“Empat hal yang dapat mengangkat seseorang kepada darjat yang tertinggi, walaupun amal dan ibadahnya sedikit, yaitu sifat-sifat penyantun, merendah diri, pemurah dan budi pekerti yang baik. Itulah kesempurnaan iman”.

“Zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan dan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan).”

Dengan kata lain, zuhud bagi Al-Junaid lebih merupakan sikap seorang sufi yang tidak begitu terikat dengan duniawi. Namun bukan berarti zuhud itu menjauhi dunia. Bahkan lebih jauh, pengertian zuhud ini melahirkan sikap kedermawanan dan suka bersedekah pada orang yang membutuhkan.

“Seorang sufi tidak seharusnya berdiam diri di masjid dan berdzikir saja tanpa bekerja untuk nafkahnya. Sehingga untuk menunjang kehidupannya, orang tersebut menggantungkan dirinya hanya pada pemberian orang lain.”

Sifat dan sikap seperti itu sengatlah tercela, lantaran sekalipun sufi, orang tersebut harus tetap bekerja keras untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Jika sudah mendapat nafkah diharapkan mau menggunakannya di jalan Allah, yaitu dengan mendermakan sebagian hartanya kepada siapa saja yang membutuhkan.

“Hakikat tawakal adalah menjadi milik Tuhan seperti sebelum terjadi.”

Pengertian ini berarti bahwa seorang yang bertawakal menjadi seperti ketika belum diciptakan, yaitu sebagai milik Tuhan. Dan lantaran dia kepunyaan-Nya, maka apapun yang akan diperbuat Allah terhadapnya, dia akan menerimanya.

“Bahwasannya kamu harus puas dengan Allah dalam segala keadaan, dan kamu tidak mengharapkan sesuatu yang lain kecuali Allah.”

“Mahabbah adalah masuknya sifat-sifat yang Dicintai ke dalam diri yang mencintai, sebagai ganti dari sifat-sifat yang mencintai.”

Maksudnya adalah jika seorang sufi telah benar-benar jatuh cinta kepada Allah, maka perhatiannya hanya akan tertuju pada-Nya. Tiada lagi perasaan yang tertuju kepada hal-hal lain yang masih tertinggal pada dirinya. Pada saat yang sama, dia akan menjadikan tempat di segala sudut dalam hatinya, hanya untuk Allah.

“Melihat Allah dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala.”

Allah hanya dapat dilihat melalui mata hati, bukan dengan mata kepala. Sehingga seandainya Allah dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti, maka Al-Junaid pun tidak ingin melakukannya.

Mithaq adalah perjanjian yang terjadi antara Allah dengan ruh, sebelum dia masuk ke dalam tubuh manusia. Dimana akad ini terjadi ketika ruh tersebut diciptakan-Nya pada masa azali.

Tauhid adalah “Pengesaan yang qadim dari yang hadath (baru atau diciptakan).”

Dengan pengertian ini, Al-Junaid ingin menegaskan bahwa tauhid merupakan pengesaan Allah yang terdahulu (qadim) dari makhluk ciptaan-Nya yang baru (hadath). Pengesaan ini berarti pemisahan Allah dari segala makhluk-Nya, termasuk di dalamnya pemisahan dari manusia.

Marifat adalah kesadaran akan adanya ketidaktahuan (kebodohan) ketika pengetahuan tentang Allah datang.

Melalui definisi ini, dia ingin menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakikat Allah. Dimana keadaan yang demikian ini, baru disadarinya ketika datang makrifat kepadanya. Pada saat itu, dia akan mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang berkenaan dengan Allah yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.

Makrifat atau pengetahuan tentang Allah, akan dapat dicapai oleh seorang sufi, dalam keadaan fana tertinggi. Dimana pada saat itu, segala sifat kemanusiaan yang ada dalam dirinya hilang seketika. Semua keinginannya pada benda-benda duniawi terhapus. Kesadaran akan dirinya lenyap, digantikan oleh kesadaran akan kedekatannya pada Tuhan. Sedangkan yang masih tinggal pada dirinya hanyalah perasaan akan bersatunya ruh dirinya dalam Allah. Dan pada titik itulah sesungguhnya makrifat ini muncul menguasai dirinya. Di mana Allah dengan segala rahmat-Nya telah berkenan menganugerahkan makrifat itu kepadanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here