Oleh: Adriansyah

Islam masuk nusantara melalui metode perdagangan, kesenian, dan perkawinan. Corak Islam yang masuk adalah Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu aqidah Asyariah, fiqih Syafi’i, dan tasawuf Imam Al-Ghazali. Sikap kemasyarakatannya besifat tawasuth (moderat/tidak ekstrim), tasamuh (toleran), tawadzun (berkeseimbangan), dan ta’adul (berkeadilan).

Islam bukanlah tradisi, tapi Islam tidak anti terhadap tradisi, dan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sangat toleran dengan tradisi masyarakat nusantara. Tradisi yang bertentangan dengan Islam dihilangkan atau dikurangi mudharatnya, sedangkan yang sejalan baik dan tidak bertentangan dengan Islam akan dilanjutkan. Penyebaran Islam di nusantara bukan dengan jalan perang seperti di Timur Tengah, tapi melalui praktek ajaran tasawuf, sehingga Islam saat itu bisa beradaptasi dengan agama Hindu dan Budha yang mengedepankan asketisme, dan saat itu dua agama tersebut menjadi mayoritas di nusantara selama beberapa abad.

Penyebaran Islam di Aceh dilakukan oleh seorang ulama keturunan Nabi Muhammad SAW bernama Syekh Nurrudin Ar-Raniri, beliau sempat belajar di Tarim Hadramaut yang dikenal sebagai kota sejuta wali. Beliau membawa ajaran tarekat Ar-Rifai’iyah, bermazhab Syafi’i, dan berakidah Asyariah. Saat kesultanan Aceh dipegang oleh Sultan Iskandar Tsani, Syekh Nurrudin menjadi seorang Syaikh Al-Islam. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ajaran wahdathul wujud sempat besar di Aceh, dibawa oleh Syekh Hamzah Fansuri, namun ajaran ini dimusnahkan saat Syekh Nurrudin Ar-Raniri menjadi ulama kepercayaan sultan.

Karya Hamzah Fansuri berupa syair sangat terkenal, adapun diantaranya; Syair Perahu, Bismillahirrahmanirrahim, syair nama-nama Tuhan, syair A’yan Thabitah, syair ruh idafi, syair iba hati, syair ruh, syair ma’rifat. Aceh pernah punya sultan seorang perempuan bernama Sultana Safiatuddin, dan ia saat remaja pernah berguru pada Hamzah Fansuri.

Di Palembang Islam disebarkan oleh seorang ulama bernama Syaikh ‘Abdul ash-Shamad al-Jawi al-Palimbani yang hidup di sekitar akhir abad dua belas hijriah. Ia pernah belajar dengan seorang waliyullah yang menjaga pintu makam Rasulullah SAW yang bernama Syekh Muhammad Saman. Ajaran dari Syekh Abdul ash-Shamad juga bercorak tasawuf, yaitu dari karyanya yang berjudul Siyar al-Salikin yang merupakan terjemahan dalam bahasa Melayu kitab Ihya Ulumudin karya Imam Al-Ghazali. Sebagaimana kita ketahui, kitab Imam Al-Ghazali ini diajarkan di Pondok Pesantren seluruh Nusantara.

Di Minangkabaw ada ulama bernama Syekh Burhadunin Ulakan (Abad ke-12 Hijiriyah) yang menjadi tokoh Islam di kota Pariaman Sumatra Barat. Sebenarnya ia berasal dari Padang Panjang tepatnya di Tanah Datar, ayahnya bersuku koto dan ibunya bersuku Guci. Syekh Burhanudin tinggal di Ulakan kota Pariaman, dekat Bandara Internasional Minangkabaw, dan ia mengajarkan tarekat syatariah. Lalu juga ada Haji Ismail Minangkabawi. Ia adalah pelopor tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah di Sumatra Barat. Ia belajar di Mekkah selama 30 tahun dan belajar di Madinah 5 tahun, teman sesama belajar diantaranya Syekh Arsyad Al-Banjari dan Syekh Abdul Shamad Al-Palimbani. Jadi corak awal Islam masuk tanah Minang adalah tasawuf.

