Moh Ibrohim

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia

Kehidupan partai politik di Indonesia akhir-akhir ini mengalami goncangan yang begitu kuat. Kongres luar biasa yang dilakukan partai politik seakan menjadi suatu hal yang biasa terlihat. Yang terbaru, Kongres Luar biasa di Deli Serdang yang diinisiasi mantan kader dari partai Demokrat seperti Marzukie Alie, Johny allen dkk. Kemudian mengusung Moeldoko sebagai calon yang akan menggantikan ketua umum Demokrat saat ini Agus Hartimurti Yudhoyono.

Hingga saat ini konflik antar faksi tersebut masih bergulir, meskipun Kemenkumham telah mengeluarkan keputusannya bahwa partai Demokrat dibawah kepemimpinan AHY adalah yang sah.  Kubu moeldoko saat ini mencoba menyerang kubu AHY melalui kasus Hambalang. Oleh beberapa pihak isu ini akan mengungkit luka lama Demokrat. Menarik untuk disimak bagaimana kelanjutan cerita konflik antar faksi ini kedepannya. Namun akan lebih menarik lagi jika kita melihat dari perspektif politik, siapa yang memiliki kepentingan? Tujuannya untuk apa?

Banyak yang beranggapan bahwa ini merupakan inisiasi dari Moeldoko, ada juga yang menganggap ini adalah kepentingan istana untuk melemahkan partai politik. Ada juga yang menganggap bahwa ini adalah kolusi antara Moeldoko dengan Istana. Kemudian ada yang beranggapan bahwa ini murni kesalah Susilo Bambang Yudhoyono sehingga kekuatan faksi-faksi dalam internal partai Demokrat tidak berkembang.

Pada saat faksi dalam internal partai tidak berkembang maka terjadi konflik antar fiksi. Momen tersebutlah yang mempertemukan faksi oposisi dari SBY dengan kepentingan istana. Untuk apa istana? Dalam rangka melemahkan kekuatan partai. Tujuannya? Tidak lain dan tidak bukan untuk interlocking to maintaince the power pada 2024. Bisa jadi istana memiliki rencana strategis untuk membangun kekuatan untuk pemilu 2024 dibalik fenomena politik di atas.

Melihat fenomena di atas, rasanya perlu untuk membahas bagaimana fenomena ini bisa terjadi? Kenapa partai begitu mudahnya terfragmentasi ? Apakah salah sistem kepartaiannnya? tradisi politiknya? Atau bahkan elit politiknya? Kita bahas satu persatu, mulai dari partai politik di negara demokrasi.

Ilmu politik bicara mengenai demokrasi, demokrasi berbicara mengenai negara modern. Negara modern tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kepartaian, karena negara modern itu bentukan dari partai politik. Namun perlu digaris bawahi partai yang seperti apa yang dapat menjaga demokrasi dan membangun negara yang modern? Tentu kehidupan kepartaian yang sehat.

Lalu kehidupan partai politik yang sehat seperti apa? Yaitu ketika kehidupan parpol tidak dicampuri urusannya oleh kepentingan oligarki. Baik oligarki ekonomi maupun oigarki sosial. Kemudian, adanya kaderisasi yang sehat yang menjunjung tinggi nilai-nilai dalam berkompetisi. Partai politiki berorientasi pada ideology tidak berorientasi pada kepentingan kelompok saja (pragmatis).

Jika kita tarik ke belakang, masa-masa kelam demokrasi kita pada rezim orde baru. kehidupan partai waktu itu (orde baru) betul-betul dikuasai oleh istana. Istana bisa menentukan siaapa yang menjadi ketua di PDI, siapa yang menjadi ketua PPP. Itu merupakan bagian penting dari scenario politik di era orde baru.

Nah apakah pola ini akan terulang kembali pada rezim ini? Dengan adanya Kongres Luar Biasa Demokrat? Kita tidak tahu bagaimana kedepannya semoga saja demokrasi kita akan baik-baik saja. Hal ini bergantung dari sikap yang diambil oleh elit parpol kita.

Kecenderungan elit parpol saat ini tidak ingin berkompetisi secara fair, dengan cara menyingkirkan partai-partai kecil, bagaimana caranya? Dengan threshold, membatasi partai politik kecil untuk ikut berkompetisi. Dengan cara itu parpol yang notabene besar akan mengambil keuntungan dari ketidakikutsertaan dari parpol kecil tersebut.

Regulasi threshold memberatkan seperti harus memiliki kantor 100 persen provinsi dan 50 persen kecamatan. kemudian pertanyaannya? Siapa yang membiayai kantor tesebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah oligarki ekonomi, Hal ini memungkinkan partai politik dikuasai oleh segelintir orang saja. Yang biasa disebut sebagai oligarki politik

Kehidupan partai politik hari ini tidak sehat karena urusan Bandar dan urusan oligarki ekonomi. Oligarki sosial. (tokoh dalam masyarkat). Akhirnya, partai politik ini seperti ada ketakutan ketika tidak berkuasa, makanya sulit membangun oposisi. Partai politik kita hari ini terjebak dalam oligarki politik dan oligarki ekonomi. Karena ada unsur Bandar yang mengatur perpolitikan di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here