Suatu ketika Nabi Isa sedang melakukan sebuah perjalanan. Namun dalam perjalanan ini, beliau melihat seorang laki-laki yang sedang menangis di sebuah kuburan. Laki-laki ini tampak memanggil istri yang ia cintai.

Melihat hal aneh ini, akhirnya Nabi Isa menunggu dan bertahan di dekat laki-laki itu. Tapi orang ini hanya menoleh sebentar dan kembali sedih. Nabi Isa pun bertanya padanya “wahai saudaraku apa yang membuatmu sedih di depan kubur ini?”

Laki-laki itu menjawab “Aku baru saja ditinggalkan istriku, padahal kami baru menjalankan pernikahan selama dua bulan dan sedang merasakan indahnya pernikahan. Selain itu, aku sedih juga karena Istriku ini tidak hanya cantik, tetapi juga setia”.

Nabi Isa pun memperkenalkan diri bahwa dirinya adalah utusan Allah swt. Ia pun akan menghidupkan kembali istrinya dengan izin Allah swt. Laki-laki itu pun mengatakan “Jika engkau wahai utusan Allah swt, dapat menghidupkan istriku, niscaya aku akan sujud pada-Nya dan semakin rajin ibadah pada-Nya”.

Nabi Isa pun menunjukkan mukjizatnya dalam menghidupkan orang yang telah wafat dan berkata “Yaa Ahlal Qubur, Qumi bizinillah”. (Wahai ahli kubur, bangkitlah dengan izin Allah swt). Tiba-tiba timbul suara menggelegar dan bangkitlah ahlul kubur yang seorang laki-laki dalam kondisi yang mengerikan hitam legam. Kagetlah sang laki-laki sebelumnya dan langsung mengucapkan “Ashadualla ilaa haillallah, wa ashaduanna Isa Rasulullah”.
Lalu Nabi Isa bertanya pada laki-laki itu bahwa apakah dia istrimu. Orang itu menjawab, dia bukan istrinya.

Kemudian Nabi Isa bertanya kepada ahlul kubur yang baru bangkit, “siapakah engkau sebenarnya?”. Ahlul Qubur yang dibangkitkan kembali oleh Nabi Isa itu menjawab “Dahulu aku adalah seorang pembunuh dan pemerkosa yang mati kafir, tapi kini aku telah beriman padamu Wahai Isa”. Sesaat kemudian ia kembali mati dalam keadaan beriman kepada Nabi Isa, yang sebelumnya mati kufur.

Karena kesalahan dalam menunjukkan kuburan istrinya. Ia pun kembali mencari yang benar. Setelah ia merasa yakin telah menemukan kuburan istrinya itu, ia pun kembali meminta kepada Nabi Isa untuk memperlihatkan mukjizatnya. Nabi Isa kembali berkata “Yaa Ahlal Qubur, Qumi Bizinillah”.

Lalu bangkit seorang perempuan cantik. Sang laki-laki tadi langsung memeluknya karena begitu rindunya terhadap istrinya tersebut. Setelah berterima kasih kepada Nabi Isa dan berpisah dengannya. Ia pun pulang bersama istrinya ke rumah dan bermesraan di tempat tidurnya meluapkan rasa rindu. Namun tak terasa sang laki-laki pun tertidur.

Di luar terdengar langkah gemuruh kuda. Ternyata rombongan pangeran yang rupawan dan gagah dari anak raja pada masa itu lewat. Istri dari suami tadi melihatnya dari jendela kamar dan merasa terpesona. Begitupun dengan pangeran melihat kecantikan perempuan itu. Akhirnya timbullah saling pandangan maksiat yang haram. Istri dari suami tadipun pergi menuju ke pangeran.

Karena suami duduk di pangkuan istri, maka perginya sang istri membangunkannya. Ia pun melihat istrinya kabur dengan seorang pangeran dan berkata “penculik” lalu mengejarnya. Setelah berhasil mengejarnya, terjadilah keributan antara pangeran dengan suami tersebut. Lalu pangeran itu berkata “Biarlah perempuan ini memilih, pilih engkau yang katanya sebagai suaminya, atau pilih diriku”.

