Problem kebangsaan di Indonesia saat ini sangat banyak, mulai dari suku, ras, budaya hingga konflik agama yang kian dibesar-besarkan. Indonesia sebagai negara plural sudah seharusnya mampu menerima perbedaan.

Hal itu dikatakan KH Ahmad Muwafiq dalam Tausiyah Kebangsaan yang diadakan Gerakan Pramuka UIN Jakarta di Auditorium Harun Nasution, Jumat (15/3). Tausiyah bertajuk “Pramuka Perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia” itu dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Masri Mansoer, Kapolres Tangerang Selatan AKBP Ferdy Irawan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangerang Selatan Taryono, dan segenap sivitas akademika UIN Jakarta.

Lelaki yang akrab disapa Gus Muwafiq itu mengatakan, Indonesia memiliki kesepakatan sendiri yang telah dirumuskan oleh para founding fathers terdahulu. Kesepakatan yang dimaksud ialah, Indonesia harus menjadi negara yang satu, negara yang merdeka serta mampu menerima perbedaan satu sama lain.

Pemikiran para founding fathers ini, kata Gus Muwafiq, sudah seharusnya diimbangi dengan sikap kebangsaan yang menghargai pluralisme masyarakat Indonesia. Tidak harus mempertahankan ego sentris golongan tertentu dan menganggap kelompoknya paling benar.

“Perbedaan harus dijadikan sebagai pemersatu bangsa,” katanya.

Gus Muwafiq juga mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu meniru kebudayaan negara lain. Sebagai warga negara, menghargai kebudayaan juga termasuk fondasi utama. “Di samping negara-negara asing memiliki kemajuan teknologi dan kebudayaan, mereka juga memiliki permasalahan kompleks, sama seperti Indonesia,” ungkap ahli sejarah Islam dan kebudayaan itu.

Banyak negara asing yang menghadapi masalah kebangsaan. Sebut saja Palestina dan Suriah yang terbelit konflik agama bertahun-tahun lamanya. Indonesia sebagai negara pemeluk Islam terbesar di dunia memang sering kali tertimpa dengan kasus-kasus terorisme yang mengatasnamakan agama. Namun, Indonesia mampu mengatasinya dengan baik.

“Strategi meredam konflik di negara dengan pemeluk Islam terbesar ini wajib diacungi jempol,” tutur Gus Muwafiq, yang mendapat aplaus berkali-kali.

Menyoal permasalahan lain, lajut dia, saat ini masyarakat Indonesia terkadang menganggap tidak modern jika tidak mengikuti tren budaya Eropa. Tidak agamis jika tidak ikut budaya Arab. Hal ini seharusnya menjadi renungan bagi diri pribadi. Indonesia diciptakan dengan fondasi kebangsaan yang kuat. “Kita harus menghargai budaya dalam negeri. Jangan malu untuk menjadi Indonesia. Fondasi bangsa kita sangat kuat. Salah satu yang menguatkan adalah Pramuka,” pungkasnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Masri Mansoer dalam sambutan pembukaan mengatakan mengatakan, UIN Jakarta sebagai universitas Islam nomer satu di Indonesia telah mencanangkan berbagai program moderasi agama. Suatu saat UIN Jakarta diharapkan mampu menjadi kiblat moderasi beragama di mata dunia. Hal ini tak lain untuk meredam konflik berbangsa dan bernegara.

“Melalui Pramuka UIN Jakarta kehidupan berbangsa yang damai dalam kebersamaan tidak mustahil akan terwujud,” katanya.

Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan yang juga ikut memberikan sambutan menilai bahwa menjelang pemilu seharusnya menjadi ajang pesta demokrasi. Namun, permasalahan lain mulai bermunculan. Ada oknum-oknum yang menyebarkan berita provokasi, hujatan, maupun ujaran kebencian.

“Karena itu, saya mengajak para mahasiswa, khususnya melalui Pramuka UIN Jakarta, untuk terus andil mewujudkan pemilu damai demi menjaga keamanan NKRI,” ujarnya. (ns/siti heni rohamna)

Sumber: BERITA UIN Online –

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here