Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus adalah ulama kelahiran Yaman Selatan, dan ia adalah seorang anak yatim yang dibesarkan oleh ibunya seorang diri. Sejak kecil sudah belajar dengan seorang sufi, pernah ia memintal benang satu gudang dalam semalam, dan hal ini membuat ibunya bingung. Kemudian sang guru menyuruh ibunya untuk merahasiakan karomah anaknya tersebu.

Habib Husein berdakwah ke kota Gujarat untuk menyebarkan Islam, saat itu Gujarat mayoritas penduduknya beragama Budha. Awalnya kota tersebut tanahnya kering dan tandus, saat Habib Husein menginjakkan kaki disana langsung tanahnya menjadi subur. Oleh paranormal disana, Habib Husein dianggap sebagai titisan Dewa. Akhirnya semua penduduk masuk Islam agar keluar dari bencana.

Selepas dari India lalu ia menuju Batavia di Indonesia, kota yang menjadi pusat pemerintahan Belanda saat itu. Banyak orang Tiongoa masuk Islam karena perantara Habib Husein, bahkan berbondong-bondong orang menuju kediamannya untuk belajar ilmu agama. Akhirnya pihak Belanda merasa terganggu, kemudian Habib Husein dimasukan penjara di Glodok.

Walaupun berada di dalam penjara, Habib Husein masih serih sering terlihat mengajar agama dan menjadi imam shalat, padahal ia dikurung di penjara sendirian tanpa teman. Petugas berkali-kali melihat Habib Husein tertidur di penjara yang terkunci, namun juga sering terlihat di luar perjara. Akhirnya Habib Husein beserta pengikutnya yang ditahan semuanya dibebaskan, dan pihak Belanda minta maaf.

Habib Husein saat di Gambir berteduh dari hujan, ada seorang anak Belanda yang juga ikut berteduh, lalu Habib Husein mengatakan bahwa kelak anak tersebut akan jadi orang besar di Negeri ini. Ternyata memang benar, saat dewasa anak tersebut menjadi Gubernur Batavia.

Gubernur Batavia tersebut memberikan hadiah beberapa karung uang, namun uang terebut selalu dibuang ke laut. Setiap kali diberikan uang selalu dibuang ke laut. Kemudian Gubernur bertanya, “kenapa uangnya selalu dibuang ke laut?” Habib Husein menjawab, “aku kirim ke ibuku di Yaman.”

Gubernur perintahkan penyelam mencari uangnya di laut, dan ternyata memang tidak pernah ditemukan. Kemudian diutus ajudannya ke Yaman, dan ternyata memang benar uang tersebut sampai kepada ibunya Habib Husein lewat laut pada hari dan tanggal yang sama. Jadi, model transfer uang secepat kilat sudah bisa dilakukan para waliyullah sebelum ada ATM dan internet banking.

Akhirnya pihak Belanda memberikan sebidang tanah untuk tempat tinggal dan peristirahatan terakhirnya. Habib Husein meninggal pada Kamis, 27 Juni 1756 M. Saat itu Habib Husein ingin dimakamkan di Tanah Abang, tapi jenazahnya selalu menghilang, akhirnya dimakamkan dipekarangan rumahnya. Masyarakat tersebut memberi nama kampung Luar Batang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here