Kyai Chudori adalah pendiri Pesantren Tegalrejo. Pesantren tersebut didirikan pada 15 Desember 1944. Kyai Chudori bukan dari keluarga Kyai, melainkan seorang priyayi, ayahnya bernama Ihsan. Di Tegalrejo di bawah kekuasaan pemerintahan Belanda, kakeknya Abdul Halim juga seorang penghulu yang mengatur urusan-urusan keagamaan di Kabupaten Magelang, mencakup Kecamatan Candimulyo, Mertoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo ketika masih berada di bawah kekuasaan Belanda penghulu merupakan jabatan yang tinggi bagi orang Indonesia, oleh karena itu seorang penghulu dan keluarganya dihormati sebagai priyayi

Ibunya bernama Mujrah adalah anak Kartodiwiryo yang merupakan Lurah Kali Tengah dekat Muntilan. Meskipun seorang priyai, Ayah Kyai Chudori tetap ingin salah seorang anaknya menjadi seorang Kyai. Tegalrejo bukan kota yang terlalu religius, mendorongnya untuk melakukan sesuatu bagi para warga yang lain. Pada tahun 1923 setelah Kyai Chudori menyelesaikan studinya di HIS, ia dikirim ayahnya untuk belajar ke Pesantren Payaman, sebuah pesantren terkenal di Kabupaten Magelang yang dipimpin Kyai Haji Siroj. Disana ia menuntut ilmu selama 2 tahun dan menjadi apa yang digambarkan sebagai santri Kelana, pindah dari satu Pesantren ke Pesantren lainnya suatu hal yang lumrah dalam tradisi Pesantren. Ia ingin menguasai berbagai cabang ilmu, ilmu Islam dimanapun ilmu itu diajarkan, pengembaraan adalah suatu hal yang penting.

Pesantren Koripan dipimpin oleh Kyai Abdan, dari sana kemudian Kyai Chudori pindah untuk belajar di pesantren Kyai Rahmat di Grabag hingga tahun 1928, setelah menguasai beberapa kitab khususnya Fathul qarib ia Makin bersemangat dan pindah ke pesantren Tebuireng Jawa Timur, Pesantren paling terkenal kala itu yang dipimpin Kyai Haji Hasyim Asy’ari atau hadratussyekh ( guru dari para guru) pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama atau NU, di Tebuireng Kyai hudori menemukan rumah spiritualnya, ia belajar di sana selama 4 tahun. Kyai Chudori belajar tata bahasa Arab dan kitab-kitab berbahasa Arab seperti Al Jurumiyah, imriti Kaylani Izzi, Nadhom maqsud, Qowaidul i’rab dan Alfiyah. Namun ia masih ingin mengembangkan pengetahuan keagamaannya, oleh karena itu pada 1933 ia pindah ke pesantren Bendo Pare, Jawa Timur, untuk jadi santri Kyai Chozin Munir, di sini ia menguasai fiqih dan mendedikasikan energinya untuk tasawuf, sehingga menguasai kitab paling terkenal dalam bidang tasawuf Ihya Ulumuddin.

Setelah 4 tahun ia pindah ke pesantren Sedayu yang juga ada di Jawa Timur, untuk belajar metode-metode yang berbeda dalam membaca Alquran, hanya butuh 7 bulan baginya untuk melakukan hal itu, sehingga pada tahun 1937 ia pindah lagi ke pesantren terakhirnya, Pesantren Lasem, pesantren yang berlokasi di sudut timur laut Jawa Tengah yang dipimpin oleh dua orang terkenal yaitu Kyai Haji Ma’sum dan Kyai Haji Baidlowi, setelah Kyai Chudori menguasai hampir semua kitab yang diajarkan di sana, ia sering diminta Kyai Baidlowi untuk mengajar santri lainnya di pesantren ini. Bakat kemampuannya sebagai seorang kiai potensial, namun kegiatan belajarnya tetap lebih sedikit dibanding kegiatannya melakukan pelayanan seorang santri kepada kyainya, guna mendapatkan Barokah Kyai dan untuk meyakinkan bahwa di masa yang akan datang pengetahuan yang telah ia dapatkan akan tetap terpatri kuat secara spiritual dan akademis.

Setelah membaca Kitab Imam Al Ghazali, Kyai Chudori melakukan usaha-usaha nyata untuk mempraktikkan sufisme, oleh karena itu kehidupan sehari-harinya dipenuhi dengan latihan-latihan mistik, termasuk berbagai bentuk puasa, salat malam, membaca al-Quran, dan zikir. Ini semua dilakukannya ketika masih belajar di pesantren Bendo.

Kyai Chudlori menikah dengan anak seorang Kyai terkenal di Magelang, Kyai Dalhar pemimpin Pesantren watucongol, namun pada tahun 1937 ketika ia baru pindah dari pondok pesantren Lasem, ayahnya meninggal dunia, sehingga keluarganya diminta Kyai Dalhar untuk melaksanakan janji pernikahan. Kyai Chudlori menghilang dari Lasem tanpa seorangpun dari keluarganya tahu, seorang kerabat tinggal di Surabaya menemukan Kyai Chudori melakukan uzlah di makam sakral Batu Ampar di pulau Madura, beberapa mil Timur Laut Jawa, ia menghabiskan hampir 2 tahun untuk melaksanakan amalan-amalan mistiknya di makam sakral ini, disanalah ia dijemput keluarganya pada 1949, mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Siti Kunnah yang dijanjikan kepadanya melalui ayahnya.

