Majelis Rasulullah adalah majelis yang didirikan oleh Habib Munzir Al-Musawa pada tahun 1998. Ia awalnya mendirikan majelis pengajian dari rumah ke rumah, sampai tiba ditetapkannya pengajian Senin malam Selasa di Masjid Al-Munawar Pancoran, dan pengajian tersebut dinamai Jaslat al-Ithnayn. Majelis Rasulullah mengikuti konsep majelis Habib Umar bin Hafidz di masjid Jami Tarim Hadramaut, dimana masjid tersebut berada di tengah-tengah lapangan yang dikelilingi pasar.

Majelis Rasulullah juga mengadakan pengajian rutin setiap Kamis malam Jumat di gedung Dalail Khairat, adapun alamatnya adalah di komplek Hankam Cidodol Kebayoran Lama. Gedung Dalail Khairat adalah milik Habib Muhsin bin Idrus Al-Hamid selaku ketua Dewan Syuro Majelis Rasulullah. Ia adalah seorang ulama sekaligus seorang saudagar, dimana hartanya digunakan untuk di jalan dakwah. Jadi, suatu gerakan sosial keagamaan memerlukan pemimpin yang dapat memfasilitasi gerakan mereka, dan Majelis Rasulullah punya sosok Habib Muhsin bin Idrus Al-Hamid.

Pasca Habib Munzir Al-Musawa wafat, Habib Umar bin Hafidz menunjuk Habib Muhsin bin Idrus Al-Hamid sebagai pemegang manajemen organisasi untuk sementara, kemudian terpilihlah Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan sebagai pemimpin Majelis Rasulullah. Habib Ahmad adalah teman seperguruan Habib Munzir Al-Musawa saat belajar di perguruan Darul Musthofa di Tarim Hadramaut. Namun, Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan dalam waktu 1 tahun memutuskan untuk mengundurkan diri. Kemudian, dipilihlah struktur Dewan Guru yang diantaranya adalah Habib Muhammad Bagir bin Yahya, Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi, dan Habib Ja’far bin Muhammad Bagir Al-Attas. Mereka merupakan alumni Darul Musthofa di tarim Hadramaut sebagaimana Habib Munzir Al-Musawa. Dewan Syuro Majelis Rasulullah diantaranya adalah Habib Muhsin bin Idrus Al-Hamid, Habib Nabiel Al-Musawa (kakak kandung Habib Munzir), dan Habib Ahmad Al-Bahar Al Haddar.

Majelis Rasulullah memunculkan framing bahwa mereka adalah majelis pemuda terbesar di dunia. Mayoritas dari jemaah Majelis Rasulullah adalah anak-anak muda, tujuan majelis ini didirikan adalah karena ingin menjadikan kota Jakarta sebagai kota Sayyidina Muhammad Saw. Masyarakat perkotaan yang identik jauh dari agama justru dapat berubah menjadi nuansa yang religius dengan munculnya Majelis Rasulullah. Para pengikut Majelis Rasulullah, apapun profesinya, selalu diajarkan agar mengikuti akhlak dan sunnah dari Nabi Muhammad Saw.

Pada kegiatan pengajian Senin malam Selasa di Masjid Al-Munawar Pancoran Jakarta Selatan, Majelis Rasulullah mengadakan pengajian kitab fiqih, kitab hadis, dan ceramah umum. Pengajian diawali dengan pembacaan surat Yasin dan pembacaan kitab maulid Al-Diya al-Lami karya Habib Umar bin Hafidz. Kitab fiqih yang diajarkan adalah kitab Safinatun Najjah,adapun pengajarnya adalah Habib Ja’far bin Muhammad Bagir Al-Attas. Kitab hadis yang diajarkan adalah kitab Qutuf al-Falihin, adapun pengajarnya adalah Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi, kitab ini merupakan tulisan dari Habib Umar bin Hafidz. Habib Muhammad Bagir bin Yahya memberikan ceramah umum dan memimpin zikir Jalalah (Ya Allah) yang diikuti oleh jemaah. Jadi, Majelis Rasulullah bisa menjadi alternatif pendidikan agama Islam sebagaimana Pesantren, walaupun tidak komprehensif seperti Pesantren. Pembacaan zikir dan shalawat secara berjamaah, menunjukkan bahwa Majelis Rasulullah menonjolkan sisi spiritualitas, dan bisa dikatakan bahwa majelis Rasulullah adalah gerakan sufi perkotaan.

