Oleh
Adriansyah

Pada era kolonial, warga pribumi adalah bangsa kelas tiga, warga Arab dan Tionghoa adalah warga kelas dua, dan bangsa Eropa adalah warga kelas satu. Sejarah elit kita terbentuk dari politik etis pada era kolonial yang kemudian menjadi elit nasional pada masa kemerdekaan, dari elit bangsa kita inilah dimana segelintir kelompok ingin mengendalikan masyarakat kelas tiga tersebut. Setelah Belanda terusir oleh Jepang dari Indonesia, seluruh kekuasaan Hindia Belanda diserahkan kepada kekaisaran Jepang, dan sampai akhirnya Indonesia bisa merdeka pada 17 Agustus 1945. Walaupun kolonial Belanda telah angkat kaki dari Indonesia, namun secara mental bangsa kita masih terjajah, dimana warga pribumi masih dianggap sebagai warga kelas tiga, dan gerakan rakyat masih dianggap sebagai ancaman bagi pemerintah.
Pemerintahan Orde Baru telah melanggengkan sistem oligarki, dimana sebelumnya oligarki era Orde Lama ditumpas terlebih dahulu. Akhirnya kelompok elit nasional dan gerakan rakyat yang awalnya satu tarikan nafas, kemudian berubah menjadi dua elemen yang berbeda. Konglomerasi yang mendominasi pada era orde baru menjadi sangat kuat.
Pada era reformasi, gerakan rakyat mulai muncul, dimana momentum tersebut telah meruntuhkan stigma bahwa gerakan rakyat adalah ancaman bagi pemerintah. Sejak saat reformasi itulah, banyak kelompok masyarakat yang tidak malu menyebut dirinya sebagai gerakan rakyat. Kita harus bangga dengan sosok Gus Dur yang merupakan aktor yang pertama kali menjadikan gerakan rakyat sebagai jalan untuk menduduki tampuk kekuasaan. Namun, warisan dominasi konglomerasi pada era Orde Baru masih tetap bertahan di era reformasi, dimana uang menjadi kekuatan utama dalam politik demokrasi prosedural saat ini, dan sektor-sektor ekonomi Indonesia masih dikuasai oleh elit oligarki lama yang bertahan sejak masa Orde Baru.
Sekalipun oligarki masih mendominasi di Indonesia, namun rakyat masih tidak menginginkan revolusi yang berujung pada pertumpahan darah, tapi gerakan rakyat masih mengupayakan suatu kompromi dalam bentuk kemitraaan. Para oligarki perlu memberikan support  kepada rakyat yang bergerak dalam sektor ekonomi kecil agar bisa juga ikut bertumbuh.
Gerakan rakyat yang muncul di Amerika Latin seperti yang dipelopori oleh Hugo Chavez dan Evo Morales adalah bukti bahwa gerakan rakyat mampu merebut kekuasaan yang didominasi oleh oligarki. Begitu juga gerakan revolusi di Iran yang menggunakan pendekatan agama kembali lagi mampu menjatuhkan pemerintahan yang diktator yang oligark. Namun sampai saat ini, gerakan rakyat dan gerakan kegamaan di Indonesia masih terus berkomitmen untuk tidak menjadi pemberontak terhadap pemerintah. Maka, komitmen tersebut harus disambut oleh pemerintah dan kelompok konglomerat yang ada di Indonesia, agar rakyat kecil bisa juga ikut bertumbuh bersama, sehingga sudah tidak ada lagi pertentangan kelas yang terjadi di Indonesia, semua rakyat bersifat setara, dan hanya bisa terwujud dengan ekonomi kemitraan.
Transformasi Indonesia menuju era keemasan hanya bisa terwujud melalui pertumbuhan ekonomi rakyat kecil yang tumbuh dengan mandiri dari bawah. Maka rakyat tidak boleh lagi dijadikan korban dari pertarungan oligarki yang ada di dalam negeri maupun dari luar. Gerakan rakyat harus melakukan konsolidasi secara terus menerus untuk bersatu, karena hanya dengan bersatunya gerakan rakyatlah Indonesia emas akan segera cepat terwujud.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here