Masih Mbah Mangli adalah Hasan Askari, beliau lahir pada tahun 1926 di Jepara, salah satu daerah pesisir utara Jawa Tengah. Beliau tidak pernah memberitahukan kepada siapapun bahkan kepada sahabat maupun pengawalnya tentang garis silsilah dan latar belakang pendidikannya. Dia terkenal dengan sebutan Mbah Mangli karena pesantren yang terletak di sebuah Dusun kecil bernama Mangli desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Magelang, sekitar 15 KM arah barat laut Tegalrejo, daerah ini terletak di lereng Barat Gunung Somawana yang memiliki ketinggian 1500 meter diatas permukaan laut. Dari halaman depan Pesantren Mangli seseorang dapat melihat tidak hanya Kota Magelang tapi juga hampir seluruh area Kabupaten Magelang yang dilingkari pegunungan hijau pemandangan sangat indah yang tak mudah terlupakan.

Mbah Mangli tinggal di pesantrennya hanya pada hari Minggu ketika beliau menyampaikan pengajian rutin mingguan kepada ratusan orang yang datang dari berbagai daerah di Jawa. Setelah memberikan pengajian antara pukul 09.00 pagi sampai jam 12.00 siang, beliau memimpin shalat dzuhur berjamaah kemudian menerima tamu dan setelah itu meninggalkan Mangli dengan Jeep menuju tempat lain. Bahkan para pembantunya pun tidak tahu ke mana beliau pergi karena beliau memiliki beberapa rumah di Blabak, Kudus, Jakarta, dan Surabaya. Ini dikarenakan meskipun beliau terkenal sebagai wali, akan tetapi pekerjaannya adalah pekerjaan dunia, beliau dikenal sebagai pedagang tembakau dan berlian di samping juga memiliki sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum atau pom bensin, karena sibuk dengan urusan bisnis beliau mempercayakan pesantrennya kepada menantunya yaitu Munir.

Professor Doktor Bambang pranowo terkejut mendapati peserta pengajian yang datang dari berbagai daerah yang sangat jauh seperti dari Jawa Timur dan Jawa Barat, yang sudah barang tentu yang paling banyak berasal dari Jawa Tengah.Terlihat dari plat nomor polisi kendaraan, para pengunjung misalnya P untuk daerah Besuki Jawa Timur, E untuk daerah Cirebon Jawa Barat, R untuk daerah Banyumas Jawa Tengah dan lain-lain.

Pengasuh Pesantren Jatipurwo dikatakan telah menganggap Mbah Mangli seperti anaknya sendiri, akan tetapi tidak satupun sahabat atau santrinya mengetahui nama orang tuanya Mbah Mangli, ketika ditanya hal ini bahwa Allah selalu menjawab saya ini adalah orang yang tertiup angin.

Praptono mahasiswa drop out dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan salah seorang pengawal Mbah Mangli di Jakarta mengatakan kepada Bambang pranowo, bahwa ayah Mbah Mangli adalah laki-laki sholeh dari Jepara yang di usianya yang ke 60 tidak juga dikarunia anak. Dia kemudian berjanji jika Tuhan memberikannya Putra dia akan tinggal di Mekah hingga putranya bisa berjalan. Ibunya sudah berusia 40 tahun ketika mengandung selama masa kehamilan, ibunya rajin membaca shalawat, bahkan tidak berbicara kecuali hanya melantunkannya. Setelah lahir yang kemudian diberi nama Hasan Askari ayahnya Pergi Ke Mekah dan tinggal di sana selama 2 tahun, ibunya meninggal saat Hasan Askari baru berusia 5 tahun, sedangkan ayahnya meninggal ketika dia berusaha berusia 8 tahun. Anak yatim piatu itu kemudian pergi dari satu pesantren ke pesantren lain, tempat dia bekerja sebagai Abdi dalem sambil belajar ilmu agama, menurut informasi yang ia pernah belajar di Jombang, Madura, Malang di daerah Jawa Timur, serta Grabag, dan Sokaraja di Jawa Tengah. Antara tahun 1952 tinggal di pesantren kleteran Grabag yang pada saat itu diasuh oleh Kyai Rahmat.

Karomah Mbah Mangli sangat terkenal di masyarakat, karena suatu hari ketika penduduk desa datang berbondong-bondong untuk menghadiri pengajian Mbah Mangli, seorang perempuan dari Desa Candisari datang bersama dengan penduduk desanya berkata “aku ingin foto dengan Mbah Mangli.” Lalu Mbah Mangli mendekati perempuan tersebut dan berkata, “kamu datang ke sini hanya untuk melihatku bukan untuk ngaji kan? kalau begitu pulang lah sekarang, karena aku bukan pertunjukan,” karena terkejut dan takut perempuan itu hanya bisa berkata Maafkan saya Kyai Maafkan saya Kyai.

Sonhadji seorang sarjana ekonomi juga mantan direktur perusahaan negara yang di Jakarta menceritakan pengalaman luar biasanya dengan Mbah Mangli suatu hari di tahun 1973 dengan ditemani sahabat-sahabatnya ke Mbah Mangli untuk yang pertama kali, saat mencapai Mangli, hari itu sudah larut malam dan cuaca begitu dingin. Karena memang belum makan malam, kemudian sonhadji berkata betapa nikmatnya makan ayam goreng Mbok berek dalam cuaca dingin seperti ini. Kami sangat terkejut ketika memasuki rumah Mbah Mangli kami disuguhi hidangan yang serupa dengan ayam mbok berek restoran yang terkenal Ayam gorengnya di Prambanan. Kami mulai percaya Mbah Mangli mempunyai kemampuan membaca pikiran orang lain dan melakukan hal-hal ajaib seperti cerita orang-orang.

Menteri Agama Republik Indonesia Kyai Haji Saifudin Zuhri menceritakan pengalamannya tahun 1975. Beliau menunggu penerbangan ke Jakarta di bandara Semarang, tanpa diduga bertemu dengan Mbah Mangli yang baru saja tiba di Jakarta, sebelum meninggalkan bandara Kyai Haji Saifuddin Zuhri sangat terkejut karena Mbah Mangli memberikan uang sebesar Rp70.000 kepadanya. Sesampai di rumah Ia menceritakan kejadian ini kepada istri dan anak-anaknya dan berkata betapa kayanya Mbah Mangli ini, darimana ya dia mendapatkan uang sebanyak ini. Tiga hari kemudian ketika beliau duduk di ruang keluarga bersama keluarga, Mbah Mangli mengunjunginya, setelah duduk, ia meletakkan tas pakaian di atas meja lantas mengeluarkan isinya. Sangat terkejut melihatnya mengeluarkan beberapa berlian dari tasnya, lalu Mbah Mangli berkata inilah pekerjaan pencaharian saya, jika Tuhan menurunkan rahmatnya saya pasti bisa mendapatkan uang melalui bisnis ini, harga masing-masingnya adalah 17 juta. Kepada Mbah Mangli, kiai Saifuddin Zuhri mengatakan Maafkan saya Mbah Mangli, saya dosa membicarakan anda.

Sumber: Buku Memahami Islam Jawa karya Bambang Pranowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here