Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah adalah salah satu tarekat terbesar di Indonesia. Nahdlatul Ulama memiliki Jamiyah Ath-Thoriqoh Al-Mu’tabarah, karena banyak Kyai NU yang menjadi pemimpin tarekat.

Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah berkembang di Jawa Barat tepatnya di Suryalaya Tasikmalaya, pimpinan Abah Anom. Di Jombang ada Kyai Romli anak Kyai Kholil Bangkalan Madura. Juga ada Syekh Abdul Karim pamannya Syekh Nawawi Al-Bantani yang muridnya ada di Purworejo dan Semarang. Walaupun Syekh Abdul Karim orang Banten, tapi tarekatnya justru berkembang di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Gerakan tarekat untuk pembersihan hati dan untuk membela tanah air. Snouck Hungronje pernah belajar di Mekkah, belajar dengan Syekh Nawawi, kata Snouck bahwa pemberontakan di Indonesia terhadap Belanda adalah karena banyak ulama belajar tarekat yang bermukim di Mekkah dan membawanya ke Indonesia, lalu melahirkan ulama-ulama yang berjuang melawan Belanda.

KH. Ma’ruf Amin mengatakan, Indonesia sudah merdeka tapi belum berarti terbebas dari bahaya, salah satunya muncul aliran-aliran sesat yang berasal dari luar. Maka, gerakan tarekat saat ini adalah dengan menjaga umat dari paham-paham menyimpang, seperti cara pikir sekuler yang diadopsi dari Barat, atau kelompok radikal yang tekstual yang mengatakan Pancasila adalah thagut. Islam tekstual dan kelompok sekuler tekstual tidak memiliki kompromi.

Kelompok tekstual sering mengatakan kelompok yang tidak sesuai teks al-Quran dan Hadits maka dianggap bid’ah, sehingga mereka mengatakan kelompok tarekat dan tradisi warga NU itu bid’ah. Padahal syariat paling banyak dari ijtihad para ulama daripada dari nash, karena syariat harus memberikan solusi terhadap semua masalah, dan tidak statis. Kyai Ma’ruf Amin mengatakan, statis terhadap teks saja selamanya itu kesesatan terhadap agama, karena itu bentuk ketidakmengertian terhadap maksud ulama-ulama terdahulu.

Cara berpikir yang perlu dibangun adalah cara berpikir moderat, yaitu tidak tekstual yang jumud, dan tidak liberal. Seperti kelompok liberal yang menolak menikah lebih dari satu, padahal itu diperbolehkan, jadi kelompok liberal berpikir jika ayat tidak sesuai dengan kemaslahatan mereka maka harus diamandemen.

Kelompok tekstual tidak toleran selalu dan menghujat kelompok yang tidak sepaham, bahkan ada yang menggunakan cara kekerasan dan teror. Kecenderungan mereka pada sikap intoleran.

Kelompok ulama moderat berdakwah dengan kesantunan, tidak mengintimidasi, tidak egois, tidak fanatik, dan bersikap toleran.

Kita harus toleran terhadap perbedaan, karena di Islam ada ijtihad dimana ada ruang untuk perbedaan. Namun, penyimpangan akidah tidak bisa ditoleran, seperti paham yang mengatakan ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Perbedaan khilafiah boleh saling toleran, perbedaan agama boleh saling toleran.

Tantangan tarekat juga pada masalah rusaknya akhlak masyarakat, karena ekspresi dan pemikiran yang tidak baik muncul karena jiwanya tidak baik. Peran tarekat untuk membersihkan diri dari sifat tercela dan mengisinya dengan sifat baik. Ada orang yang sekedar menghiasi lahiriah dan ada yang hanya menyucikan hati.

Ada orang yang puasa tujuannya untuk dapat ilmu kanuragan, ada yang hanya sibuk membersihkan hati, ternyata yang sibuk membersihkan hati justru karomahnya lebih besar.

Orang-orang rasional yang tekstual tidak mempercayai masalah karomah atau mukasyafah. Misalnya seperti Syekh Jallaluddin Ash-Suyuthi pernah bertemu Rasulullah SAW disaat terjaga, dan hal ini adalah pengalaman spiritual. Imam Al-Ghazali punya amalan dari Nabi Khidir untuk bertemu Rasulullah SAW, dan amalan seperti ini diperbolehkan. Kita hanya tidak boleh mengamalkan sesuatu yang menabrak masalah pokok dari syariat.

Ahlusunnah wal Jamaah adalah cara berpikir dalam memahami nash yang mengikuti Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya. Cara berpikir inilah yang melahirkan ulama fiqih dan ulama tarekat. Maka tantangan tarekat saat ini adalah melakukan kaderisasi ulama fiqih dan mursyid tarekat, sehingga tidak muncul orang yang berfatwa tanpa ilmu.

Ceramah Kyai Ma’ruf Amin di TQN Korwil DKI Jakarta, Masjid Al-Mubarak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here