Pada umumnya kaum Sufi berpendapat bahwa pengetahuan tentang Allah tidak dapat diraih dengan akal, karena pengetahuan ini berada diluar kecerdasan nalar secara alamiah, nalar hanya sanggup menangkap objek-objek yang terbatas.

Allah bersifat non materi namun juga berada diluar jangkauan pemahaman manusia, pengetahuan tentang Allah menurut para sufi hanya dapat diraih melalui kondisi kejiwaan tertentu yang akan menyebabkan Allah memberinya penyingkapan dan ilham, keadaan tersebut hanya bisa dicapai melalui penyingkapan.

Dalam hal ini mereka berbeda dengan para ahli teologi dan menganggap pengetahuan rasional sebagai sesuatu yang tidak relevan. Menggunakan pengetahuan rasional yang menurut mereka tidak mencukupi untuk mencapai pemahaman tentang Allah.

Makrifat adalah pengetahuan intuitif tentang Allah. Ungkapan dan penglihatan para sufi memandang makrifat sebagai tujuan mistik, sedangkan orang-orang yang telah mencapai mereka sebut Arif, itu sebabnya mereka menganggap makrifat lebih tinggi daripada ilmu.

Imam Al Qusyairi berkata, menurut para sufi, makrifat merupakan sebuah sikap yang dimiliki oleh orang-orang yang mengakui Allah dalam nama-nama dan sifat-sifatnya, orang-orang yang tulus melakukan ini, orang-orang yang membebaskan diri dari cacat dan kelemahan orang-orang yang setiap saat berdiri di depan gerbang dan senantiasa membiarkan hati mereka tinggal bersama Allah, sehingga Allah pun menyambut mereka dengan ramah, dan orang-orang yang dalam setiap kondisi senantiasa tulus dan bebas dari pengaruh diri mereka sendiri, serta orang-orang yang hati mereka tidak pernah mendengarkan bisikan yang dapat memalingkan mereka dari Allah.

Ketika seseorang mencapai makrifat, dia akan terasing dari semua makhluk, bebas dari kelemahan diri, lepas dari kungkungan manusia dan gangguan jiwa nya. Batinnya terus berkomunikasi dengan Allah, setiap saat dia kembali kepada Allah, ketika dia memiliki pengetahuan tentang Allah dan menerima rahasia kekuasaan Allah, dia akan disebut sebagai arifbillah, sedangkan kondisi yang dialaminya disebut makrifat.

Imam Junaid Al Baghdadi yang beranggapan bahwa pada dasarnya pengetahuan tentang Allah adalah sama, karena objek yang dibahas pun sama, hanya saja pengetahuan tersebut memiliki tingkatan-tingkatan bagi orang-orang biasa dan para wali, demikian juga tingkatan bagi pemula, tingkatan lanjutan, dan tingkatan bagi orang-orang yang telah meraih derajat tinggi, namun tak ada seorangpun yang benar-benar kuasa meraih Pengetahuan Allah secara sempurna, karena pada dasarnya nalar manusia terbatas sedangkan Allah tidak terbatas.

Para Wali Allah memiliki pengetahuan mendalam tentang Allah meskipun pengetahuan tersebut tidak sempurna, sedangkan orang-orang biasa meskipun Soleh hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Allah, walaupun pengetahuan ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, namun penampakan alamiah pengetahuan ini dalam diri manusia tetap bisa diketahui. Tahapan paling awal dan sederhana pengetahuan tentang Allah ini akan tampak dalam diri orang-orang yang mengakui keesaanNya, penegasan atas ketunggalan mutlak meyakini keberadaannya, menerima al-quran dan hukum-hukum yang ada di dalamnya. Sementara tahapan tertinggi dari pengetahuan ini akan tampak pada orang-orang yang senantiasa melakukan ketika selalu takut kepada Allah, mengakui keesaan Allah atas semua makhlukNya, ketaatan pada nilai-nilai moral yang tinggi, dan penolakan terhadap segala sesuatu yang dilarang.

Tingkatan pemahaman tinggi atas makrifat dinikmati oleh orang-orang yang mampu melampaui intensitas Manusia Biasa, intensitas ini bergantung pada persepsi mereka terhadap kekuasaan Allah, keagungan Allah, kemahakuasaan Allah, pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu, kemurahan yang tidak sedikit pun berkurang kebesarannya dan keunggulannya atas segala sesuatu.