Di Tanah Jawa muncul kelompok ulama yang dikenal dengan sebutan walisongo, adapun diantaranya adalah Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Gresik, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Mereka adalah ulama yang berasal dari Gujarat, Campa, dan Hadramaut. Hanya Sunan Kalijaga yang asli orang Jawa. Mereka berdakwah dengan melalui seni musik, wayang, perdagangan, dan juga dengan pernikahan. Saat itu Islam disebarkan melalui ajaran tasawuf, tidak langsung aqidah dan syariat. Perkembangan Islam di tanah Jawa menjadi sangat pesat, karena walisongo bersikap toleran dengan tradisi masyarakat.

Sunan Bonang berdakwah dengan musik gamelan. Sunan Kudus tidak menyembelih sapi saat idul adha, tapi menyembelih kerbau, sebagai bentuk toleransi terhadap masyarakat Hindu yang menjadikan sapi sebagai hewan sakral. Sunan Kalijaga menjadikan wayang sebagai metode mengenalkan Islam, karena wayang menceritakan tentang dewa-dewa orang Hindu. Sunan Kalijaga memunculkan tokoh Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong sebagai lakon wayang khas Jawa. Tokoh-tokoh wayang ini terinspirasi dari ucapan Sayyidina Ali yaitu, samir khairan fatruk ma bagha (Bergegaslah pada kebaikan lalu tinggalkan segala yang menyimpang). Samir (Semar), Fatruk (Petruk), Khairan (Gareng), Bagha (Bagong).

Kemudian abad ke-18, corak Islam di Indonesia berubah menjadi fiqih-tasawuf, dikarenakan banyak ulama-ulama Indonesia yang menjadi ahli ilmu hadits dan fiqih seperti Syekh Nawawi Al-Bantani. Syekh Nawawi Al-Bantani sempat belajar dengan as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (mufti madzhab Syafi’i), as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Syaikh ‘Abd al-Hamid ad-Dagestani, dan lainnya.

Murid-murid Syekh Nawawi Al-Bantani yang menjadi ulama besar dinataranya Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Kholil Bangkalani Madura, Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri, Syekh Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani Pandeglang, Syekh Arsyad Thawil al-Bantani dan Penyebar (Pemberontakan Petani Banten 1888), Syekh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (NTB), Syekh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Bantani – Cucu Syekh Nawawi, KH. Saleh Darat as-Samarani, KH. Hasyim Asyari (Pendiri Nahdlatul Ulama), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH. Hasan Genggong, K.H. Mas Abdurahman – (Pendiri Mathla’ul Anwar), KH. Raden Asnawi Kudus, Haji Abdul Karim Amrullah (Bapak Buya Hamka), K.H. Hasan Asyari Bawean, K.H. Najihun Mauk Tangerang, KH. Abdul Ghaffar Serang, KH. Ilyas Serang, KH. Wasyid – Pejuang Geger Cilegon 1888, KH. Tubagus Ismail – Pejuang Geger Cilegon 1888, K.H. Arsyad Qashir al-Bantani – Pejuang Geger Cilegon 1888, KH. Abdurrahman – Pejuang Geger Cilegon 1888, KH. Haris – Pejuang Geger Cilegon 1888, KH. Aqib – Pejuang Geger Cilegon 1888.

Para ulama abad ke-18 membangun Pondok Pesantren dengan corak fiqih-tasawuf, bahwa nilai-nilai syariat dan spiritual Islam menjadi satu kesatuan dalam pengajaran di Pesantren se-Nusantara, dan mata rantai keilmuan (sanad) para ulamanya juga terjaga. Tradisi lama yang dilestarikan oleh walisongo juga masih dijalankan oleh muslim Nusantara. Berbeda dengan Mekkah-Madinah setelah masuk paham Wahabi, corak fiqih-tasawuf menjadi tersingkir, berubah menjadi Islam yang puritan. Ulama yang menjalankan Ahlusunnah wal Jamaah dikucilkan dan situs-situs keramat dipugar atau ada yang dimusnahkan.

Islam Nusantara bukanlah konsep pemecah belah umat, tapi sebuah bentuk manifestasi kehidupan Islam di Nusantara, dimana Islam disebarkan dengan sikap toleransi terhadap budaya, bahkan justru Islam menjadi diperkaya oleh budaya Nusantara. Situs-situs keramat peninggalan para wali tetap dilestarikan, bahkan situs Hindu-Budha seperti Candi juga dirawat dengan baik. Inilah Islam Nusantara yang toleran, moderat, tidak ekstrim, dan tidak radikal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here