Syekh Muhammad Saman
Syekh Muhammad Saman

Abu Hurairah masuk Islam pada tahun ke-7 Hijiriah, yaitu 3 tahun sebelum nabi wafat, dan beliau mengejar ketertinggalan pelajaran dari para sahabat yang lebih dulu masuk Islam. Beliau menjadi salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi Muhammad saw, sehingga riwayat hadits tersebut bisa kita dapati hingga kini.

Inilah pentingnya mencatat ilmu yang dipelajari, karena hafalan bisa hilang, dan hafalan bisa hilang apabila si penghafal meninggal dunia. Banyak ulama yang mencatat perkataan gurunya, sehingga bisa menjadi kitab berjilid-jilid yang bisa dibaca hingga kini.

Habib Salim Jindan contoh ulama yang hafalannya luar biasa, beliau hafal hadits beserta sanadnya, hafal nasab, hafal sejarah, tapi beliau juga mencatatnya, sehingga beliau punya 150 lebih judul karya tulis.

Imam Nawawi karyanya bisa kita baca hingga kini, padahal sudah 800 tahun yang lalu, itu karena beliau menuliskannya.

Para murid Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi menulis ucapan-ucapan beliau sampai 5 jilid dan syairnya sampai 4 jilid.

Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi ucapannya ditulis muridnya Habib Ubaidillah bin Muhsin bin Alwi Assegaf. Habib Abu Bakar Adni bin Ali Masyhur waktu belajar dengan Habib Abdul Qodir bin Ahmad, tangannya tidak berhenti mencatat dan merekam, sampai terkumpul ribuan kaset.

Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri mencatat nama setiap tamu yang datang ke Sayyid Abbas Alwi Al-Maliki dan mencatat semua yang disampaikan, hingga menjadi 20 jilid. Habib Muhammad bin Alwi bin Hafidz juga mencatat Habib Alwi bin Shihab sampai 11 jilid, namun tidak ditulis di tempat, dihafal lalu dicatat di rumah.

Mencatat ilmu bukan hanya bermanfaat untuk diri kita yang bisa lupa, tapi juga bermanfaat untuk generasi setelah kita. Marilah kita mulai mencatat setiap pelajaran yang kita dapatkan dari guru-guru kita.

Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here