Dalam acara E-Talkshow TV One, KH.Said Aqil Siradj ditanya soal khittah NU dan pencalonan KH.Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi. Inilah jawaban beliau:

Oleh para ulama terutama Hadratusyaikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari kakeknya Gus Dur, memang NU tujuannya adalah untuk memperkuat ukhuwah islamiyah/persaudaraan sesama umat Islam, ukhuwah Wathoniyah/persaudaraan sebangsa setanah air, ukhuwah insaniyah/persaudaraan umat manusia, berangkat dari prinsip tawasuth dan tasamuh, bersikap moderat dan toleran, NU tidak boleh melupakan itu.

Dalam perjalanan NU, dinamika perjalanan pernah menjadi partai politik, pada Pemilu tahun 55 dan tahun 71 di zaman orde baru, setelah itu tahun 84 ternyata kyai-kyai punya sikap dan tegas agar kembali lagi ke khittah.

Sikapnya sudah kembali ke khittah, yaitu lepas dari urusan politik praktis, tinggal politik kebangsaan, artinya yang kita pentingkan, yang kita utamakan, ada keutuhan keselamatan ke NKRI. Kedua, berpolitik praktis adalah hak setiap warga bangsa Indonesia, memilih partai apapun atau memilih tokoh siapa pun. Kebetulan,diantara calon yang akan maju, wakil Presiden berpasangan dengan Pak Jokowi, salah seorang tokoh Nahdlatul Ulama yang sudah tidak asing lagi, yaitu Kyai Haji Profesor Doktor Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU

Namun demikian,semua kembali kepada nurani masing-masing, kepada ketulusan masing-masing. Kalau cawapres kita orang NU, pasti kita akan terpanggil, bukan saya yang giring, tapi terpanggil.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here