaringan organisasi terbanyak.

Dengan ide ini maka tujuan PMII, tujuan NU dan tujuan Kemerdekaan Bangsa Indonesia dapat kita wujudkan secara bersama. PMII menjadi penggerak kemajuan Bangsa, #BersamaMenggerakkanIndonesia!
Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here