Paham Keagamaan Majelis Rasulullah

Menurut William A. Mirola, peran keyakinan, paham keagamaan, praktek keagamaan, dan adanya pengikut telah memberikan kontribusi gerakan sosial keagamaan untuk melakukan mobilisasi sumber daya. Para aktor gerakan sosial keagamaan menjadikan paham keagamaan sebagai sarana memobilisasi guna mewujudkan visi gerakan. Majelis Rasulullah adalah organisasi gerakan sosial keagamaan yang berpaham keagamaan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, yang berakidah Asyariah dan Maturidiah, fiqih 4 mazhab, dan tarekat Alawiyin. Majelis Rasulullah hanya fokus menjadi majelis zikir dan shalawat, menjauhi anarkis, berdakwah dengan kelembutan, dan bersifat kooperatif dengan pemerintahan. Bisa juga dikatakan, bahwa Majelis Rasulullah merupakan organisasi Islam yang moderat.

Sikap moderat Majelis Rasulullah pernah ditunjukkan Habib Munzir Al-Musawa ketika masih hidup. Ia pernah berbeda pendapat dengan sebagian ormas Islam yang turun ke jalan untuk demonstrasi menuntut pembubaran Ahmadiyah, justru Habib Munzir melarang jemaahnya untuk ikut berdemonstrasi, karena aksi damai ataupun aksi anarkis akan sama-sama menyebabkan perpecahan antar umat Islam. Habib Munzir mengatakan, tugas Majelis Rasulullah mengajak orang mengamalkan syariat, karena masih banyak yang belum paham agama, sedangkan jumlah Ahmadiyah tidak sampai 5% di Indonesia. Dalam acara haul Habib Munzir ke-3, disebutkan bahwa Habib Munzir mendatangi markas Ahmadiyah, mengajak mereka untuk kembali ke ajaran syariat yang benar, namun apabila mereka tidak mau, Habib Munzir tidak akan memaksa.

Saat ramai gerakan solidaritas untuk Palestina, justru Habib Munzir mengatakan bahwa Jakarta adalah medan jihad Majelis Rasulullah, bukan di Palestina. Orang yang mati di Palestina mati syahid, sedangkan di Jakarta banyak orang mati dalam keadaan su’ul khotimah karena narkoba, minuman keras, zina, dan perbuatan maksiat lainnya. Habib Munzir juga menyarankan kepada jemaahnya, kalau ingin memberi bantuan, berikanlah ke Papua, disana banyak yang miskin, banyak juga daerah yang belum tersentuh dakwah Islam. Habib Munzir mengatakan, bahwa saat ia berdakwah ke Papua, dana yang dikeluarkan mencapai 500 juta. Hal ini menunjukkan bahwa Habib Munzir mampu memahami geopolitik, sehingga Majelis Rasulullah tidak tergiring pada opini yang membuat perpecahan.

Habib Munzir juga memiliki sikap toleran dan inklusif, dimana air mineral merk Majelis Rasulullah adalah kerjasama dengan pengusaha non Muslim etnis Cina. Pengusaha tersebut mengatakan, mata air yang didoakan Habib Munzir masih murni 100%, tidak berlumut, tidak berubah, dan sudah diteliti dengan alat. Bahkan ada orang beragama Budha sering sering memberikan hadiah pada Habib Munzir.

Perubahan Majelis Rasulullah Pasca Wafatnya Habib Munzir

Beberapa jemaah yang penulis wawancara mengatakan, bahwa banyak perubahan Majelis Rasulullah yang dirasakan pasca wafatnya Habib Munzir Al-Musawa. Ada beberapa jemaah yang mengatakan bahwa sosok Habib Munzir tidak tergantikan, ada juga yang merasa tidak ada perubahan, dan ada juga yang mengambil hikmah dari wafatnya Habib Munzir Al-Musawa. Perbedaan pandangan ini tidak lepas dari hubungan secara emosional antara mereka dan Habib Munzir Al-Musawa.

