Kisah Syekh Syarif Hidayatulloh /Pangeran Syarif Bin Syekh Abdurrohman atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Eyang Datuk Banjir Lubang Buaya, yang makamnya terletak 1,5 km dari arah Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya.

Menurut cerita turun-temurun, Datuk Banjir dalam perjalanan dakwahnya sering menyusuri aliran sungai menggunakan getek (perahu bambu), serta bambu panjang sebagai dayungnya.

Dalam perjalanan, bambu dayung itu tak menyentuh dasar sungai, seakan menyentuh ruang kosong. Ruang kosong itu seolah menyedot material di atasnya. Akibatnya, bambu dayung dan getek serta Datuk Banjir turut tenggelam.

Saat tenggelam itulah, Datuk melihat sarang buaya di dasar sungai. Lalu Datuk Banjir muncul kembali ke permukaan sungai secara tiba-tiba, dia merenungi pengalaman spritual itu termasuk saat melihat sarang buaya di dalam sungai itu.

Dari situlah Datuk Banjir menyebut daerah itu Lubang Buaya dan ia menetap di daerah tersebut hingga memiliki keturunan.

Masyarakat memberinya julukan Datuk Banjir karena beliau dipercaya memiliki kelebihan bisa “mendatangkan” dan “menolak” banjir.

Konon saat zaman Hindia Belanda, kampung Lubang Buaya pernah akan diserbu oleh pasukan Belanda. Datuk Banjir kemudian berdoa dan seketika pasukan Belanda terombang-ambing seperti orang yang akan tenggelam.

Menurut penglihatan pasukan Belanda, kampung Lubang Buaya rupanya berubah menjadi lautan, sehingga mereka mengurungkan niat untuk menyerbu.

Selain mampu “mendatangkan” banjir, Ia dipercaya pula memiliki kelebihan “menolak” banjir.

Daerah di sekitar Kramat Datuk Banjir dipercaya tidak akan tersentuh banjir meski letaknya persis di pinggir anak Kali Sunter dan hanya beberapa meter dari Kali Sunter.

Sederas apapun curah hujan dan sebesar apapun debit air di Kali Sunter, air akan lewat begitu saja tanpa mampir ke area ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here