Setelah menikah, diminta Kyai Dalhar mertuanya untuk menetap dan mengajar di pesantren Kyai Dahlar di watucongol Muntilan. Sebagai seorang menantu, Kyai Chudori terkenal dan sebagai seorang Kyai muda dari sebuah pesantren terkenal dengan posisi yang relatif tinggi, khususnya dalam konteks dunia Pesantren, namun ia tidak puas dengan itu, karena ia ingin memulai sebuah Pesantren milik sendiri di Desa Tegalrejo, keinginan ini tidak didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasional semata, sebelum mengambil keputusan finalnya ia melakukan mujahadah setiap Kamis malam di makam Raden Santri yang berada di puncak bukit Gunung Pring, 2 Km Selatan watucongol untuk memperoleh petunjuk spiritual dan rahmat Tuhan, setelah melakukan mujahadah mingguan selama setahun, pada Jumat dini hari tahun 1943 sekitar pukul jam 03.00 pagi, ia merasa menerima petunjuk yang jelas, bahwa keinginannya diberkati Tuhan malam itu, ketika para peziarah yang mengunjungi makam sakral telah pulang, dan Hasyim santri yang menemani beliau malam itu juga telah mengantuk, sebuah suara berderu mengejutkan datang dari dalam makam, tubuh kiriku dari menggigil dan keringat bercucuran namun hatinya dipenuhi dengan suatu perasaan damai yang luar biasa, menginterpretasikan semua itu sebagai petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala bahwa niatnya untuk membangun sebuah pesantren baru di Tegalrejo direstui. Kemudian membangunkan Hasyim untuk segera pulang, dalam perjalanan pulang ia menceritakan apa yang dialaminya kepada Hasyim, dan memintanya menyampaikan niatnya untuk melaksanakan misi mendirikan Pesantren sendiri, kepada mertuanya yaitu kyai Dalhar pun menyetujui, pada 15 September 1944 Kyai Chudori kembali ke desa asalnya Tegalrejo dan pada hari yang sama Pesantren Tegalrejo secara formal dibangun.

Salah satu santri dari Kyai Chudori mengatakan bahwa Kiai Chudori melakukan segala sesuatu yang membuatnya bisa menanggulangi masalah finansialnya. Ia bahkan pernah mencoba memelihara ayam dan bebek, serta meminta santrinya untuk berdoa sholawat idrak, yaitu sholawat khusus untuk meminta nafkah yang baik dari Allah subhanahu wa ta’ala demi kesuksesan usahanya, usahanya memang sukses besar, hingga beberapa bulan setelah itu ia membeli kambing, dan kurang dari 2 tahun setelah itu ia pun bisa membeli beberapa ekor sapi, Kyai Chudori memerah sendiri susu sapinya dan menjualnya kepada para santri, untuk mengingat masa kemiskinannya, Kyai Chudori menamai putra ketiganya yang lahir pada masa itu dengan Mudrik yang berarti orang yang praktekkan shalawat Idrak, bahkan sekarang sholawat Idrak adalah salah satu doa harian yang dilakukan para santri di Tegalrejo.

Cerita-cerita tentang kesengsaraan dan akhirnya kesuksesan Chudhori melambungkan reputasinya sebagai seorang kyai, berita-berita tentang kekuatan spiritualnya mulai tersebar luas. Sebagaimana yang telah dicatat oleh Profesor Doktor Bambang pranowo, tempat-tempat di Tegalrejo yang diyakini berhantu menjadi aman di bawah usaha spiritualnya, contoh hidup pertobatan Parto Tepus, memperkuat dan memperluas pengaruhnya, akibatnya pesantrennya juga berkembang, bantuan material dan finansial untuk membangun dan memperluas Pesantren mengalir dari desa-desa di sekeliling Tegalrejo, jumlah santri pun mengalami peningkatan lebih dari 400 orang pada tahun 1954 setelah Indonesia merdeka.

Sumber: Buku Memahami Islam Jawa karya Prof.Dr. Bambang Pranowo.

Gus Dur pindah dari Yogyakarta ke Magelang, tepatnya di Pesantren Tegalrejo pada tahun 1957. Di pesantren ini Gus Dur nyantri selama sekitar 2 tahun lebih sedikit, di bawah asuhan KH. Chudlori. Greg Barton menyebut demikian: “Gus Dur membuktikan dirinya sebagai siswa yang berbakat dengan menyelesaikan pelajarannya di bawah asuhan KH. Chudlori selama 2 tahun di Tegalrejo. Kebanyakan siswa lain memerlukan waktu 4 tahun untuk menyelesaikan pelajaran ini. Bahkan di Tegalrejo ini Gus Dur menghabiskan sebagian besar waktunya di luar kelas dengan membaca buku-buku Barat (2003: 50).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here