Semakin tinggi persepsi mereka terhadap kualitas-kualitas ini, semakin banyak mereka bersyukur kepada Allah, semakin banyak mereka memujiNya, dan semakin dalam mereka mencintaiNya. Dihadapan Allah mereka merendahkan diri, mereka takut dan selalu berharap kepada Allah, mereka menaati segala perintahnya dan selalu menjauhi segala larangannya.

Seseorang akan disebut sebagai arifbillah apabila ia bersyukur kepada Allah, takut kepada Allah, berharap kepada Allah berupaya mencari Allah, rindu kepada Allah melakukan perbuatan yang baik dan benar, menangis dan meratap karena dosa selalu berupaya mendekatkan diri kepada-Nya, dengan sabar dan rendah hati seseorang yang melakukan ini akan dianggap sebagai orang yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan lebih tinggi daripada orang kebanyakan.

Bagi Imam Junaid Al Baghdadi tujuan yang sejati adalah penyatuan dengan Allah, tauhid yang mana manusia kehilangan individualitas dan nalarnya lebih lanjut dia mengatakan pada tahapan ini dia menapaki tahapan pemusnahan hasratnya terhadap kenikmatan, dan juga akan kehilangan daya kritisnya agar bisa memurnikan nalurinya, kemudian dia akan benar-benar mampu memahami tanda-tanda dari Tuhan atas segala peristiwa, perubahan segala sesuatu tanpa memerlukan perantara Karena sekarang indranya telah bersatu dengan intuisinya.

Seseorang apabila sudah mencapai tahapan makrifat, dia tidak bisa lagi menjelaskannya dengan menggunakan nalar, namun tak ada hal lain yang mendorong seseorang yang telah mencapai tauhid selain untuk mengatasi bisikan bisikan jahat ketika masih menjadi individu, nalar inilah yang pada awalnya menuntun sang hamba untuk beribadah kepada Allah tetapi saat dia sudah mencapai tingkatan Ma’rifat dia telah benar-benar dimiliki oleh Allah maka individualitas ia pun akan lenyap kemudian berubah.

Ketika seseorang sudah mencapai tingkatan Ma’rifat kepada Allah, maka tahapan luar biasa mengangkatnya ke derajat tertinggi di mana hati dipenuhi dengan pengetahuan dan dengan sukarela dia melayani Allah dan pikirannya senantiasa menyebut nama Allah, dan pemahamannya bergantung pada Allah, maka kemanusiaannya pun lenyap dirinya, lenyap dan pengetahuan akan tercerahkan, karena pengetahuan itu datang dari Allah, sedangkan Pengetahuan Allah akan tersingkap di hadapan orang yang sudah mencapai tingkatan makrifat.

Dari Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makrifat dalam dua kondisi yang sangat berbeda, dan mengapa dia kerap menggunakan kata Arif untuk menyebut seseorang yang telah mencapai kondisi tauhid. Mengenai hal ini, Imam Junaid Al Baghdadi misalnya mengatakan, seorang Arif tidak akan bisa menjadi seorang Arif sampai dia bisa menjadi seperti bumi, tempat dimana orang-orang sholeh dan orang-orang yang tidak sholeh berjalan, dan menjadi seperti awan yang berarak di atas segala sesuatu, atau seperti hujan yang jatuh di sembarang tempat, baik yang disukai maupun yang tidak disukai. Ketika imam Juned ditanya mengenai Apa itu Arif, dia menjawab warna Kapasan Arif sama dengan warna air, atau Syarif adalah anak dari waktu ini, berarti bahwa dia tidak hanya melihat ke masa lalu ataupun masa depan ketika ditanya mengenai pendapat. Sunan yang menyatakan bahwa orang Arif pernah ada di sini, yang telah pergi aljunied menjelaskan bahwa orang Arif tidak akan membiarkan dirinya berada dalam keadaan tertentu yang membuatnya tidak bisa memasuki keadaan lain. Dia juga tidak akan berhenti di satu tempat yang bisa mencegahnya pergi ke tempat lain. Dia di setiap tempat disinggahinya dia akan berbuat sebagai bahan, namanya orang yang ia temui dia berbagai perasaan dan dengan mereka dan berbicara dengan banyak orang, tanpa memandang tingkatan spiritual mereka, sehingga mereka bisa memahami dan mengambil pelajaran dari kata-katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here