Mendengar penuturan pangeran itu, sang suami merasa senang, karena ia yakin istrinya akan pilih dirinya. Namun alangkah terkejutnya, istrinya menjawab “aku bukan suaminya, aku belum pernah menikah, dan aku masih gadis”. Kebetulan datanglah Nabi Isa dan bertanya apa permasalahan yang sedang terjadi.

Suami tadi berkata ke Nabi Isa bahwa Istrinya yang tadi dibangkitkan oleh Nabi Isa, kini tidak mengakuinya sebagai suami. Akhirnya Nabi Isa mencoba menengahi dan berkata ke perempuan itu “Jika engkau bukan istrinya, niscaya engkau akan bahagia bersama pangeran ini. Namun jika engkau memang istrinya, maka engkau akan wafat”. Tak lama dari perkataan Nabi Isa itu, sang istripun wafat. Bedanya sekarang ia wafat dalam keadaan durhaka terhadap suami dan maksiat kepada Allah swt.

Godaan bagi suami dan istri

Kisah di atas merupakan kisah yang dapat diambil pelajaran bahwa seorang istri yang cantik dapat tergoda dengan laki-laki lain yang rupawan dan hartawan daripada suaminya yang sah dalam ikatan pernikahan. Padahal sang suami sangat menyayanginya. Pelajaran yang diambil lainnya adalah dapat dianalogikan bahwa sang suami sudah memberikan nafkah yang terbaik buat istrinya, tapi sang istri justru tidak bersyukur dan tidak berterima kasih pada suaminya. Maka jadilah istri durhaka.

Pun demikian juga bagi suami, ia juga dapat tergoda terhadap perempuan yang lebih cantik daripada istrinya. Sehingga sang suami juga berpeluang jadi suami yang durhaka. Durhaka ini karena tidak menafkahi istrinya dan sikapnya tidak beretika. Intinya godaan-godaan seperti harta tahta dan wanita bagi laki-laki serta laki-laki untuk perempuan dapat menjadikan seseorang terjerumus ke dalam jalan maksiat.

Maka godaan ini tidak akan terpengaruh bagi pasangan suami yang sholih dan istri yang sholihah yang dilandasi keimanan kepada Allah swt yang sangat kuat. Dimana mereka masing-masing memperhatikan hak dan kewajibannya baik sebagai suami maupun istri. Mereka juga selalu sabar akan ujian dalam pernikahannya.

Suami sadar kewajibannya adalah menafkahi lahir batin sang istri dan anaknya serta haknya mendapatkan pelayanan dari sang istri. Istri pun sadar kewajibannya berbakti pada suami dan haknya mendapatkan nafkah lahir batin darinya. Apalagi bagi istri, ia juga tahu bahwa ridhonya Allah swt terletak pada suaminya.

Suami istri juga menyadari bahwa pasangannya memiliki kekurangan masing-masing, tetapi tetap menerima kekurangan itu. Mereka juga akan saling memperkuat dan mendukung pasangannya saat ada ujian dalam pernikahannya. Sehingga mereka tidak akan goyah dengan berbagai godaan dan selalu sabar dalam mengarungi bahtera rumah tangga karena dilandasi iman yang kuat kepada Allah swt.

Maka dari itu benarlah yang dikatakan oleh Nabi saw bahwa jika seorang laki-laki ingin memilih seorang perempuan untuk menjadi istrinya, maka pilihan yang paling baik dan utama adalah karena agamanya. Meskipun juga ada pilihan karena cantik, keturunan dan harta.

Karena dengan fondasi agama Islam yang kuat, baik yang dimiliki sang istri maupun suami, niscaya mereka akan memegang teguh tali pernikahan, meski telah mendapatkan berbagai permasalahan dalam rumah tangga. Karena mereka tahu bahwa pernikahan tersebut semata-mata hanya untuk menggapai Ridho Allah swt dan menjalankan sunnah Rasulullah saw.

Oleh Labib Syarief

Sumber : Kisah di atas didapatkan dari buku Merajut Benang Cinta Perkawinan, namun disampaikan dengan gaya penulis sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here