Banyak perspektif yang diambil orang tentang Gus Dur. Menurut bu Lily Wahid, memang pemikiran Gus Dur itu multidimensi, kita nggak bisa melihat pada satu dimensi saja, harus menyeluruh.

“Gus Dur berangkat ke Mesir Tahun 1963. Ia meninggalkan Indonesia itu sesungguhnya memang untuk belajar ngaji kalau kata Ibu saya dulu. Belajar di al-Azhar itu untuk mengaji,tetapi yang didapat justru ternyata itu tadi sangat multidimensi. Gus Dur belajar bermacam-macam hal dan sampai pun Kepada beliau itu habis masa tinggalnya di Mesir. Dari Mesir dia memilih ke Baghda,”ujar Lily Wahid kepada Forum diskusi The Gus Dur Code yang diadakan Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW).

Saat kuliah di Baghdad, saat itu masa Saddam Hussein dan Gus Dur itu sangat simpati dan jadi partisan.

Pemikiran-pemikiran partainya Saddam Husein membuat kecenderungan Gus Dur itu untuk berpikir kiri sosialistis. Rentang rentang pemikiran Gus Dur itu begitu luasnya.

“Dulu sebelum zamannya Gus Dur, orang melihat Pesantren itu Nggak nengok, sebelah mata sama santri, tetapi Gus Dur sudah membuktikan bahwa keluaran Pesantren pun bisa diterima di dunia internasional. Orang berubah pikirannya tentang Pesantren, tinggal santri-santrinya sendirilah yang bagaimana mereka itu menempa dirinya untuk menjadi tidak sekedar disebut santri itu ilmu agama tetapi dia juga memiliki keahlian di bidang-bidang lain,”Jelasnya.

Salah satu yang paling paling menarik dari Gus Dur itu adalah dia tidak meninggalkan masa lalu untuk menjemput masa depan, tetapi bagaimana menjembatani antara masa lalu dengan masa depan ini nyambung. Perjalanan itu dalam satu rentang waktu yang panjang. tetapi mempunyai pemikiran yang tersambung salah satu orang yang dikagumi oleh Gus Dur itu.

Gus Dur itu adalah Bapak pluralisme itu sudah diawali dari sebelum kemerdekaan, bahwa NU itu membuka umat Islam itu membuka pintu selebar-lebarnya kepada umat-umat lain untuk bergabung di dalam negara Republik Indonesia, dan mengapa negara Republik Indonesia ini tidak berbentuk Islam karena dalam kajiannya para pendiri bangsa kita ini menganggap yang paling tepat itu adalah negara demokrasi. Agama diserahkan kepada masing-masing individu bukan berarti bahwa itu sekuler memisahkan antara agama dengan kehidupan berbangsa.

“Jadi kalau dikatakan Gus Dur itu bapak pluralisme karena Gus Dur itu meneruskan Para founding fathers,”tegasnya.

Lily Wahid juga mengatakan bahwa pemikiran ekonomi Gus Dur itu sosialis, karena memang Islam itu sosialis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here