Bicara soal kampus tidak akan menarik jika tidak dibumbui dengan antropologinya. Disini saya akan membahas sebuah bahasan menarik tentang antropologi kampus. Mengapa saya bilang menarik? karena dilihat dari sisi empiris dari ratusan bahkan ribuan mahasiswa Dewasa ini, awam prihal kampusnya sendiri. Itulah yang menyebabkan antropologi kampus sangat penting untuk dibahas dan didiskusikan.

Dewasa ini, kampus yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi mahasiswa dalam menggali ilmu pengtahuan dan memperluas gagasan seolah sudah bergeser makna menjadi tempat yang sangat menyeramkan. Secara tidak langsung, mahasiswa banyak yang dituntut untuk bersaing mengejar IPK dengan prasyarat yang diberikan oleh dosen. Semata-mata yang dicari oleh mahasiswa saat ini hanya nilai, nilai, dan nilai. Karena mungkin nilai sudah menjadi lambang kesejahteraan bagi mahasiswa saat ini, bahkan mirisnya dimata mahasiswa saat ini nilai seolah sudah setara dengan Tuhan, selalu dicari-cari kapanpun, dimanapun, atau bagaimanapun caranya. Artinya, mahasiswa saat ini lebih takut tidak dapat nilai ketimbang harus menegakkan kemanusiaan dan keadilan. Mahasiswa saat ini lebih takut IPK-nya kecil daripada ikut campur terhadap hal-hal yang berkaitan tentang kemanusiaan, bahkan mirisnya mahasiswa saat ini lebih takut tidak dapat nilai ketimbang harus panas-panasan turun kejalan memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas, terintimidasi, bahkan terinjak-injak. Lalu dimanakah taring mahasiswa saat ini? Apakah kebijakan-kebijakan kampus yang ada saat ini sudah menumpulkan tajamnya taring mahasiswa? Apakah hanya dengan gertakan dari dosen dalam bentuk ancaman tidak mendapatkan nilai sudah membuat ciut nyali mahasiswa saat ini untuk melawan ketimpangan? Jawabannya ada pada hati nurani kita sendiri selaku mahasiswa. Maka dengan itu, mengetahui antropologi kampus akan membuka mata hati mahasiswa untuk lebih tajam lagi dalam menatap keadaan dan ketimpangan, dan akan lebih terasah lagi dalam melihat kebijakan yang semata hanya kepentingan elit-elit kampus.

Pada setiap dekade, keadaan kampus tidak dalam kondisi yang stagnan, selalu berubah-ubah setiap masanya. Kita bisa tinjau kisaran dua dekade kebelakang, pada era gerakan 98 dimana mahasiswa sangat berperan penting dalam memperjuangkan reformasi. Artinya, ruang gerak mahasiswa pada saat itu belum dibatasi oleh kebijakan kebijakan kampus yang absolut. Justru saat ini ruang gerak mahasiswa didalam kampus serasa dibatasi dan kesemangatan gerakan mahasiswa era kekinian seolah makin jauh dari cita-cita agenda reformasi. Mantan seorang aktivis 98 Muhammad Agus Humaidi menyatakan bahwa; semangat mahasiswa era kekinian semakin memudar ditengah padatnya jadwal kuliah dan rutinitas kampus. Ia meninjau ada beberapa faktor yang memicu pudarnya gerakan mahasiswa era milenial, yaitu beban mata kuliah semakin banyak, kebijakan-kebijakan kampus yang tidak bijak, tuntutan orang tua agar dapat IPK tinggi, cepet lulus, dan pudarnya budaya diskusi. Coba kita bayangkan, satu dekade lalu, kurikulum Strata-1 itu sekitar 140 SKS. Tapi kini pemerintah menetapkan 155 SKS untuk meraih gelar S1. Artinya, ruang gerak mahasiswa semakin kesini semakin dibatasi. Pertanyaannya, kapan kita ingin melawan?

Kepekaan mahasiswa terhadap kondisi kampus dan keadaan sosial masyarakat saat ini harus kembali diasah lebih tajam lagi agar peran mahasiswa sebagai agent of change dan agent of social control benar-benar terwujud dalam bentuk aktual dan mampu mengantarkan mahasiswa kembali dalam wujud yang sesungguhnya. Jangan mau dibutakan oleh keadaan, jangan menjadi mahasiswa yang terlelap dan nyaman dengan ketimpangan. Tugas utama mahasiswa adalah memaknai perubahan sebagai bentuk pergerakan mahasiswa yang tidak pernah mati.

Apakah nasib kita terus akan sama seperti sepeda rongsokan karatan itu?
Oh, tidak dik!
Waktu yang bijak bestarikan sudah mengajari kita bagaimana menghadapi derita.

Kitalah yang akan memberi senyuman kepada masa depan.
Jangan menyerahkan diri pada ketakutan, kita akan terus bergulat!!!
(Widji Thukul)

LINGKAR STUDI CIPUTAT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here