Al-Khisni As-Syafi’i berkata: Abu Ja’far Amirul Mukminin berdebat dengan Imam Malik di masjid Rasulullah SAW. Lalu Imam Malik berkata, jangan kau meninggikan suaramu di masjid ini, karena Allah telah mendidik suatu kaum dengan berfirman: “Jangan tinggikan suara kalian di atas suara Nabi.” Allah memuji suatu kaum dengan berfirman, “sesungguhnya mereka yang menundukkan suara mereka di sisi Rasulullah.” Allah juga mencela suatu kaum dengan berfirman: “Sesungguhnya yang menyerumu dibalik kamar, kebanyakan mereka tidak berakal.” Sesungguhnya kemuliaan Nabi Saw setelah beliau wafat sama seperti saat beliau masih hidup.

Abu Ja’far mematuhinya, lalu bertanya: “Wahai Abu Abdillah (yaitu Imam Malik), apakah aku berdoa menghadap kiblat atau menghadap (makam) Rasulullah? Imam Malik menjawab, mengapa kau memalingkan wajah dari beliau? Sedangkan beliau adalah wasilahmu dan wasilah bapakmu Adam as sampai hari kiamat. Menghadaplah kepada beliau dan minta syafaat, pasti Allah akan menolongmu.

Allah berfirman: ketika mereka menzalimi diri sendiri lalu mereka mendatangimu memohon ampun kepada Allah dan Rasul memintakan ampunan untuk mereka.

Al-Khisni berkata, kisah ini terkenal, banyak disebutkan oleh ulama-ulama terdahulu, dan dengan sanad yang baik, salah satunya Qadhi Iyadh di kitab As-Syifa, juga ada di kitab Imam Hibatullah berjudul Tautsiq Ural Iman.

Nabi Muhammad saw hidup dan dapat bertawasul kepadanya di makamnya seperti ketika beliau masih hidup. Ada anjuran juga mendatangi makam beliau saw memintakan ampun untuknya. Kita dianjurkan berziarah ke Rasulullah Saw, betawasul, meminta syafaat, dan meminta doa agar diampuni dosa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here