Habib Muhammad Al-Kaff mengatakan, setiap orang pasti merasakan perbedaan, banyaknya orang yang mengeluh setelah wafatnya Habib Munzir, mengeluh terhadap kelembutan yang tidak mereka dapatkan lagi. Ada yang mengatakan, tidak ada guru yang mampu mengenalkan tentang betapa lembutnya Nabi Muhammad, tidak ada yang mengenalkan baiknya Allah kepada hamba-Nya seperti Habib Munzir. Mayoritas jemaah Majelis Rasulullah bukan dari kalangan santri, mereka adalah pemuda-pemudi yang sudah mengenal duniawi dan melakukan dosa, tapi Habib Munzir mampu membuat mereka malu melakukan dosa lagi, perbedaannya sangat jauh. Habib Muhammad Al-Kaff mengatakan, ia belajar mondok dari tahun 1998 dengan Habib Munzir, dan Habib Munzir mengetahui tingkah laku muridnya.. Kita semua dimanja bagaikan anak sendiri. Habib Munzir sering bertanya ke santri, pertanyaanya adalah “bagaimana hatimu dengan Rasulullah?” Pertanyaan tersebut selalu ditanyakan ke santri setiap bertemu, dan santri tersebut akan terdiam lalu menangis.

Ada juga jemaah yang mengatakan, bahwa dari segi keilmuan, Dewan Guru pengganti Habib Munzir juga sama baiknya, karena mereka belajarnya juga dengan Habib Umar bin Hafidz. Namun, Habib Munzir Al-Musawa berdakwah sampai ke Papua. Tekad yang kuat dan berdakwah tanpa mengenal lelah membuat Habib Munzir tidak tertandingi kiprahnya sebagai ulama sekaligus pelayan umat.

Habib Muhammad Al-Kaff mengatakan, bahwa Habib Munzir Al-Musawa semasa hidup tidak menggalang dana dengan meminta pada jemaah, tapi lebih menekankan pada jemaah untuk lebih condong kepada pelajarannya. Untuk penggalangan dana melalui tromol, dimana uang yang terkumpul akan dilarikan ke dakwah, seperti saat berangkat ke Papua, Jawa, ataupun luar Jawa. Ada juga Kios Nabawi, dimana mereka ingin khidmah pada majelis, dimana penjualan Kios Nabawi sebagian besar akan diberikan kepada Majelis Rasulullah. Keuntungan dari Kios Nabawi dilarikan ke Markas Majelis Rasulullah yang statusnya kontrakan, dan bahkan Habib Munzir juga tidak memiliki rumah pribadi. Keuntungan Kios Nabawi juga untuk pengadaan mobil pick up, truk, sound system, umbul-umbul, dan pembiayan lainnya.

Habib Muhammad Al-Kaff juga mengungkapkan rahasia kepada penulis, bahwa banyak orang yang ditampung oleh Habib Munzir, ada yang biaya kuliahnya ditanggung sampai selesai, anak sekolah yang dibiayai sampai lulus, banyak juga uang dari belasan juta hingga puluhan juta dari Habib Munzir untuk diberikan kepada fakir miskin dan yatim piatu, itu yang diketahui Habib Muhammad Al-Kaff secara pribadi. Habib Munzir pernah uang Rp. 50.000 tidak punya, uangnya habis untuk bayaran kontrakan, kini kontrakannya sudah habis, dan keluarga beliau sudah pindah ke Hadramaut. Tipe pendakwah seperti Habib Munzir agak sulit kita temukan, karena kita sering melihat ustadz yang berceramah dengan memasang tarif, dan hidup dalam fasilitas kemewahan.

Dakwah Majelis Rasulullah tetap berjalan walaupun Habib Muznir telah wafat, bahkan cabang-cabang Majelis Rasulullah sudah menyebar ke seluruh Indonesia dan juga luar Negeri. Perubahan ini juga bersifat positif, namun memang figur kharismatik Habib Munzir juga perlu terus dimunculkan, guna mengingatkan kepada para jemaah, bahwa meneruskan dakwah Majelis Rasulullah adalah bentuk sikap berbakti kepada Habib Munzir selaku guru mereka. Mengambil alih tongkat estafet dakwah Habib Munzir adalah bentuk kecintaan pada beliau, dan seseorang pada hari kiamat akan dibangkitkan bersama yang dicintainya.

Adriansyah (Penulis buku Majelis Rasulullah: Religiusitas Perkotaan dan Moderasi Dakwah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here